Breaking News:

Debit Air Danau Toba Turun 15 Sentimeter, Rekayasa Cuaca Pakai CoSAT 1000 Dilakukan

Debit air Danau Toba mengalami penurunan hingga 15 sentimeter. Nantinya, pihak terkait akan melakukan rekayasa cuaca

Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Array A Argus
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Tim dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), dan TNI AU menyiapkan kontainer berbentuk corong berisi garam untuk disemai ke dalam awan hujan di pesawat Hercules, di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta Timur, Selasa (14/1/2014). Pemprov DKI Jakarta bekerjasama dengan BPNB, BPPT, dan TNI AU melakukan rekayasa cuaca atau teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mengurangi dampak banjir yang terjadi di Jakarta akibat curah hujan yang tinggi. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUN-MEDAN.COM,TOBA - Sejak September 2021 kemarin, debit air Danau Toba menurun hingga 15 sentimeter.

Penyebabnya, bisa karena beragam hal, termasuk faktor cuaca. 

Menurut Dwipa Wirawan, Koordinator Lapangan Perekayasa Pengelolaan TMC Badan Riset dan Inovasi Nasional, nantinya mereka bersama pihak terkait akan melakukan rekayasa cuaca.

Rekayasa cuaca ini kebetulan sudah mendapat izin dari pemerintah daerah, khususnya Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi. 

Baca juga: Liang Sipogu, Terowongan di Tepi Danau Toba, Dulu Jadi Tempat Bersembunyi Saat Melawan Belanda

"Sudah mendapat izin Gubernur Sumut, dan sudah berkoordinasi dengan Bupati Kabupaten Toba. Dari pihak user PT Inalum akan membatasi kegiatan rekayasa cuaca apabila terjadi aliran masuk (inflow) sebesar 600 meter kubik per detik selama tiga hari berturut-turut," kata Dwipa, Kamis (21/10/2021).

Dwipa menerangkan, pelaksanaan rekayasa cuaca ini sudah masuk periode kedua.

"Periode kedua rekayasa cuaca dilakukan sejak 15 Oktober hingga 30 hari kedepan," terangnya. 

Dalam melakukan rekayasa cuaca di Danau Toba, pihaknya tidak lagi menggunakan bahan semai micro powder NaCl (garam).

Baca juga: Bukit Indah Simarjarunjung, Lokasi Wisata yang Cocok untuk Melihat Keindahan Danau Toba

Saat ini, Dwipa dan tim akan menggunakan bahan semai berbasis flare atau suar.

"Flare ini diproduksi oleh PT Pindad (persero) dengan nama CoSAT 1000 (Cloud Seeding Agent Tube 1000), yang merupakan hasil pengkajian dan pengembangan alih teknologi yang dilakukan Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca - Badan Pengakajian dan Penerapan Teknologi (saat ini telah bergabung dibawah naungan Badan Riset dan Inovasi Nasional)," terangnya.

Dwipa menjelaskan, bahwa penyemaian awan dengan bahan semai CoSAT 1000 dilakukan di dasar awan-awan potensial dengan menggunakan pesawat ringan atau kecil.

"Pesawat kecil ditempatkan pada kedua sayap pesawat agar dapat segera menurunkan hujan dari awan-awan potensial yang disemai," pungkasnya. (cr3/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved