Breaking News:

News Video

Satuan Polisi Pamong Praja Asahan Mengaku Pedagang Ngeyel dan Tidak Mau di Relokasi

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Asahan melakukan penggusuran terhadap bangunan liar di pasar Tengku Umar

Penulis: Alif Al Qadri Harahap | Editor: Fariz

TRIBUN-MEDAN.com, ASAHAN - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Asahan melakukan penggusuran terhadap bangunan liar di pasar Tengku Umar, Jalan Tengku Umar, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan, Kamis(10/3/2022).

Penggusuran ini berlangsung ricuh sebab pemilik kios enggan untuk di eksekusi sebelum adanya kepastian relokasi terhadap mereka.

Kabid Trantib Satpol PP Kabupaten Asahan, Budi Limbong saat diwawancarai mengaku sudah ada pemberitahuan hingga surat ke tinga. Namun, para pedagang tidak mengidahkannya.

"Sudah kami surati sampai peringatan ketiga, sampai kami kasih mereka waktu untuk membongkar sendiri. Namun mereka tidak mengidahkan surat tersebut," kata Budi kepada tribun-medan.com.

Lanjutnya, melalui RDP yang dilakukan di kantor DPRD Asahan, para pedagang direlokasikan oleh Koperindag ke pasar Kartini.

"Namun mereka tidak mau, dengan alasan tidak laku dagangannya disana," katanya.

Disini 14 kios di gusur, rencananya mau direlokasi ke Pasar Kartini.

Sebelumnya, Romauli Tambunan, seorang pedagang menghadang petugas Satpol PP yang hendak mengeksekusi dengan bertahan di warungnya agar tidak dilakukan pembongkaran.

"Kami meminta kepada bapak Satpol PP agar tidak di bongkar. Kami akan berangkat dari sini setelah jelas akan di Relokasi," kata Romauli saat menghadang petugas.

Ia mengatakan, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang dilakukan di kantor DPRD Asahan, Koperindag akan memberikan relokasi ke pedagang ke Pasar Kartini.

"Kami dijanjikan untuk dipindahkan ke Pasar Kartini, tapi nyatanya kami digusur begitu saja," katanya.

Masa yang membawa spanduk penolakan tersebut melakukan aksi duduk di kios dengan maksud agar kiosnya tidak di gusur.

"Kami tidak akan pindah. Biarkan kami yang membongkar sendiri setelah kami mendapatkan tempat. Kami mau jualan dimana kalau kami tidak memiliki tempat, agar anak-anak kami bisa sekolah dan menjadi pejabat seperti bapak-bapak semua," katanya.

Mendengarkan hal tersebut, Wisnu kasi Penegakan Perundang-undangan memberikan waktu satu jam untuk pedagang untuk membongkar. Namun, pedagang juga enggan membongkar kiosnya sehingga petugas langsung membongkar paksa toko.

"Sudah satu jam, bongkar," kata Wisnu.

Akibat hal tersebut, pemilik kios meradang dan melakukan aksi tidur di kios, hingga tidur di kolong mobil Satpol PP.

(cr2/www.tribun-medan.com).

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved