Breaking News:

Momentum Hari Santri Nasional, Wakil Bupati Deliserdang: Siaga Jiwa dan Raga untuk Indonesia

Wakil Bupati Deliserdang, Yusuf Siregar menghadiri acara puncak peringatakan Hari Santri Nasional

Editor: jefrisusetio
Istimewa
Wakil Bupati Deliserdang, Yusuf Siregar menghadiri acara puncak peringatakan Hari Santri Nasional yang berlangsung di Kantor Depag, Lubukpakam. 

TRIBUN-MEDAN.COM, LUBUKPAKAM - Wakil Bupati Deliserdang, Yusuf Siregar menghadiri acara puncak peringatakan Hari Santri Nasional, Kabupaten Deliserdang di Lapangan Kantor Kementerian Agama. 

Pada Peringatan hari Santri Nasional ini diwarnai dengan penyerahan sembako secara simbolis dan nantinya dibagikan kepada pondok pesantren yang ada di Deliserdang.

"Presiden Joko Widodo melalui keputusan presiden nomor 22 tahun 2015 telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai hari santri," ujarnya. 

Ia menyampaikan 22 Oktober harus menjadi resolusi jihad yang berisi fatwa kewajiban berjihad demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

"Setiap tahun kita rutin menyelenggarakan peringatan hari Santri dengan tema yang berbeda. Untuk peringatan hari Santri Tahun 2021 ini mengangkat tema Santri Siaga Jiwa Raga," katanya. 

Selain itu, kata dia, tema acara Santri Siaga Jiwa Raga merupakan bentuk pernyataan sikap santri Indonesia agar selalu siap siaga menyerahkan jiwa dan raga untuk Tanah Air. 

Lalu, mempertahankan persatuan lndonesia, dan mewujudkan perdamaian dunia. Siaga Jiwa berarti santri tidak lengah menjaga kesucian hati dan akhlak, berpegang teguh pada akidah, nilai dan ajaran lslam rahmatan lil'alamin.

"Tradisi luhur bangsa lndonesia. Bila zaman dahulu jiwa santri selalu siap dan berani maju untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan lndonesia. Maka santri hari ini tidak akan pernah memberikan celah masuknya ancaman ideologi yang dapat merusak persatuan dan kesatuan lndonesia," ujarnya. 

Lebih lanjut ia bilang siaga raga berarti badan, tubuh, tenag dan pikiran berkaya untuk Indonesia. Oleh sebab itu, santri tidak pernah lelah dalam berusaha dan bekarya untuk Indonesia. 

Jadi, Siaga Jiwa Raga merupakan komitmen seumur hidup santri yang terbentuk dari tradisi pesantren yang tidak hanya mengajarkan kepada santri-santrinya tentang ilmu dan akhlak.

"Tetapi, juga tazkiyatun nafs, yaitu mensucikan jiwa dengan cara digembleng melalui berbagai 'tirakat' lahir dan batin yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari," ungkapnya.

(*) 

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved