MotoGP
Balapan Terakhir Valentino Rossi, dan Sirkuit pun tak Menguning Lagi
Setelah 25 tahun –lebih separuh dari usianya– secara terus menerus tanpa putus membalap dari sirkuit ke sirkuit, Valentino Rossi memutuskan berhenti.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
PUTARAN ke 27 di Sirkuit Ricardo Tomo Valencia. Garis akhir. Menandai sekaligus dua hal: penghujung MotoGP musim kompetisi 2021 dan pengukuhan gelar juara dunia bagi Fabio Quartararo. Namun ada yang ketiga, dan ini sesungguhnya yang paling penting.
Quartararo boleh juara dunia. Francesco Bagnaia boleh bersorak atas keberhasilannya memenangi seri pamungkas. Namun di Ricardo Tomo, Minggu, 14 November 2021, penonton yang memenuhi tribun-tribun sirkuit memberikan sambutan sepenuh jiwa raga mereka untuk Valentino Rossi.
Padahal hari itu dia hanya menyelesaikan balapan di posisi sepuluh (tidak begeser dari posisi start), tapi publik Ricardo Como tak peduli. Bahkan sebelum balapan dimulai pun sirkuit sudah dipenuhsesaki warna kuning; bendera besar dan kecil, baju-baju, poster, juga spanduk. Nomor 46, dalam beragam wujud cetakan (hanya angka, dikombinasi berwajah Valentino Rossi maupun yang bertuliskan ‘Grazie’ dan ‘Gracies’; terima kasih), berserak di hampir semua sudut.
Suporter Quartararo, suporter Francesco Bagnaia, Joan Mir, Jack Miller, Maverick Vinales, termasuk fans-fans fanatik garis keras Marc Marquez, hari itu, secara sadar --dan sukarela– melepas identitas mereka. Hari itu, bukan cuma mereka yang datang ke Valencia, kandang bagi pembalap-pembalap Spanyol, para penonton balapan motor di seluruh dunia pun bersatu suara dan berdiri untuk Valentino Rossi.
Begitulah, Rossi (orang-orang terdekatnya memanggil Vale), lelaki 42 tahun kelahiran Urbino, Italia, ini memang pantas mendapatkan hormat sedemikian tinggi. Setelah 25 tahun –lebih separuh dari usianya– secara terus menerus tanpa putus membalap dari sirkuit ke sirkuit, Rossi memutuskan berhenti.
"Jadi ini memang akhirnya. Saya baik-baik saja. Namun belakangan ini saya pulih lebih lambat dari tahun-tahun sebelumnya. Saya sudah tua."
Tahun 1997, Rossi menjadi juara dunia untuk pertama kali. Ia memenangi kelas 125 cc. Tahun keduanya di kelas ini. Dari total 15 seri balapan, Rossi menang 11 kali, termasuk balapan yang digelar di Sirkuit Sentul, Bogor, 28 September. Di tahun yang sama, Joan Mir, juara dunia tahun lalu, lahir di Palma de Mallorca. Dia lahir pada 1 September, atau persis 13 hari sebelum Rossi memenangkan seri GP Spanyol di Catalunya.
Francesco Bagnania alias Peco, lahir di tahun yang sama. Adapun Fabio Quartararo baru lahir dua tahun kemudian. Saat itu Rossi sudah pindah ke kelas 250 cc dan jadi juara dunia pula. Ia memenangkan sembilan dari total 16 seri balapan.
"Sejujurnya saya masih merasa seperti laki-laki 25 tahun. Masih sangat bersemangat. Namun itu perasaan saya saja. Secara fisik saya 42, dan saya dikelilingi, saya beradu cepat dengan pebalap-pembalap lain yang rata-rata memang berusia 25. Saya mungkin masih bisa cepat, tapi mereka pulih lebih cepat dari saya," kata Rossi dalam bahasa Italia, saat tampil di program 'La Iene' di kanal Italia 1. Wawancara ini kemudian mendunia setelah dimuat ulang dalam bahasa Inggris di laman motorcyclesports.
Olahraga balap motor, kelas MotoGP khususnya, memang menuntut pembalap-pembalapnya selalu berada dalam kondisi fisik sempurna. Prima 100 persen. Motor yang berat dan bertenaga besar, down force, tekanan angin, juga panas aspal sirkuit, amat sangat menguras tenaga. Lengah sedikit, hilang konsentrasi, bisa terjerembab, dan peluang yang sudah membentang di depan mata akan sirna seketika. Rossi akhirnya menyadari, pada usia 42, kemampuan alamiah tubuhnya untuk kembali bugar setelah terkuras betul-betul habis, tidak lagi secepat ketika ia masih berumur dua puluhan sampai awal-awal tiga puluhan.
"Musim ini saya menandatangani kontrak satu tahun dengan opsi perpanjangan setahun. Saya mencoba. Sekiranya masih bisa menyentuh podium, atau setidak-tidaknya secara konsisten masuk di jajaran lima besar, saya akan terus. Sebaliknya, jika tidak, saya kira memang tidak ada gunanya saya bekerja keras lagi. Sudah waktunya untuk berhenti," ujarnya.
Teknologi Elektrik
Valentino Rossi menjuluki dirinya sendiri 'Doctor'. Seorang ahli. Julukan ini diapungkannya pascameraih gelar juara dunia ketiga (dari total sembilan) di tahun 2001. Tahun atau musim peralihan dari kelas 500 cc ke MotoGP yang mengusung mesin 4 Tak. Apakah ia bermaksud menyombong? Rossi menampik. Bilangnya seraya tertawa-tawa dalam satu wawancara, di negaranya, nama 'Rossi' adalah nama yang elite. Pada umumnya adalah seorang doktor --ahli medis maupun akademi.
"Yang lainnya pemain sepak bola. Cuma saya yang pembalap. Karena itu, barangkali, saya memang istimewa," katanya.
Ini julukan ketiga. Sebelumnya, Rossi juga menabalkan dua julukan lain untuk dirinya yakni 'Valentinik' dan 'Rossifumi'. Julukan 'Valentinik' konon dipetiknya dari kartun Disney, Donald Duck [di Italia disebut dengan nama 'Paperino'].
Dalam satu episode, digambarkan Donald berubah jadi superhero. Bertenaga besar dan mampu melakukan hal-hal ajaib, serta tak kenal takut --meski tetap konyol. Donald ini disebut 'Paperinik’, dan Rossi yang mengadaptasinya menjadi ‘Valentinik’, yang didefinisikannya sendiri sebagai 'Super Valentino'.
Adapun 'Rossifumi' merupakan semacam bentuk kekagumannya pada Norifumi Abe, pembalap motor Jepang. Abe pada mulanya mendapatkan wild card untuk tampil di seri grand prix Jepang tahun 1994, dan secara mengejutkan, setidaknya sampai lap 19, menjadi penantang serius bagi dua pembalap yang kala itu merajai kelas 500 cc, Kevin Schwantz dan Michael Doohan. Abe akhirnya terjatuh, saat berada di barisan depan di antara Schwantz dan Doohan, tapi balapan di Sirkuit Suzuka ini membekas sangat kuat di ingatan Rossi yang kala itu masih berusia 14.
Abe cenderung membalap secara nekat. Namun dia berteknik tinggi. Terutama saat memasuki dan melepaskan diri dari tikungan. Rossi memadukan keduanya, lalu menyempurnakannya dengan kesabaran dan kecermatan perhitungan yang sebelumnya jadi kekuatan legenda Italia pemegang rekor 15 gelar juara dunia, Giancomo Agostini.
Pendeknya, Rossi membalap dengan mengandalkan teknik, dan inilah pula yang --di lain sisi-- membuatnya berada dalam kesulitan tatkala otoritas MotoGP nyaris secara konsisten dan berkesinambungan menanamkan panel-panel elektrik yang makin canggih dan rumit ke motor tunggangan. Rossi kesulitan beradaptasi.
Terhitung sejak 2017, meski masih selalu wara-wiri di kelompok lima besar, ia tidak pernah lagi merasakan podium juara. Musim ini paling parah. Dari balapan-balapan sebelum GP Valencia, dia hanya menyelesaikan delapan di antaranya. Dan dari yang delapan ini, hanya tiga kali masuk jajaran sepuluh besar.
Faktor lain barangkali keluarga. Agustus lalu, Rossi mengumumkan kehamilan pasangannya, Fransesca Sofia Novello. “Sekiranya saya masih muda, mungkin masih ada waktu untuk kembali. Bagaimana saya memikirkannya, lalu bangkit untuk lebih baik. Sekarang tidak lagi. Tidak ada waktu lagi,” katanya.
Maka memang pada akhirnya semua harus berkesudahan. Muhammad Ali, Diego Maradona, Michael Jordan. Dan kini Rossi. Ketika waktunya tiba, tak peduli sehebat apapun, maestro sebesar apapun, semua akan menepi. Menjauh dari hiruk pikuk panggung yang cemerlang.
It may be farewell but not goodbye, kata superstar pop Inggris Elton John, dan kalimat ini dikutip dan dijadikan judul tulisan yang dipersembahkan bagi Valentino Rossi di laman resmi MotoGP. Tentu saja, secara harfiah kalimat ini seratus persen benar. Rossi memang belum sepenuhnya pergi. Da masih akan berada di dekat-dekat sirkuit. Dia punya tim, Sky Racing Team VR46, yang berlaga di kelas Moto3 (250 cc) dan Moto2 (600 cc), dan boleh jadi tak lama lagi di MotoGP.
Namun akan ada beda besar. Setelah Valencia 2021, kehadirannya tidak lagi disambut dengan lautan bendera besar dan kecil, baju-baju, poster, spanduk, bahkan asap flaire serba kuning. Tidak ada lagi nomor 46. Ricarco Tomo, Minggu, 14 November 2021, adalah puncaknya.
Para penonton menepikan larangan penyelenggara balapan. Mereka membakar flaire. Asap kuning pun berkepul-kepul, dan nomor ini, ikut membubung dibawa angin ke langit.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/valentino-5.jpg)