Breaking News:

SOSOK Deny Arfiana, Branch Manager PT Samafitro Medan, Buat Suasana Kekeluargaan dalam Pekerjaan

Adapun produk yang dijual seperti mesin fotokopi, mesin printer, mesin cetak digital print, mesin sablon, sublim, dan produk IT lainnya.

Penulis: Kartika Sari | Editor: Ayu Prasandi
HO
Deny Arfiana 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - 20 Tahun mengabdi dalam pekerjaan, membuat Deny Arfiana kini berhasil menjadi Branch Manager PT. Samafitro Medan.

Diceritakan Deny, dirinya sudah masuk ke perusahaan yang bergerak dalam bidang distributor fotokopi dan digital print sejak duduk di bangku kuliah tepatnya pada tahun 2001.

Baca juga: Berita Foto: Replika Mobil dari Koran Bekas Hasil Karya Warga Binaan Rutan Tanjung Gusta

"Saya awalnya itu Sales. Waktu awal masuk itu saya gak pede karena saya merasa produk yang dijual itu gak masuk akal yaitu mesin fotokopi dan peralatan perkantoran sedangkan dunia saya tidak seperti ini sebelumnya," ungkap Deny, Jumat (10/12/2021).

Adapun produk yang dijual seperti mesin fotokopi, mesin printer, mesin cetak digital print, mesin sablon, sublim, dan produk IT lainnya.

Dalam perjalanan karirnya, Deny perlahan mengalami peningkatan jenjang karir mulai dari Sales, supervisor pada tahun 2008, dan menjadi kepala cabang pada tahun 2018/2019.

"Selama menjadi sales, saya beberapa kali mendapat award jalan-jalan ke luar negeri, insentif dengan jadi top Sales secara nasional yang biasa dipilih sekitar 10-20 orang. Pernah juga penjualan bagus, seluruhnya di cabang Medan itu berangkat seperti KL, Hongkong, Filipina, Thailand, jadi ganti-ganti," ujarnya.

Mengabdi di perusahaan cukup lama, Deny mengakui hal yang membuat ia berat untuk pindah lantaran sudah memiliki keterikatan kekeluargaan di PT Samafitro ini.

"Saya ini tipe yang setia. Jadi kekeluargaan di Samafitro itu hampir rata-rata bagus dan kompak jadi kita agak sungkan mau pindah. Saya dulu sempat hampir pindah saat diterima di salah satu bank kemudian saya ditawarkan di Farmasi. Kemudian insentifnya juga lumayan," tutur Deny.

Ketekunan Deny yang ia terapkan ini ternyata berasal dari kerja kerasnya saat muda yang pernah bekerja di Pusat Pasar Medan sebagai penjaga toko dan kuli angkut barang.

"Saya pernah nekat buka toko sepatu di pusat pasar. Nah tapi pas itu lagi krisis moneter tahun 1998, jadi hanya bertahan setahun kemudian saya tutup. Kemudian saya akhirnya sering nongkrong di pusat pasar dan bantu angkat-angkat barang orang upahnya itu Rp2000. Kemudian om saya itu nyuruh jaga tokonya dia dari tahun 1998-2001," kenang Deny.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved