Breaking News:

Oknum Kepsek SD di Taput Dilaporkan ke Polisi, Disebut Intimidasi Siswa karena Masalah Pilkades

Oknum kepala sekolah SD di Tapanuli Utara dilaporkan ke polisi karena dugaan pengancaman kepada dua orang siswa.

Penulis: Fredy Santoso | Editor: Liston Damanik
TRIBUN MEDAN/GOKLAS WISELY
Kabid Humas Polda Sumut Kombes Hadi Wahyudi di Lapangan Benteng, Rabu (3/11/2021) 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Oknum kepala sekolah SD di Tapanuli Utara dilaporkan ke polisi karena dugaan pengancaman kepada dua orang siswa.

Dalam laporannya, pelapor menyebut kepala sekolah itu mengintimidasi siswa karena orang tua mereka tak memilih suami kepsek menjadi kepala desa.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Hadi Wahyudi membenarkan tentang adanya laporan itu.

"Yang sudah dimintai keterangan adalah kepala sekolah. Kepsek mengaku mereka tidak ada menurunkan kelas. Ke depannya bagaimana, nanti lihat hasil dari penyidikan," katanya, Senin (15/11/2021).

Menurut Hadi, kepsek menjelaskan bahwa seorang siswa kelas 6 SD dan tujuh orang siswa kelas 4 SD diminta belajar membaca di kelas dua.

"Mereka itu statusnya sebagai kelas 6 dan kelas 4. Tapi dia proses belajar mengajarnya di kelas 2. Karena yang bersangkutan kurang lancar membaca, bukan turun kelas. Jadi yang bersangkutan tetap kelas 6 dan kelas 4," sebut Hadi.

Hadi mengatakan, proses belajar-mengajarnya pun atas persetujuan kepala sekolah.

Langkah itu juga disebut tidak ada sangkut pautnya dengan Pilkades. 

"Tidak ada sangkut pautnya dengan pemilihaan kepala desa. Justru si ibu guru ini memberikan kemudahan sebenarnya kepada anak tersebut, beberapa orang siswa itu untuk bisa belajar membaca dengan teman-temannya yang ada di kelas dua tapi bukan berarti dia turun kelas," sebut Hadi.

Sebelumnya, Direktur LBH Sekolah Jakarta, Roder Nababan, mengaku mendapat kabar dua orang siswa di Tapanuli Utara dipaksa turun kelas karena orang tua kedua siswa itu tak memilih suami kepala sekolah menjadi kepala desa setempat.

Dua siswa yang disebut dipaksa turun kelas itu adalah R (12) dan W (10). 

Keduanya disebut sebagai siswa kelas VI dan IV SDN 173377, Desa Batu Arimo, Kecamatan Parmonangan, Kabupaten Tapanuli Utara.

Dia mengatakan, kedua siswa itu kerap diintimidasi dari Kepsek berinisial JS hingga menerima ancaman untuk pindah sekolah setelah ayah R dan W diketahui mendukung calon kepala desa lain.

Bahkan masalah ini disebut telah dilaporkan ke Polda Sumatera Utara atas tindak pidana pengancaman terhadap anak seperti diatur dalam UU Perlindungan Anak. (cr25/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved