Breaking News:

Kasus Stunting di Sergai Turun, Ini Kecamatan yang Relatif Tinggi Kasusnya!

Stunting penting dicegah karena dapat mengancam pertumbuhan anak dan menghambat prestasi anak serta kesejahteraan masyarakat di masa depan.

Ilustrasi 

TRIBUN-MEDAN.com, SERGAI - Kasus stunting atau gagal tumbuh di Kabupaten Serdangbedagai, Sumatra Utara, pada tahun 2021 turun hingga saat ini tinggal 1,3 persen dari angka kelahiran.

"Pada tahun 2021 terjadi penurunan yang cukup signifikan di mana prevalensi data balita stunting menjadi 1,3 persen, dengan jumlah sasaran sebanyak 50.948 di mana ditemukan angka stunting pada sebanyak 678 balita," ujar Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Nina Deliana Hutabarat pada Rapat Percepatan Penanggulangan Stunting di Kantor Bupati Sergai, Selasa (21/12/2021). 

Nina mengatakan, Kecamatan Silinda jadi penyumbang prevalensi stunting tertinggi yaitu 4,3 persen dan Kecamatan Sipispis menunjukkan angka yang lebih rendah jumlah stunting-nya, bila dibandingkan dengan kecamatan yang lain yaitu 0,2 persen.

"Sudah dilakukan perbandingan antara tahun 2020 dengan 2021. Pada tahun 2020 prevalensi (proporsi dari populasi yang memiliki karakteristik tertentu dalam jangka waktu tertentu) data balita stunting di Kabupaten Sergai mencapai 2,2 persen di mana di 17 Kecamatan se-kabupaten ada 39.906 sasaran dengan angka stunting sebesar 905," ucap Nina.

Baca juga: Ibu Hamil Penderita Anemia Ternyata Bisa Lahirkan Anak Stunting, Pemkab Taput Lakukan Hal Ini

Sementara itu, masing-masing kecamatan memiliki data stunting untuk mengatasi hal tersebut, dan perlu peningkatan kerjasama dan komitmen semua pemangku kebijakan. 

"Selain itu diperlukan pelaksana program yang lebih kompak lagi dalam menangani stunting di seluruh kecamatan," ujar Nina. 

Ia menegaskan, stunting penting dicegah karena dapat mengancam pertumbuhan anak dan menghambat prestasi anak serta kesejahteraan masyarakat di masa depan.

"Kurangnya ketersediaan akses air minum yang aman dan sanitasi yang layak merupakan kunci untuk mencegah paparan yang menjadi penyebab terjadi diare, kecacingan dan lain-lain," ujarnya. 

“Salah satu upaya intervensi yang dilakukan yaitu pencegahan risiko stunting yaitu terkait dengan penyediaan air minum aman. Sanitasi yang baik akan mempengaruhi tumbuh kembang balita, sanitasi dan keamanan makan yang kurang dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit infeksi," katanya. (cr23/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved