Breaking News:

News Video

Anak Tuna Rungu Didikan Smart Aurica Gelar Kegiatan Menggambar dan Mewarnai Bersama Seniman Medan

Sejumlah anak-anak tuna rungu didikan Smart Aurica School mengikuti acara mewarnai dan menggambar di Taman Ahmad Yani, Medan

Penulis: M Daniel Effendi Siregar | Editor: Fariz

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sejumlah anak-anak tuna rungu didikan Smart Aurica School mengikuti acara mewarnai dan menggambar di Taman Ahmad Yani, Medan, Sabtu (20/11/2021). Kegiatan tersebut mengambil tema Spirit Creativity With Art bekerjasama dengan komunitas Bagian Belakang dan Gambar Bareng.

Acara ini merupakan penyesuaian selama pandemi Covid-19, yang hampir dua tahun tidak sama sekali keluar rumah. Kali ini, pelaksanaan kegiatan belajar di luar ruangan, dengan alam terbuka untuk mendukung saraf motorik bagi anak-anak kebutuhan khusus.

"Jadi di sini diperkenalkan mengenai alam. Mereka sebelumnya telah belajar selama satu setengah bulan," Ujar Seftiana Sari pemilik yayasan.

Di dalam acara ini, anak-anak dilibatkan langsung dalam berbagai kegiatan. Mulai dari mewarnai, menggambar dikanvas di bimbing langsung oleh komunitas Gambar Bareng.

Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB dan selesai pukul 12.00 WIB ini diharapkan nantinya dapat membantu anak-anak tersebut dapat bisa bersekolah umum.

"Anak-anak yang mengalami gangguan pendengaran atau tuli diajarkan untuk mendengar dan berbicara dengan bantuan alat bantu dengar atau implan koklea." Sahut Riski Febrika Kepala Sekolah Smart Aurica School.

Sari sebagai pemilik yayasan juga berharap banyak, dapat membantu dan memfasilitasi anak-anak berkebutuhan khusus. Dan juga bisa mengabdi membantu anak-anak tuna rungu bisa mengikuti pendidikan di sekolah umum serta mampu menggapai cita-cita.

Ia juga mengatakan kehadiran Smart Aurica School adalah satu-satunya sekolah di Medan yang mendidik anak tuna rungu dengan basis mendengar dan berbicara.

Dengan berbagai program yang ada, seperti kelas reguler, terapi, field trip, dan outbond, membantu perkembangan anak baik intelektual dan motorik. Saat ini Smart Aurica mempunyai 28 siswa tuna rungu.

Inspirasi Smart Aurica berdiri berdasarkan pengalaman pribadi Sari sebagai pemilik yayasan. Sari sendiri memiliki anak laki-laki yang mengalami gangguan pendengaran.

"Inspirasi Smart Aurica berdasarkan pengalaman pribadi saya, anak saya juga mengalami gangguan dengar dan kesusahan berkomunikasi. Sejak usia dua tahun sudah mendapatkan implan koklea," tutup Sari.

Tita Anin Ketua Komite yang juga wali murid mengatakan sekolah ini sangat membantu sekali untuk anak-anak yang mengalami gangguan pendengaran, agar nantinya mereka dapat berkomunikasi layaknya anak-anak yang normal. Ia juga memfasilitasi anaknya di Smart Aurica.

"Iya sekolah ini sangat membantu sekali untuk perkembangan anak yang memang tuna rungu atau mengalami gangguan pendengaran. Saya berharap nantinya anak-anak yang terapi di Aurica dapat diterima dan melanjutkan ke sekolah umum," kata Tita.

Di Smart Aurica memiliki tiga kelas yang biasa di sebut level. Kelas Nada merupakan kelas dasar atau level awal. Lanjut Kelas Melodi dan untuk tahap akhir Kelas Irama. Untuk penilaian kelas berdasarkan kemampuan masing-masing anak.

(sir/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved