Breaking News:

Mengenal Obat Covid Molnupiravir yang Akan Digunakan Tahun Depan

Sebagai salah satu langkah antisipasi lonjakan kasus Covid-19 di akhir tahun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin berencana mendatangkan obat Covid-

HO / Tribun Medan
Obat Covid-19 molnupiravir yang diproduksi perusahan farmasi Merck, Sharp & Dohme. Obat antivirus ini dilaporkan dapat menekan risiko masuk rumah sakit atau kematian karena Covid-19 hingga 50 persen. Obat ini pun sudah dilirik banyak negara, termasuk Indonesia.(Merck, Sharp & Dohme) 

TRIBUN-MEDAN.com - Sebagai salah satu langkah antisipasi lonjakan kasus Covid-19 di akhir tahun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin berencana mendatangkan obat Covid-19 Molnupiravir.

Sebelumnya, Badan Pengatur Obat dan Produk Kesehatan Inggris (MHRA) telah menyetujui penggunaan obat molnupiravir buatan Merck, Sharp & Dohme (MSD) pada Kamis (4/11/2021).

Sementara saat ini, Budi mengatakan obat tersebut masih menunggu izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Amerika Serikat.

"Molnupiravir diharapkan akhir tahun bisa tiba di Indonesia, dan kita siap menggunakannya untuk tahun depan," kata Budi dalam konferensi pers secara virtual soal evaluasi PPKM, Senin (15/11/2021).

Sebelumnya diberitakan, Indonesia akan membeli 600.000 hingga 1 juta pil Molnupiravir buatan Merck yang diklaim sebagai obat Covid-19.

Budi mengatakan, saat melakukan kunjungan ke Amerika Serikat beberapa waktu, ia sudah melakukan kerja sama dengan pihak Merck.

Apa itu obat molnupiravir? Dijelaskan Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt, obat molnupiravir adalah obat oral antivirus atau obat antivirus yang diminum.

"Molnupiravir obat antivirus yang dulunya dikembangkan oleh Emory University. Itu mereka sebetulnya mau mencari obat untuk ensefalitis virus (kondisi peradangan otak yang disebabkan virus, red)," jelas Zullies kepada Kompas.com, Selasa (5/10/2021).

Ia melanjutkan, ketika obat ini dikembangkan, kemudian pandemi Covid-19 menyelimuti seluruh dunia, maka akhirnya, obat yang tadinya dikembangkan untuk obat ensefalitis itu diramu lagi untuk diujikan ke virus corona SARS-CoV-2, penyebab Covid-19.

Selain Emory University, perusahaan farmasi Merck, Sharp & Dohme (MSD) dan Ridgeback Biotherapeutics juga terlibat dalam pengembangan obat molnupiravir. Mulai dari awal, hingga uji klinis 1, 2, dan 3.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved