Breaking News:

TAHANAN Tewas Diduga Dianiaya, Adik Korban Sering Diminta Uang Keamanan Sebesar Rp 5 Juta

Hendra menghembuskan nafas terakhirnya dengan kondisi tidak wajar di RS Bhayangkara pada Selasa (23/11/2021) malam sekitar pukul 22.30 WIB.

Penulis: Goklas Wisely | Editor: Randy P.F Hutagaol
Tribun Medan/Goklas Wisely
PS Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Kompol Firdaus saat berkunjung ke rumah duka tahanan yang diduga dianiaya, Hendra Syahputra, Rabu (24/11/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Peristiwa tragis dialami Hendra Syahputra, yakni tahanan Polrestabes Medan yang diduga meninggal dunia akibat dianiaya di sel tahanan.

Bagaimana tidak, Hendra menghembuskan nafas terakhirnya dengan kondisi tidak wajar di RS Bhayangkara pada Selasa (23/11/2021) malam sekitar pukul 22.30 WIB.

Hal itu diungkapkan Hermansyah adik kandung korban saat ditemui di rumah duka, Perumahan Tasbih, Blok GG No. 60, Kecamatan Medan Sunggal Kota, Rabu (24/11/2021) malam.

Baru saja ia menghadiri pemakaman jenazah abangnya di Taman PTPU Asam Kumbang pada sore tadi.

Herman masih terlihat teramat pilu atas kejadian yang menimpa abang kandungnya.

Matanya tampak berkaca - kaca. Raut wajahnya menyimpan amarah sekaligus kesedihan.

Ia terduduk di kursi plastik di halaman rumah. 

Para kerabat dekatnya yang datang tampak satu - persatu memeluknya lalu pulang.

Acap kali isak tangis terdengar lirih. 

Saat ditemui Tribun Medan, ia pun dengan terbuka menjelaskan kejanggalan yang diamatinya terkait kematian abangnya.

"Ada bekas lebam, pelipis mata ada luka, mata lebam kanan kiri, punggung lebam, kaki sebelah kiri diduga patah, ada bekas disulut api rokok, serta lainnya," katanya. 

Amatannya itu teramat diyakininya.

Sebab, selaras dengan keluhan abangnya selama di sel tahanan yang kerap kali mengaku disiksa.

Belum lagi, sepengetahuannya Hendra tidak memiliki riwayat penyakit yang akut.

Masih terngiang diingatannya pula momen kala ia berkomunikasi terakhir dengan abangnya di ruangan ICU RS Bhayangkara.

Dia menceritakan, awalnya juru periksa dari Polrestabes Medan menginformasikan kepadanya bahwa Hendra tengah dirawat di RS Bhayangkara pada Selasa (23/11/2021) sekitar pukul 09.00 WIB.

Mendengar kabar itu, sontak ia terkejut dan cemas.

Sebab, juper tersebut juga tidak memberitahu alasan mengapa abangnya sampai dirawat. 

Tak lama ia pun menghubungi  kerabat dekat lainnya dengan tujuan langsung menjenguk Hendra.

Sesampainya di rumah sakit, perawat mengatakan abangnya dalam kondisi koma dan tidak sadarkan diri.

Dalam pikirnya saat itu sangat aneh tiba - tiba Hendra mengalami sakit parah. 

Rasa curiganya mulai muncul dan perlahan menguat.

Dia mengaku sangat jelas melihat ada lebam yang tersebar di sekujur tubuh Hendra.

Dengan kondisi demikian, masih teramat dikenangnya, dalam kondisi kritis itu Hendra hanya sanggup mengatakan kata tolong kepada para keluarganya yang menjenguk.

Seketika air mata jatuh kala itu dan suara tangisan terdengar. 

"Dia tidak bisa bergerak bebas. Matanya terbuka mengarah ke atas dengan pandangan kosong. Badannya penuh luka lebam. Dia hanya sanggup mengucapkan tolong," ungkapnya.

Kata tolong itu pun membawa Herman pada ingatan Hendra selalu meminta pertolongan saat menelponnya dari dalam sel tahanan. 

Berulang kali diterimanya telepon dari Hendra yang meminta pertolongan karena disiksa di dalam sel tahanan.

Herman pun akhirnya secara perlahan menceritakan kronologis Hendra sampai dijebloskan ke sel tahanan Polrestabes Medan.

Hal itu berawal saat Hendra dilaporkan atas kasus dugaan mencabuli anak oleh  Ratnawati Daeng dengan nomor : LP/B/2326/XI/2021/SPKT/Polrestabes Medan/Polda Sumut pada 11 November 2021.

Tepat 12 November 2021 dinihari, sekitar pukul 01.00 WIB, Hendra diserahkan oleh warga dan security (tanpa kehadiran polisi) dari Perumahan Griya Permata IV Blok F - 29, Desa Tanjung Anom, menuju Polsek Pancur Batu.

Tak lama, Hendra diserahkan ke Polrestabes Medan dan kasusnya mulai diproses.

Berdasarkan dokumen yang diterima Tribun Medan, kasus Herman naik ke penyidikan dan muncul surat penangkapan pada 11 November 2021. Lalu, tepat 12 November terbitlah surat penahanan.

Hendra diboyong ke sel tahanan. Herman cemas. Tak berapa lama ia memberanikan diri menjumpai pihak keluarga yang anaknya diduga dicabuli Hendra.

"Mulai dari 10.00 WIB - 16.00 WIB, 12 November 2021, saya berusaha membuat kesepakatan dengan pelapor untuk menarik laporan," sebutnya.

Herman dimintai uang oleh pelapor sebesar Rp 5 juta dan penyidik pembantu (bernama Bripda Sutrisno Butar - bitar) juga berada diangka yang serupa. Walhasil, saat itu juga Herman harus menyetor Rp 10 juta.

Tak tega melihat Hendra dipenjara dalam waktu yang lama, Herman langsung buru - buru mencari uang itu dan berjanji segera memenuhi permintaan.

Lalu, sekitar pukul 19.00 WIB ia telah mendapatkan uangnya Rp 10 juta sesuai perjanjian diawal. Sesampainya di Polrestabes Medan, penyidiknya justru memberitahu agar datang besok pagi, sebab pelapor telah terlanjur pulang.

Pagi 13 November 2021, Herman kembali mendatangi Polrestabes Medan dengan niat serupa. Rupanya pelapor tidak berada di tempat karena alasannya sakit. Tetapi anak si pelapor hadir. Sayangnya anak pelapor tidak bisa memperantarai pelapor.

"Jadi saya minta sama penyidik agar dibantu. Tetapi penyidik tetap bersih keras katakan harus dihadiri pelapor. Kami datangi lah pelapor ke rumahnya tapi pelapor tak ada," ujarnya.

Sampai sore hari, ia bersama keluarga kembali mendatangi rumah pelapor tapi tetap negatif.

Besoknya, pihaknya datang kembali ke Polrestabes Medan.

Penyidik pun berpesan kala itu agar membuat perjanjian hitam di atas putih dan menjumpai pelapor. Selain itu juga bawa RT/RW untuk menyaksikan.

Herman pun kembali mendatangi rumah pelapor. Ia kemudian mendapatkan kabar bahwa pelapor mendapat tekanan dari juper. 

"Jadi ada 4 oknum polisi yang meminta bagian dari pelapor. Dua dari Polrestabes Medan dan dua dari Polsek Pancur. Pelapor bilang ke saya enak kali polisi kok dia ditekan kembali," bebernya.

"Sempat saya bilang berapa yang diminta biar ditanggung. Tapi rupanya terakhir putus komunikasi. Perkaranya jadi tetap berlanjut," ungkapnya.

Pada 14 November 2021, Herman pun mulai dimintai uang sebesar Rp 500 ribu oleh kepala kamar untuk uang makan.

Kemudian Rp 250 untuk uang pulsa.

Usai itu, selama di masa tahanan, dikatakannya Hendra seringkali menelpon untuk meminta dana jaminan keamanan Rp 5 juta.

Jika tidak, Hendra akan disiksa.

Bahkan dalam satu hari sampai 6 kali Hendra menelepon.

Tapi Hendra melalui via telepon enggan mengatakan nama yang menyuruhnya, hanya saja statusnya sebagai penjaga kamar.

"Saat ditelpon, Abang saya selalu bilang disiksa. Bolak balik dua dipukul pakai pentungan karet. Disulut api rokok. Sampai, maaf cakap, hal tidak senonoh dilakukan kepadanya yaitu disodomi," bebernya.

"Maka itu saya tidak terima Abang diperlakukan seperti itu. Dia tidak mungkin bohong. Karena dia sudah tidak tahan," sambungnya.

Atas peristiwa itu, Herman pun sangat berharap ada keadilan atas kematian Abangnya.

Ia meminta agar polisi dapat menguak kasus ini dengan seadil - adilnya. Segala oknum yang terlibat harus diungkap.

"Kami hanya minta keadilan bagi almarhum Abang saya," sebutnya.

Merespon kejadian tersebut, PS Kasat Reskrim Polrestabes Medan Kompol Firdaus menjelaskan pihaknya akan menunggu hasil autopsi jenazah.

"Kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Apakah lebam disebabkan tindakan kekerasan atau tidak," ungkapnya.

Berdasarkan informasi yang didapat Firdaus, Hendra mengalami demam tinggi pada Senin (22/11/2021) sekitar pukul 10.00 WIB.

Kala itu, Hendra langsung dilarikan ke klinik Polrestabes Medan. Menjelang Selasa (23/11/2021) subuh kondisi Herman semakin parah dan kejang - kejang.

Herman pun dilarikan ke RS Bhayangkara dan dimasukkan ke ruangan ICU. Saat itu Herman sudah tak sadarkan diri dan kejang - kejang. Tepat 22.30 WIB, Herman menghembuskan nafas terakhir.

(Cr8/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved