Breaking News:

Akibat Sengketa Lahan, 200 Kepala Keluarga di Saor Matio Seituan Terancam Kehilangan Tempat Tinggal

200 kepala keluarga di dusun Saor Matio, Desa Seituan, Kabupaten Deliserdang terancam kehilangan lahan dan mata pencaharian

Penulis: Anugrah Nasution | Editor: Salomo Tarigan
TRIBUN-MEDAN.com/Anugerah Nasution
Jones Naibaho kuasa hukum warga Saor Matio Seituan yang bentrok dengan TNI saat berada di POM Lubuk Pakam, Kamis (6/1/2022). Dia bersama warga melaporkan tindak kekerasan yang dialami warga. 

TRIBUN-MEDAN. Com- Sebanyak 200 kepala keluarga di dusun Saor Matio, Desa Seituan, Kabupaten Deliserdang terancam kehilangan lahan dan mata pencahariannya usai sengketa lahan dengan TNI beberapa waktu lalu.

Sengketa lahan seluas 65 hektar mengancam keberlangsungan para warga di sana yang berprofesi sebagai petani.

Pasalnya para petani diminta untuk mengosongkan area tempat tinggal mereka disana karena di klaim sebagai kawasan Hal Guna Usaha Puskopkar TNI AD.

"Area yang bersengketa seluas 65 hektare dan ada sekitar 200 KK yang mata pencariannya sebagai petani. Jadi kalau mereka diminta mengkosongkan lahan tersebut hilanglah pendapatan mereka semua," ujar Jonem Naibaho kuasa hukum warga yang bentrok dengan TNI beberapa waktu lalu, Kamis (6/1/2022)

Joel mengatakan pendirian plang oleh TNI yang meminta pengosongan daerah itulah yang menyebabkan bentrok warga dengan TNI pecah pada Selasa (4/1/2022) lalu.

Warga katanya, warga yang menolak karena merasa telah menempati kawasan itu sejak puluhan tahun lalu.

Kodam I/BB akan melakukan upaya mediasi dengan warga desa Dusun Saor Matio, Kecamatan Pantai Labu terkait sengketa lahan yang terjadi pada Selasa (4/1/2022).
Kodam I/BB akan melakukan upaya mediasi dengan warga desa Dusun Saor Matio, Kecamatan Pantai Labu terkait sengketa lahan yang terjadi pada Selasa (4/1/2022). (Tribun Medan/Goklas)

"Sudah tiga generasi warga tinggal disini, jadi meraka merasa itu milik ayah dan kakek mereka," kata Joel.

Sementara itu Marlin Simanjuntak salah seorang warga dusun mengatakan, dia bersama keluarganya telah puluhan tahun hidup dan tinggal di daerah sengketa itu.

"Aku lahir dan besar disana. Dari ayah dan opung ku sudah hidup disana. Tidak perna ada kuliat ada sawit dan orang yang menguasai lahan itu. Tidak perna ada yang mengatakan siapa pemilik lahan itu," katanya.

Warga Dusun III, Desa Seituan, Kecamatan Pantai Labu, Marlin Simanjuntak, membeberkan perkara kisruh perkara lahan dengan pihak Kodam I/BB saat dijumpai di depan kantor Polisi Militer Deliserdang, Kamis (6/1/2022).
Warga Dusun III, Desa Seituan, Kecamatan Pantai Labu, Marlin Simanjuntak, membeberkan perkara kisruh perkara lahan dengan pihak Kodam I/BB saat dijumpai di depan kantor Polisi Militer Deliserdang, Kamis (6/1/2022). (TRIBUN MEDAN/GOKLAS)


Namun katanya, warga was was dengan adanya TNI yang ingin menguasai lahan yang saat ini mereka tanami padi untuk bertahan hidup sejak puluhan tahun.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved