Breaking News:

Menebar Spirit Keberagaman Ekonomi dari Ikan Tilapia di Danau Toba

Saat pemberlakuan karantina wilayah karena pandemi, bisnis KJA secara temporal hanya turun 10% -30%

Editor: iin sholihin
ISTIMEWA
Dr Jannus TH Siahaan 

Dr Jannus TH Siahaan
Pengamat Sosial dan Praktisi Komunikasi

MENGHADAPI tekanan pandemi, ternyata industri pengolahan ikan Tilapia atau usaha perikanan air tawar keramba jaring apung (KJA) di Danau Toba menunjukkan resiliensinya. Saat pemberlakuan karantina wilayah karena pandemi, bisnis KJA secara temporal hanya turun 10% -30%. Belakangan aktifitasnya sudah kembali dinamis.

Geliat budidaya dan bisnis KJA, sudah jauh ditunjukkan sebelum masa pandemi. Jika sempat berkunjung ke Kawasan Danau Toba di akhir 1990-an bisa memberikan gambaran bahwa betapa kehadiran budidaya KJA yang dikelola oleh masyakarat maupun swasta membawa dampak perekonomian dari hulu hingga hilir.

Dari data Divisi Kemitraan CARE IPB, menyebutkan bahwa Desa Haranggaol di Kabupaten Simalungun sebagai salah satu sentra KJA di Danau Toba, justru menjadi desa termakmur se-Sumatera Utara. KJA mulai masuk di Haranggaol pada tahun 1990 saat aktivitas perdagangan menurun.

Baca juga: Dorong Ikan Nila Danau Toba jadi Komoditi Ekspor Andalan Indonesia

Kala itu penduduk desa Haranggaol hanya mengandalkan perdagangan dan budidaya bawang merah sebagai sumber pencaharian. Karena budidaya bawang terkendala oleh wabah penyakit tanaman, penduduk akhirnya beralih kepada budidaya KJA untuk menghindar dari kemiskinan. Hasilnya justru sangat menakjubkan. Desa Haranggaol berhasil menjadikan usaha KJA sebagai sumber kesejahteraan yang jauh melebihi sektor usaha sebelumnya di antaranya pariwisata.

Dampak Ganda Industri KJA

Eskpektasi pemulihan ekonomi masyarakat sekitar Kawasan Danau Toba dibarengi dengan tumbuh pesatnya industri lain yang mendukung keberadaan KJA dan terserapnya ribuan tenaga kerja lokal merupakan dampak ganda. Rantai pasokan industri perikanan air tawar ini bisa kita lihat dari hadirnya entitas dan usaha pendukung lainnya seperti industri pembenihan, pabrik pakan, transportasi, material hingga warung makan dan bisnis lokal lainnya untuk suplai kebutuhan para pekerja KJA.

Nilainya tak main-main, merujuk data Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Sumatera Utara tahun 2020, menujukkan nilai ekonomi KJA di Danau Toba sekitar Rp3,5 triliun setahun dengan serapan tenaga kerja 12.300-an orang baik KJA yang dimiliki masyarakat maupun sector swasta. Nilai ekonomi tersebut meliputi benih Rp0,2 triliun, pakan Rp1,3 triliun, dan hasil produksi ikan lebih dari Rp2 triliun. Nilai tersebut di luar distribusi logistik, komunikasi, kuliner ikan, dan usaha terkait lainnya. Dan perkembangan bisnisnya meningkat setiap tahun sekitar 10%-15%

Budidaya KJA di Danau Toba juga turut mendorong berkembangpesatnya usaha pembenihan di tengah masyarakat, seperti di Simalungun, Deli Serdang, dan Samosir dengan kebutuhan benih 10-15 juta ekor/bulan. Bahkan, para pembudidaya sampai mendatangkan benih nila dari Sumatera Barat.

Peluang Kolaborasi dengan Pemerintah

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved