DAFTAR Lengkap Marga Mandailing dan Tradisi Khas di Pernikahan
Marga merupakan kelompok induk Batak menurut garis keturunan ayah. Marga yang kemudian diwarisi dari generasi ke generasi.
Penulis: Tria Rizki | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com- Batak Mandailing adalah suku bangsa yang banyak ditemui di bagian utara pulau Sumatera dan termasuk bagian dari Batak.
Pada jamannya Suku Mandailing pernah dalam pengaruh kaum padri dari Minangkabau, sehingga suku ini terpengaruh dengan budaya Islam.
Selain itu, suku mandailing juga terdapat beragam marga, seperti Batubara, Batunabolon, Baumi, Borotan, Dalimunthe, Daulae, Dolok, Handangkopo, Harahap, Hasibuan, Hutasuhut, Lancat, Lintang, Lubis, Maga, Mangintir, Mardia, Matondang, Margara, Nai Monte, Nasution, Pane, Parinduri, Pidoli, Pisang, Pulungan, Rambe, Rangkuti, Ritonga, Siregar, Simbolon, Tamba, Tangga Amben, dan Tanjung.
Baca juga: BIKIN HATI SEJUK, Mendengar Suara Merdu Kapolres Mandailing Natal Saat Mengumandangkan Adzan Zuhur
Marga merupakan kelompok induk Batak menurut garis keturunan ayah.
Marga yang kemudian diwarisi dari generasi ke generasi melalui garis keturunan laki-laki.
Dalam perkembangan keturunan anak laki-laki yang memiliki marga membentuk lagi dengan marga-marga yang diturunkan kepada anak mereka, makanya marga seperti ikatan bersaudara kandung yang menurut garis keturunan dari bapak.
Namun Tribuners yang termasuk Suku Batak memiliki pantangan atau aturan adat yang tak diperbolehkan menikah dengan semarga.
Sesuai tradisi pernikahan semarga telah dilarang, karena dapat merusak tata cara tutur dan tradisi.
Apabila dilanggar akan mendapatkan sanksi berupa disirang mangolu (diceraikan hidup) dan diasingkan.
Seperti Suku Batak mandailing yang berbaur mempertahankan tradisi sebagai bagian dari adat istiadat, yang memiliki keunikan dari tradisi pernikahannya.
Baca juga: Gubsu Akui Tambang Ilegal Diduga Picu Banjir di Mandailing Natal, Polda Sumut Segera Turun Tangan
Berikut tradisi khas merayakan pernikahan Suku Mandailing :
1. Horja Godang
Horja godang atau hajatan besar merupakan sebuah pesta adat upacara perkawinan masyarakat Tapanuli Selatan, aktifitas kesenian disertakan (margondang) yang disertai dengan manortor (menari).
Tradisi ini di laksanakan setelah selesai prosesi akad nikah, pada horja godang ini bersama rombongan keluarga diarak oleh dua orang pencak silat, penari, pembawa tombak dan pembawa payung.
Untuk mempelai pria menggunakan penutup kepala yang disebut Happu dan untuk mempelai wanita bermahkota Bulang Mandailing.
Selain itu di depan ikat pinggang mempelai wanita diselipkan sepasang keris berwarna emas.
Namun di tangan mempelai Wanita memegang sebuah keranjang burangir bertuliskan nama mempelai wanitanya.
2. Manortor
Manortor atau menari tortor suku Batak, dalam manortor Mandailing memiliki ciri khas dan berbeda dengan tortor Batak yang lain.
Manortor merupakan tarian sakral yang mulanya untuk menyembah kepada Yang Maha Kuasa, sehingga berkembang sebagai penghormatan kepada leluhur dan sekarang dapat dimaknai untuk menghormati yang lebih tua.
Gerakan Tari Tortor Mandailing dengan cara telapak tangan dihadapkan ke depan, digerak-gerakkan naik dan turun.
Adapun Tari Tortor di Batak yang lain dengan posisi telapak tangan tidak menghadap ke depan, yang membedakannya di jari kelingking berada diposisi terdepan, dan jempol berada diposisi paling belakang (tangan berada diposisi sedikit menyamping).
Dalam Manortor semalam suntuk di Mandailing diawali oleh tuan rumah, selanjutnya oleh kerabat yang semarga dengan tuan rumah (kahanggi), lalu oleh anak boru (pihak pengambil istri dari keluarga suami), dan disambut mora (pihak pemberi istri terhadap suami) yang turun gelanggang untuk manortor.
Selanjutnya akan diadakan maraton, tortor muda-mudi yaitu naposo bulung (remaja putra) dan menurut tradisi Mandailing bahwa pengantin akan ikut namora pule manortor (tari tortor lanjutan di pagi hari).
Baca juga: MANDAILING Natal Diguncang Gempa Tektonik 4,9 pada SR
3. Gordang Sambilan
Selain itu, Tari Tortor Mandailing memiliki musik gordang sambilan atau musik gendang berjumlah sembilan.
Gordang sambilan adalah alat musik sakral khas suku Batak Mandailing yang digunakan dalam menabuh gordang sambilan pada horja, untuk melakukannya tak boleh sembarang.
Karena hanya keturunan Batak Mandailing yang bisa melakukannya dan keturunan pendiri kampung (pemimpin) atau Raja.
Selain keturunan tersebut, setiap raja wajib izin kepada Raja dengan syarat ditabuhnya gordang sambilan harus melakukan penyembelihan satu ekor kerbau.
4. Tuhor
Tuhor dalam tradisi Batak Mandailing adalah memberi uang sebagai mas kawin, yang digunakan untuk mempersunting pasangannya, membeli kebaya dan kebutuhan selama acara pernikahan.
Nilai tuhor sesuai dengan tingkat Pendidikan perempuannya, apabila Tribuners memiliki pendidikan yang tinggi biasanya nilai tuhor mengikuti.
Namun jumlah tuhor dapat dinegosiasi, seperti keadaan sosial, keadaan ekonomi dan lainnya.
5. Mangulos
Mangulos atau memberi ulos yang merupakan simbol rasa sayang dari pemberi kepada penerima, dalam pernikahan Batak Mandailing acara ini untuk kedua mempelai.
Mengutip kamus budaya Batak Toba karya M. A. Marbun, ulos merupakan kain adat yang ditenun dalam masyarakat Batak yang digunakan untuk melindungi dan menghangatkan tubuh.
Namun mangulos adalah menyelimuti atau memberikan dan menyerahkan kain ulos dalam acara adat kepada mempelai.
(cr16/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kahiyang-ayu_20171121_191404.jpg)