Breaking News:

Ekspor Ampas Sawit Asal Sumut Meningkat 38 Persen, Nilai Ekonomis Capai Rp 239 miliar

Adapun pada tahun 2021, ampas sawit siap si lepas di beberapa negara seperti China, Vietnam, New Zealand, Saudi Arabia, Taiwan, South Korea.

Penulis: Kartika Sari | Editor: Royandi Hutasoit
HO / Tribun Medan
Pegawai Balai Karantina Pertanian Belawan saat melihat sampel ampas sawit beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Belawan mencatat adanya peningkatan yang signifikan terhadap fasilitasi sertifikasi ekspor ampas sawit asal Sumatera Utara (Sumut) di pasar global.

Seperti diketahui, kebun sawit di Sumatera Utara menjadi kebun terluas nomor dua di Indonesia. Tentunya, dengan semakin banyaknya turunan sawit akan membantu meningkatkan nilai ekonomisnya, seperti pengelolaan ampas sawit ini.

Berdasarkan data IQFAST, Barantan permohonan sertifikasi untuk ekspor ampas sawit di Karantina Pertanian Belawan selama bulan Januari sampai dengan Oktober 2021 sebanyak 119,38 ribu ton dengan nilai ekonomis Rp239 miliar. 

Persentase ini meningkat 38,68 persen dibanding periode sama tahun 2020 yang hanya berhasil membukukan sebanyak 86,08 ribu ton dengan nilai ekonomis sekitar Rp168 miliar.

Adapun pada tahun 2021, ampas sawit siap si lepas di beberapa negara seperti China, Vietnam, New Zealand, Saudi Arabia, Taiwan, South Korea.

"Kami memberi apresiasi kepada pelaku usaha, karena di masa pandemi ekspor komoditas pertanian berupa ampas sawit asal Sumut naik secara signifikan, artinya ketertarikan pasar Internasional terhadap komoditas komoditas asal sub sektor peternakan masih cukup tinggi," ungkap Kepala Karantina Pertanian Belawan, Andi Yusmanto, Sabtu (23/10/2021).

Dikatakan Andi, peningkatan volume ekspor ini menjadi sinyal untuk upaya peningkatan ekspor pertanian di Sumut untuk mendukung Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor Pertanian (Gratieks) yang digagas oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

“Tentu saja dengan selalu melakukan bimbingan teknis, sanitari dan fitosanitari sebagai persyaratan negara tujuan ekspor, meningkatkan sinergisitas instansi terkait serta memberikan percepatan layanan karantina supaya komoditas ekspor mampu bersaing di negara tujuan," ujarnya.

Lebih lanjut Andi menerangkan bahwa ampas sawit digunakan di negara tujuan ekspor sebagai bahan baku pembuatan bio pellet pakan ternak dan juga bahan pupuk organik karena mengandung kalium yang cukup tinggi untuk tanaman.

Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian, Bambang menyebutkan bahwa sejalan dengan tugas strategis yang diberikan Mentan SYL untuk mengawal Gratieks supaya ekspor komoditas pertanian meningkat.

Pihaknya akan melakukan penguatan kesisteman perkarantinaan, seperti fasilitas pemeriksaan baik sarana dan prasarana laboratorium serta kemampuan petugasnya untuk dapat memastikan kesehatan dan keamanan produk sesuai protokol ekspor negara mitra dagang.

“Inilah adalah tugas kami untuk mengawal juga memastikan agar kesehatan dan keamanan produk pertanian berupa ampas sawit yang dilalulintaskan harus dipenuhi sehingga terjamin dinegara tujuan," pungkasnya

(cr13/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved