Breaking News:

BERITA FOTO Pertamina Dukung Green Economic Zone di KEK Sei Mangkei Pertama di Indonesia

PLTS Sei Mangkei yang beroperasi sejak Agustus 2021 ini memiliki kapasitas 2MW dan mampu menghasilkan listrik hingga 1,6 GW (Giga Watt) per tahun

Penulis: Risky Cahyadi | Editor: Risky Cahyadi
TRIBUN MEDAN
Petugas melakukan pengecekan terhadap panel surya di pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (22/10/2021). Pertamina New Renewable Energy (NRE) memproyeksikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Sei Mangkei yang dibangun bersama PT Perkebunan Nusantara III (Persero) bisa menghasilkan listrik hingga 1,6 gigawatt (GW) per tahun.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

TRIBUN-MEDAN.com, SIMALUNGUN - PT Pertamina (Persero) berkomitmen mendukung program pemerintah dalam memaksimalkan penyediaan energi di kawasan penghasil EBT.

Bekerjasama dengan PTPN III, PT Pertamina melalui sub holding Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) merealisasikan pengembangan sumber-sumber listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK ) Sei Mangkei di Sumatera Utara.

Pekerja memeriksa instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) berkapasitas berkapasitas 2,4 MW di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (22/10/2021). Biogas yang digunakan berasal dari palm oil mill effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit tersebut berpotensi menurunkan emisi karbon sebesar 71.300 ton per tahun.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Pekerja memeriksa instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) berkapasitas berkapasitas 2,4 MW di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (22/10/2021). Biogas yang digunakan berasal dari palm oil mill effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit tersebut berpotensi menurunkan emisi karbon sebesar 71.300 ton per tahun.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

Dengan skema Bangun Guna Serah, PT Pertamina (PNRE) dan PTPN III melakukan kerjasama pengembangan usaha pembangkit listrik dan bisnis EBT di KEK Sei Mangkei.

KEK Sei Mangkei merupakan KEK yang dikelola oleh PTPN III dan menjadi KEK pertama di Indonesia yang memiliki konsep green economic zone, yaitu mengutamakan pengembangan energi terbarukan, termasuk penggunaan energi untuk pembangkit listrik.

Pekerja memeriksa pipa gas metan di instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) berkapasitas berkapasitas 2,4 MW di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (22/10/2021). Biogas yang digunakan berasal dari palm oil mill effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit tersebut berpotensi menurunkan emisi karbon sebesar 71.300 ton per tahun.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Pekerja memeriksa pipa gas metan di instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) berkapasitas berkapasitas 2,4 MW di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (22/10/2021). Biogas yang digunakan berasal dari palm oil mill effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit tersebut berpotensi menurunkan emisi karbon sebesar 71.300 ton per tahun.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI

Dua pembangkit listrik pun dibangun yakni Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Koordinator Operasi dan Maintenance PLTBg dan PLTS Sei Mangkei, Rein Nasution mengatakan, PLTBg dan PLTS masing-masing dibangun diatas lahan seluas dua hektare.

PLTBg berbahan bakar Palm Oil Mill Efulent (POME) atau limbah cair kelapa sawit dan menyerap POME hingga 288.350 meter kubik setiap tahun.

PLTBg Sei Mangke yang beroperasi sehak Januari 2020 ini memiliki kapasitas 2,4 MW dan mampu menurunkan emisi gas karbon hingga 71.000 ton per tahun.

Pekerja memeriksa instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) berkapasitas berkapasitas 2,4 MW di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (22/10/2021). Biogas yang digunakan berasal dari palm oil mill effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit tersebut berpotensi menurunkan emisi karbon sebesar 71.300 ton per tahun.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Pekerja memeriksa instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) berkapasitas berkapasitas 2,4 MW di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (22/10/2021). Biogas yang digunakan berasal dari palm oil mill effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit tersebut berpotensi menurunkan emisi karbon sebesar 71.300 ton per tahun.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

Sedangkan PLTS berbahan dasar sinar matahari. PLTS Sei Mangkei yang beroperasi sejak Agustus 2021 ini memiliki kapasitas 2MW dan mampu menghasilkan listrik hingga 1,6 GW (Giga Watt) per tahun serta menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) hingga 1.300 ton per tahun.

“Pembangkit listrik yang diinisiasi Pertamina ini sejalan dengan target pemerintah dalam mencapai bauran EBT sebesar 23 persen pada tahun 2025.

Petugas memeriksa arus listrik pada panel Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) berkapasitas berkapasitas 2,4 MW di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (22/10/2021). Biogas yang digunakan berasal dari palm oil mill effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit tersebut berpotensi menurunkan emisi karbon sebesar 71.300 ton per tahun.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Petugas memeriksa arus listrik pada panel Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) berkapasitas berkapasitas 2,4 MW di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (22/10/2021). Biogas yang digunakan berasal dari palm oil mill effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit tersebut berpotensi menurunkan emisi karbon sebesar 71.300 ton per tahun.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

Kami berharap ke depannya KEK Sei Mangkei dapat menjadi salah satu contoh kawasan industri berwawasan lingkungan bagi kawasan industri lainnya,” kata Rein.

Senior Executive Vice President PT Kawasan Industri Nusantara selaku pengelola KEK Sei Mangkei, Anastasia Indriyani mengatakan, dengan konsep green economic zone ini, pihaknya sudah memiliki program jangka panjang.

Program jangka panjang tersebut adalah hingga tahun 2032 nanti, ketika KEK sudah penuh, maka suplai listrik untuk seluruh tenant akan bersuber dari EBT sebesar 30 persen dan sisanya 70 persen bersumber dari listrik PLN.

Pekerja mengoperasikan mesin penggiling yang menggunakan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), di pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi CPO (Crude Palm Oil) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (22/10/2021). Biogas yang digunakan berasal dari palm oil mill effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit tersebut berpotensi menurunkan emisi karbon sebesar 71.300 ton per tahun.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Pekerja mengoperasikan mesin penggiling yang menggunakan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), di pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi CPO (Crude Palm Oil) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (22/10/2021). Biogas yang digunakan berasal dari palm oil mill effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit tersebut berpotensi menurunkan emisi karbon sebesar 71.300 ton per tahun.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

“Kami selaku pengelola berkomitmen untuk terus mengembangkan pembangkit listrik yang sudah ada yakni menambah kapasitas PLTS hingga 5MW. Selain itu membangun pembangkit listrik baru yakni Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa sebesar 15 MW tahun 2022 mendatang,” kata Anastasia.

(sky/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved