Breaking News:

Festival Ulos Ragihotang, Masyarakat Sekitar Harapkan Promosi Semakin Digalakkan

Dengan adanya perhelatan tersebut, masyarakat penenun berharap promosi ulos semakin digalakkan.

Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/MAURITS PARDOSI
Para ibu penenun pada Sabtu (20/11/2021) di Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba sedang bertenun menghasilkan ulos yang kerap digunakan masyarakat Batak Toba dalam acara adat Batak.       

TRIBUN-MEDAN.com, TOBA – Masyarakat Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba selenggarakan festival ulos Ragihotang.

Dengan adanya perhelatan tersebut, masyarakat penenun berharap promosi ulos semakin digalakkan.

Kegiatan ini akan berlangsung sejak hari ini, Sabtu (20/11/2021) hingga esok, Minggu (21/11/2021).

Seorang penenun Adermina boru Pardede menjelaskan bahwa dirinya sudah menggeluti dunia tenun selama 50 tahun, namun dirinya belum pernah merasakan perhatian pemerintah soal tenunan ulos.

“Hingga sekarang, perhatian pemerintah biasa-biasa saja. Kita harapkan promosi dari berbagai pihak dapat membantu pengenalan ulos dari masyarakat yang lain. selain dari hasil tenun, kami juga harus bertani agar bisa memenuhi kebutuhan anak-anak,” ujar Adermina boru Pardede (67) saat disambangi tribun-medan.com di Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba pada Sabtu (20/11/2021).

Ulos Ragihotang yang dikenal sebagai hasil khas dari desa tersebut dapat dihasilkan dengan waktu sekitar dua minggu dengan harga sekitar Rp 1,5 juta. Modal yang mereka butuhkan sekitar Rp 300 ribu ini hingga saat ini tidak sanggup memenuhi kebutuhan keluarga karena tidak ada jaminan pemasaran hasil produk tersebut.

“Ini merupakan kekhasan dari desa kita. Waktu yang kita butuhkan hasilkan sebuah ulos butuh waktu dua minggu dan harganya sekitar 1,5 juta. Walaupun demikian, hasil dari ulos ini belum sanggup memenuhi kebutuhan keluarga kita,” terangnya. 

Ulos yang biasanya digunakan pada acara pernikahan tersebut, ternyata sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu.

Secara turun-temurun, cara bertenun diwariskan. Walaupun demikian, ia sendiri tidak yakin akan kaum muda zaman sekarang mampu menggeluti dunia tenun ulos.

Baca juga: LIVE TV ONLINE: Link Live Streaming Persija vs Persib Bandung, Awasi Simic! Link Live Indosiar

“Ini sebenarnya yang kita takuti. Kaum muda masa kini kurang memberikan perhatian terhadap pelestarian ulos. Dengan demikian, adanya festival seperti ini akan membuat kaum semakin tertarik menenun ulos,” ungkapnya.

Seorang antropolog USU sekaligus narasumber pada festival tersebut Avena Matondang menjelaskan bahwa pelestarian ulos di kawasan Meat seharusnya disadari masyarakat sebagai ladang perekonomian sekaligus pelestarian budaya.

“Kita berharap dengan adanya festival seperti ini, masyarakat semakin tertarik melestarikan adat dan budaya setempat. Seperti di Meat, kita tahu bahwa kawasan ini merupakan sumber tenun ulos Ragihotang.

Semoga ke depannya, kaum muda kawasan ini mampu menjadi agen pelestari khasanah tradisional tersebut,” pungkasnya.

(cr3/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved