Breaking News:

Kasus Perceraian

Angka Perceraian di Siantar Tinggi, Jumlah Janda dan Duda Bertambah Banyak

Jumlah janda dan duda di Kota Siantar bertambah banyak di tahun 2022 ini sejalan dengan tingginya kasus perceraian

Penulis: Alija Magribi | Editor: Array A Argus
Kolase Tribun Medan
Ilustrasi gadis belia dan janda muda - 

TRIBUN-MEDAN.COM, SIANTAR- Tingkat perceraian di Siantar mengalami lonjakan drastis pada tahun 2021 kemarin.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Pengadilan Negeri Siantar, majelis hakim telah menyidangkan 87 perkara perceraian yang didaftarkan oleh masyarakat.

Jumlah permintaan perceraian itu tergolong tinggi, mengingat pada tahun 2020, permohonan perceraian hanya 58 perkara.

Baca juga: GETIR, Begini Nasib Janda Kaya Leena yang Sudah 14 Kali Dinikahi Berondong, Harta Terkuras

Humas Pengadilan Negeri Siantar, Rahmat Hasibuan mengatakan, pada umumnya faktor perceraian ini karena sudah tidak cocok dengan pasangan sehingga cekcok terus dalam membangun bahtera rumah tangga. 

Adapun masalah lain penyebab keretakan yaitu ekonomi dan salah satunya meninggal dunia.

“Mereka berselisih atau ribut dan cekcok terus menerus. Kemudian salah satu pihak ada yang meninggalkan pasangan dua tahun berturut-turut dan masalah ekonomi,” ujar Rahmat.

Baca juga: Akhirnya Ayu Ting Ting Jujur Siap Akhiri Status Janda Usai Syifa Nikah, Anak Ayah Ozak Minta Doa

Rahmat menjelaskan, selama menyidangkan ke-87 kasus ini, tentunya ada permohonan cerai yang diputus NO (Niet Ontvankelijke verklaard yang diartikan bahwa gugatan tidak dapat diterima karena mengandung cacat formil. 

“Ya, belum tentu memang (berpisah). Ada yang NO dan ada yang tidak terkabul.

Ya, namanya gugatan pasti ada putusan yang dikabulkan, ditolak dan NO. Gak mungkin setiap perceraian pasti dikabulkan,” kata Rahmat. 

Pada tahun 2021, PN Pematangsiantar menerima 400 perkara pidana dan 137 perkara perdata. Sementara, pada tahun 2020, jumlah perkara pidana yang masuk berjumlah 444 dan perdata berjumlah 112 perkara.

Baca juga: Jumlah Janda di Kota Binjai Makin Banyak Tahun 2022, Sekarang Ada Ratusan Orang

Dari perkara perdata, jumlah perkara PMH tahun 2021 ada 38 perkara (Tahun 2020 : 20 perkara), Wanprestasi 6 perkara (Tahun 2020 : 9 perkara), tanah 1 perkara (Tahun 2020 : 6 perkara), Warisan/Wasian 0 perkara (1), Harta bersama 1 perkara (2) dan Lain-lain 4 (16).

Sementara di klasifikasi perkara pidana, perjudian mengalami penurunan kasus yang signifikan, yang mana pada tahun 2020 sebanyak 69 perkara, kemudian tahun 2021 hanya 21 perkara. Narkotika 247 perkara (Tahun 2020 : 231 perkara), Pencurian 53 perkara (Tahun 2020 : 58).

Kemudian Tahun 2021 Penganiayaan ada 19 perkara (Tahun 2020 : 22 perkara), Penggelapan 21 perkara (16), Penipuan 5 perkara (3), Penadahan 5 perkara (8), KDRT 4 (6), Lalu lintas 2 (2), dan lain-lain 23 (29).

Baca juga: Selama Ini Sering Dibully, Gumay Beber Ciri Pedangdut Berinisial A yang Segera Lepas Status Janda

Berkaitan dengan kasus judi yang mengalami penurunan kasus, Rahmat mengatakan pihakny hanya menyidangkan perkara yang datang dari kejaksaan.

“Kalau analisisnya kita nggak bisa jawab, karena kita hanya menerima, memeriksa, dan mengadili perkara yang masuk saja, bang,” jelas Rahmat.(alj/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved