Breaking News:

Uang Palsu

Tiga Tahun Terakhir Temuan Uang Palsu di Sumut Meningkat, BI: Untuk Beli Narkoba

Bank Indonesia menyebutkan bahwa tiga tahun terakhir penemuan uang palsu di Sumatera Utara meningkat pesat

Penulis: Alija Magribi | Editor: Array A Argus
Warta Kota/Nur Ichsan
warga ibukota, memperlihatkan uang Rupiah nominal Rp 50 ribu, yang mereka dapatkan dari usaha berdagang, Sabtu (21/12/2013). Jelang pelaksanaan pemilu, warga diminta berhati-hati, diduga banyak uang palsu yang beredar di masyarakat. (WARTAKOTA/Nur Ichsan) 

TRIBUN-MEDAN.COM,SIMALUNGUN- Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa dalam kurun tiga tahun terakhir, atau sejak tahun 2019, temuan uang palsu di Sumatera Utara meningkat pesat. 

Temuan uang palsu tersebut mayoritas pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu.

Boby Christian Manik, Staf Unit Pengelolaan Uang Rupiah - Operasional Kas KPw BI Siantar mengatakan, pada tahun 2019 temuan uang palsu tercatat 138 lembar.

Kemudian, pada tahun 2020 temuan uang palsu meningkat 255 lembar. 

Baca juga: 4 Tips dari Bank Indonesia Agar Mengenal Modus Pengedar Uang Palsu

"Kemudian pada tahun 2021, temuan uang palsu ada 394 lembar. Jadi kami kasir ya, tugas kami itu memberi edukasi kepada masyarakat, mahasiswa dan kelompok kerja lainnya," ujar Boby, Kamis (16/12/2021).

Dia menjelaskan, dari 394 lembar uang palsu yang ditemukan Kpw Bank Indonesia Siantar, diketahui 277 lembarnya merupakan pecahan Rp 100 ribu, 98 pecahan Rp 50 ribu, 11 pecahan Rp 20 ribu  5 pecahan Rp 10 ribu, dan 3 pecahan Rp 5 ribu. 

"Data kita dapat dari permintaan klarifikasi, yang artinya permintaan keterangan temuan tindak pidana uang palsu dari kepolisian. Jadi polisi minta ke Bank Indonesia memastikan apakah uang itu asli atau tidak," kata Boby.

Selanjutnya, Bank Indonesia, ujar Boby, memiliki juga tugas sebagai saksi ahli di pengadilan dalam mengungkap kasus dugaan tindak pidana uang palsu di persidangan.

Baca juga: Pria Ini Cetak Uang Palsu di Kantor Camat Bangun Purba, Sudah Berlangsung Selama Dua Bulan

Upaya pemberantasan uang palsu terus dilakukan BI dengan berkordinasi bersam pengadilan, kejaksaan, kepolisian, dan BIN di wilayah kerja masing-masing Kantor Perwakilan Bank Indonesia. Khusus KPw BI Pematangsiantar memiliki wilayah kerja di 8 kabupaten/kota.

Ke delapan wilayah kerja itu antara lain; Siantar, Simalungun, Batubara, Tanjungbalai Asahan Labuhanbatu Labuhanbatu Utara dan Labuhanbatu Selatan atau (SiSiBaTAsLabuhan).

"Saya pernah memberi keterangan sebagai ahli di Pengadilan Rantauprapat kasus uang palsu. Motifnya beda-beda,  ada yang coba-coba membuat (uang palsu),  Kemudian coba lagi, lalu ada yang meng-order uang palsu.  Biasanya dipakai untuk membeli narkotika," kata Boby.

Boby pun mengajak masyarakat yang memiliki keraguan dengan uangnya agar melaporkan ke petugas berwajib. Perbuatan peredaran uang palsu merupakan pelanggaran hukum dan mengganggu laju inflasi negara.(alj/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved