Breaking News:

Transaksi Uang Elektronik di Sumut Meningkat Pesat, Didorong e-Commerce dan Ojol

BI mengumumkan jika per Oktober 2021 untuk kartu kredit tumbuh sebanyak 1,14 juta lembar, naik dibanding September 2021 sebesar 1,13 juta lembar

Penulis: Kartika Sari | Editor: Eti Wahyuni
Ist
Transaksi uang diigital 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Transaksi secara nontunai mengalami pertumbuhan positif di Sumatera Utara. Berdasarkan data dari Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Utara, tercatat tren uang elektronik kini semakin tumbuh pesat per Oktober 2021 sebanyak 3,30 juta pengguna yang sebelumnya per September 2021 masih sebanyak 3,15 juta pengguna.

Ada pun untuk nominal transaksi tumbuh 102 persen menjadi Rp 1.125 miliar atau Rp 1,125 triliun per Oktober 2021 dengan 13,2 juta transaksi, naik dibanding September 2021 sebesar Rp 1.060 miliar dengan 12 juta transaksi.

"Tren penggunaan uang elektronik yang terus tumbuh didorong oleh meningkatnya integrasi pembayaran uang elektronik dengan berbagai layanan digital seperti e-commerce mau pun transportasi online serta didukung dengan semakin meluasnya implementasi QRIS di Sumatera Utara," ungkap Kepala BI KPw Sumut Soekowardojo, Senin (20/12).

Sementara itu, untuk BI juga mengumumkan jika per Oktober 2021 untuk kartu kredit tumbuh sebanyak 1,14 juta lembar, naik dibanding September 2021 sebesar 1,13 juta lembar.

Baca juga: Transaksi Uang Digital Semakin Ramai, Profesi Teller Bank Terancam Punah, Pimpinan Bikin Strategi

Ada pun untuk nominal transaksi kartu kredit juga meningkat sebesar Rp 1.288 miliar untuk 1.198 ribu transaksi.  Jumlah ini meningkat dibanding bulan September 2021 dengan transaksi sebesar Rp 1.230 miliar dengan 1.119 ribu transaksi.

Di sisi lain, jumlah kartu Debit/ATM di Sumatera Utara per Oktober 2021 sebanyak 8,89 juta lembar, meningkat dibanding September 2021 sebanyak 8,72 juta lembar.

Namun untuk transaksi kartu debit/ATM mengalami penurunan menjadi Rp 22,9 triliun per Oktober 2021 dengan 19,3 juta transaksi yang sebelumnya masih berada di posisi Rp 23,5 triliun dengan 19,3 juta transaksi.

Dijelaskan Soeko, jika penurunan ini diakibatkan lantaran masih adanya pembatasan aktivitas dan mobilitas masyarakat selama PPKM.

"Penurunan ini diprediksi diakibatkan oleh masih berlakunya kebijakan PPKM Level 2 di Sumatera Utara yang membatasi aktivitas ekonomi dan mobilitas serta adanya kecenderungan masyarakat untuk berjaga-jaga menjelang HBKN Nataru," ucap Soeko.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved