Breaking News:

Hari Pahlawan Nasional, BRGM Dorong Kesejahteraan Pejuang Gambut dan Mangrove

Pantang menyerah, mungkin itulah yang dilakukan para pejuang gambut dan mangrove di Indonesia

Editor: Ismail
Tribun Medan/HO
Masyarakat, Pejuang Mangrove sedang melakukan penanaman bibit mangrove 

Tribun-Medan.com, Medan - Pantang menyerah, mungkin itulah yang dilakukan para pejuang gambut dan mangrove di Indonesia. Meski menghadapi sejumlah tantangan, namun tekad kuat mereka untuk menjaga alam tak pernah usang.

Terlebih gambut dan mangrove berperan penting dalam kehidupan manusia, seperti mengatasi perubahan iklim, menyerap emisi Gas Rumah Kaca, mencegah kebakaran hutan dan lahan, mencegah abrasi, erosi hingga tsunami.

Oleh karena itu, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) terus berupaya meningkatkan kesejahteraan para pahlawan gambut dan mangrove, salah satunya dengan melakukan revitalisasi ekonomi di Desa Menang Raya, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Chandra Ariansyah, Sekretaris Kelompok Tani (Poktan) Mawar dari desa tersebut mengatakan, BRGM memberikan pelatihan pengolahan purun atau tanaman yang tumbuh alami di rawa gambut menjadi suatu produk kerajinan bernilai ekonomi tinggi.

“Jadi purun ini selain dibuat menjadi tikar juga bisa dibuat menjadi tas, dompet, tempat tisu dan kerajinan lainnya. Harganya pun beragam mulai dari Rp50 ribu hingga Rp80 ribu tergantung dengan model anyaman itu sendiri. Semenjak ada pelatihan inovasi modern dari BRGM, masyarakat terutama ibu-ibu itu ekonominya pun jadi meningkat,”ujar Chandra.

Sementara itu, Beni Setiawan selaku Bendahara Kelompok Masyarakat (Pokmas) Sinar Harapan dari Desa Rambai, Pangkalan Lampam, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, juga mengatakan revitalisasi ekonomi yang dilakukan BRGM mampu menciptakan sumber mata pencaharian baru yang bisa meningkatkan penghasilan warga.

BRGM, kata Beni, telah memberikan berbagai macam pelatihan mengenai tanaman jahe merah, mulai dari budidayanya, pengolahan produknya, hingga pemasaranya. Dari hasil panen jahe merah di lahan seluas 1,5 hektare, Beni mengaku kelompoknya dapat membuat berbagai inovasi produk seperti sirup jahe merah, serbuk jahe merah original hingga emping jahe merah.

“Kami berhasil membuat ribuan kemasan produk sirup, serbuk hingga emping jahe merah. Berawal dari mulut ke mulut, produk kami akhirnya mulai banyak permintaan. Kini kami mulai dilatih juga untuk memasarkan produk jahe merah tersebut melalui media sosial agar permintaan bisa datang dari seluruh wilayah Indonesia,” ungkap Beni.

Menurut Beni, produk-produk yang terbuat dari jahe merah kini memang potensial untuk dipasarkan, karena banyak masyarakat yang mencarinya sebagai minuman sehat yang dapat meningkatkan imunitas tubuh di masa pandemi.

Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Provinsi Sumatera Selatan menjelaskan, inovasi produk dari purun dan juga jahe merah tersebut kini sudah dipamerkan dan mulai dipasarkan.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved