Breaking News:

Anak Korban Politik Kepsek

Nestapa 8 Bocah Turun Kelas Diduga Akibat Orangtua tak Dukung Suami Kepsek Jadi Kades di Taput

delapan anak yang duduk di bangku kelas 6 dan 4 SD Negeri 173377 turun kelas karena diduga orangtua tidak dukung suami Kepsek jadi Kades

Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Array A Argus
Tribun Medan/Abul Muamar
ILUSTRASI- Siswa SD Turun kelas. Sejumlah siswa SD Kemala Bhayangkari I Medan yang berada di Jalan Samanhudi, tetap masuk sekolah meski Pemerintah Kota Medan menginstruksikan agar sekolah libur sejak Sabtu pekan lalu, Selasa (27/10/2015). 

TRIBUN-MEDAN.COM,TAPANULI UTARA - Nasib delapan bocah yang duduk di bangku kelas 4 dan 6 SD Negeri 173377 Tapanuli Utara sungguh memprihatinkan.

Karena diduga masalah politik pemilihan kepala desa, 8 bocah turun kelas.

Menurut Direktur LBH Sekolah Jakarta, Rodee Nababan, dua dari 8 bocah turun kelas itu yakni R (12) dan W (10).

Kedua bocah ini duduk di bangku kelas 6 dan kelas 4 SDN 173377, Desa Batu Arimo, Kecamatan Parmonangan, Kabupaten Tapanuli Utara.

Baca juga: Janji BPJS Kesehatan setelah Iuran Naik Per 1 Januari, Cara Ubah Kelas BPJS (Turun Kelas)

"R dan W mengalami intimidasi hingga dipaksa turun kelas diduga hanya karena kedua orangtuanya tidak ingin memilih suami sang Kepala Sekolah di Pilkades mendatang," kata Rodee, Selasa (16/11/2021).

Rodee mengatakan, R dan W diturunkan ke kelas dua dengan alasan yang macam-macam. 

Kuat dugaan, 8 bocah turun kelas karena Kepala SDN 173377 berinisial JS kesal dengan orangtua para siswa, yang tidak mau memilih suaminya sebagai kepala desa. 

"Kebetulan, selain sebagai Kasek SDN 173377, si oknum juga menjadi pelaksana tugas Kepala Desa Batu Arimo. Ya, mungkin dia kesal saat mengetahui jika suaminya yang nyalon jadi Kepala Desa tidak didukung orangtua muridnya," terang Rodee.

Baca juga: Oknum Kepsek SD di Taput Dilaporkan ke Polisi, Disebut Intimidasi Siswa karena Masalah Pilkades

Karena ini merupakan bentuk diskriminasi dan intimidasi terhadap siswa sekolah, Rodee kemudian melaporkan kasus ini ke Polda Sumut.

Rodee melaporkan Kasek SDN 173377 berinisial JS dengan delik aduan melanggar Undang-undang nomor 23/2002 tentang p;erlindungan anak.

"Harapan kita, persoalan ini segera diatensi aparat hukum demi keadilan. Sebab, menurut penuturan korban dan keluarganya, kedua anak ini telah mengalami trauma mendalam setelah menjadi korban penyalahgunaan jabatan sang Kasek hingga harus rela duduk di bangku kelas II selama satu bulan seminggu terakhir," terangnya.

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa hingga saat ini kedua anak tersebut masih tetap mengenyam pendidikan di sekolah tersebut.

"Belum ada rencana pindah sekolah. Namun, orangtua berharap agar kepala sekolah tersebut segera dipindahkan dari sekolah tersebut," katanya.(cr3/tribun-medan.com

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved