Breaking News:

Olah Rumput Purun Jadi Kreasi Fashion, Nilai Jual Lebih Tinggi Dibanding Tikar

Menariknya, kerajinan berbahan purun ini mampu tahan hingga bertahun-tahun walau pun terkena panas atau pun hujan.

Penulis: Kartika Sari | Editor: Eti Wahyuni
Olah Rumput Purun Jadi Kreasi Fashion, Nilai Jual Lebih Tinggi Dibanding Tikar
Tribun Medan/HO
Perajin saat menganyam rumput purun di Desa Cinta Air, Kecamatan Perbaungan, Serdang Bedagai beberapa waktu lalu.

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Rumput purun kini semakin dikreasikan untuk diinovasikan ke beragam jenis kerajinan tangan. Menariknya, rumput purun yang hidup di rawa-rawa kini bisa dikreasikan untuk pembuatan tas, keranjang, kotak tisu, bakul, dan lainnya.

Seperti yang dilakukan Rosmina Nasution, pendiri kerajinan Nasti Purun di Desa Cinta Air, Kecamatan Perbaungan, Serdang Bedagai.

Diceritakan Rosmina, sejak tahun 2014 dibentuk Posyandu Holistik Integratif di desanya, kini rumput purun tak lagi hanya sekadar olahan tikar semata.

"Setelah ada Posyandu Holistik Integratif itu jadilah berbagai macam kerajinan. Jadi turun temurun itu cuma tikar aja, nah saya coba buat tas dan dompet yang kekinian, jadi macem-macem pernak pernik yang kita bisa buat," ungkap Rosmina, Sabtu (13/11/2021).

Menariknya, kerajinan berbahan purun ini mampu tahan hingga bertahun-tahun walau pun terkena panas atau pun hujan.

Baca juga: Kahiyang Ayu Sebut 5 Produk Hasil Kerajinan Industri Kecil Menengah (IKM) akan Ikut Pameran

"Sekarang rata-rata penduduk desa ganti peralatan bahan plastik pakai kerajinan purun ini seperti tempat nasi, nanti dialasi dengan kertas. Kalau tempat untuk makanan, kerajinannya ori tidak pakai pewarna," tuturnya.

Diceritakan Rosmina, kerajinan purun ini sudah ada sejak zaman nenek moyang yang merupakan masyarakat suku Banjar yang suka menganyam tikar dari purun.

Rumput purun ini dikatakannya, diambil di wilayah sekitar rumah, dibersihkan dan dijemur yang kemudian digunakan sebagai bahan menganyam.

Diakui Rosmina, pembuatan kerajinan tas jauh lebih hemat waktu dan punya nilai ekonomis tinggi dibanding tikar.

"Kalau buat tikar ini kadang satu hari tidak siap, tapi saya bisa satu hari ini buat tiga tas, jadi lebih hemat bahan dan juga lebih menguntungkan dibandingkan tikar," jelasnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved