Breaking News:

Dorong Ikan Nila Danau Toba jadi Komoditi Ekspor Andalan Indonesia

Danau Toba menjadi salah satu tempat budidaya ikan nila yang besar. Pada 2020 saja, BPS mencatat produksi ikan nila di Danau Toba mencapai 80.941 ton

Editor: iin sholihin
TRIBUN MEDAN/ARJUNA BAKKARA
Panorama utuh Pulau Samosir bentangan indah Danau Toba dari Dolok Sipatungan Kecamatan Sitio-tio Kabupaten Samosir.   

Dr Jannus TH Siahaan
Pengamat Sosial dan Praktisi Komunikasi

BELAKANGAN sering kita dengar perhatian dari pemerintah pusat dan daerah untuk menjaga keseimbangan ekosistem di Kawasan Danau Toba dengan penebaran beragam jenis benih ikan juga sarana pendukungnya, seperti sampan untuk nelayan dan masyarakat.

Kemauan pemerintah daerah untuk mengembalikan fungsi dan perairan umum daratan sebagai ekosistem yang seimbang, agaknya memang perlu dukungan semua pihak yang berkepentingan.

Agar dampaknya tak lagi sekedar mengejar impresi atau “tebar pesona”, tapi betul-betul diharapkan dapat mengoptimalkan potensi masyarakat lokal sekaligus menyokong pertumbuhan ekonomi daerah.

Selain karena rasanya, ikan diburu karena memiliki kandungan nutrisi dan protein yang tinggi. Protein memiliki manfaat untuk membangun tulang dan otot, menyembuhkan jaringan, mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh, mencerna makanan, serta menyeimbangkan hormon.

Ditambah lagi, harga ikan mungkin lebih terjangkau dibandingkan daging sapi dan ayam. Kandungan asam lemak omega 3, kalsium, vitamin D, dan fosfor banyak terkandung pada ikan. Tak hanya itu, ikan juga kaya akan vitamin dan mineral lain, seperti vitamin B2, zat besi, zink, yodium, magnesium, dan kalium.

Baca juga: RSI Olah Limbah Ikan Tilapia Jadi Pakan Ternak, Pabrik Serupa Segera Dibangun di Sumut

Tidak hanya dikenal sebagai sumber protein saja. Ikan juga dikenal sebagai salah satu sumber pangan yang bergizi tinggi, memiliki fungsi sebagai antioksidan, memiliki peran penting dalam peningkatan gizi balita, mencegah stunting pada anak sejak masa kehamilan, membantu meningkatkan kecerdasan otak, serta mengurangi risiko penyakit.

Manfaat inilah yang menjadikan ikan selalu dicari untuk dikonsumsi, tak terkecuali ikan endemik air tawar yang bernilai budaya seperti ikan batak (tor fish) yang di masa lalu sering ditemukan di Danau Toba untuk dijadikan makanan raja-raja. Atau seperti ikan nilem, ikan mas dan ikan tilapia yang dikenal sebagai ikan air tawar yang tinggi protein namun rendah kalori.

Di Sumatera Utara sendiri, baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan, konsumsi protein per kapita penduduknya sudah berada di atas standar kecukupan konsumsi protein yang telah ditentukan pemerintah. Dari data BPS (2019), rata-rata konsumsi kalori per kapita (Kkal) yang berasal dari ikan/udang/cumi/kerang banyak dikonsumsi oleh masyarakat di daerah Samosir (108,58 kkal), Humbang Hasundutan (108,20 kkal), dan Tapanuli Utara (100,69 kkal).

Konsumsi ikan yang cukup tinggi juga didukung oleh letak geografis wilayah yang berada di sekitar Danau Toba yang merupakan habitat bagi ratusan jenis ikan.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved