Breaking News:

Ekspor Karet Asal Sumut Meningkat, Gapkindo Ingatkan Pengusaha Evaluasi Kualitas Produk

Kenaikan ini menggambarkan kinerja ekpor karet asal Sumut masih menunjukkan tren yang positif.

Penulis: Kartika Sari | Editor: Eti Wahyuni
Tribun Medan/Ayu Prasandi
Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah, beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ekspor komoditas karet asal Sumatera Utara mulai terkerek naik per Desember 2021. Hal ini tercatat dari kinerja ekspor karet oleh Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut bahwa ada peningkatan menjadi 39.636 ton karet yang dikirim ke mancanegara.

Jumlah ini meningkat sebesar 7,5 persen dibanding November 2021 yang hanya sebanyak 36.873 ton saja. Kenaikan ini menggambarkan kinerja ekpor karet asal Sumut masih menunjukkan tren yang positif.

"Kenaikan yang signifikan ini menempatkan volume ekspor Desember yang tertinggi sepanjang tahun 2021," ungkap Sekretaris Gapkindo Sumut, Edy Irwansyah, Kamis (13/1/2022).

Baca juga: Kopi Jadi Penopang, Ekspor Sumut Meningkat 22,65 Persen

Dijelaskan Edy, secara kumulatif, volume ekspor di periode Januari-Desember 2021 mencapai 381.668 ton, naik tipis dibandingkan tahun 2020 yang sebesar 380.005 ton.

"Memang lebih baik dibandingkan tahun 2020, tetapi kalau dibandingkan dengan kinerja ekspor 2019 yang belum ada dampak pandemi masih lebih menurun. Karena di tahun 2019 itu, volume ekspor karet kita mencapai 410.072 ton," ujarnya.

Ada pun untuk negara tujuan utama ekspor karet asal Sumut di bulan Desember masih dikuasai negara Jepang sebesar 32,67 persen, disusul negara Brazil sebesar 10,43 persen, lalu negara USA sebesar 9,63 persen dan negara Turki sebesar 9,51 persen terakhir negara China sebesar 6,64 persen.

"Diperkirakan pengapalan di bulan Januari 2022 semakin lancar dari bulan-bulan sebelumnya. Kelancaran pengapalan karena adanya upaya buyer memperbanyak cargo break bulk menggunakan kapal konvensional, sebab kelangkaan kontainer secara global masih terjadi," jelasnya.

Sementara itu, dari kalangan industriawan pengolahan karet Indonesia perlu melakukan evaluasi yang mendalam atas performa produksi yang berlangsung selama ini. Salah satu bahan evaluasi adalah kecenderungan buyer semakin meningkatkan volume pembelian karet dari Thailand berupa STR (Standard Thailand Rubber).

"Pada Januari 2022 ini kondisi kebun karet asal Sumut akan memasuki musim kering yang akan mepengaruhi produksi kebun karet. Keadaan ini juga akan mempengaruhi kinerja ekspor yang kita perkirakan masih stagnan," ucap Edy.

Sebelumnya, berdasarkan catatan dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, nilai ekspor per November 2021 sebesar US$ 988,88 juta, menurun 10,12 persen dibanding Oktober 2021 lalu yang mencapai US$ 1,10 miliar.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved