Breaking News:

Pencabulan

PUTRI Almarhum Polisi Anumerta di Tebingtinggi Jadi Budak Seks Selama 7 Tahun, Keluarga Bersedih

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI)- Eva Novarisma Purba mengaku heran dengan proses penegakkan hukum yang dilakukan Polres Tebingtinggi

Penulis: Alija Magribi | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Korban pencabulan SRUS, memegang foto almarhum ayahnya Aipda (Anumerta) YS memohon pelaku pencabulan terhadap dirinya ditangkap. 

TRIBUN-MEDAN.com, TEBINGTINGGI -  Sejak dilaporkan pada 31 Januari 2022, pelaku pencabulan terhadap SRUS (22), putri dari Almarhum Polisi Anumerta Aipda YS, belum juga tertangkap.

Keluarga masih menanti langkah Polres Tebingtinggi untuk menangkap pelaku pencabulan SR.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Tebingtinggi - Eva Novarisma Purba mengaku heran dengan proses penegakkan hukum yang dilakukan Polres Tebingtinggi. Pasalnya, sudah tak ada alasan lagi bagi polisi tidak menangkap pelaku pencabulan SRUS yang tak lain adalah ayah sambungnya.

"Korban adalah SRUS yang kami dampingi sejak Januari 2022 tentang persetubuhan atau pencabulan terhadap anak oleh ayah tirinya. Sampai sekarang belum selesai juga tugas pendampingan kami. Yang kami perhatikan ini (penanganannya) agak lambat. Ini kan kasus cabul. Semua harusnya memberi atensi pada kasus ini," kata Eva, Sabtu (11/6/2022) petang.

Eva menerangkan, pencabulan terhadap SRUS dilakukan oleh ayah tirinya berinisial EAP sejak SRUS berusia 14 tahun atau kelas 3 SMP.

Kekejian EAP melakukan aksi bejatnya terjadi selama 7 tahun lebih atau terakhir kali pada November 2021.

Diawali sejak orangtua SRUS yaitu Aipda YS yang merupakan Kasium Polsek Dolok Merawan - Polres Tebingtinggi meninggal dunia tahun 2004, diketahui ibundanya menjanda beberapa waktu lamanya.

Kemudian ibunda korban menjalin asmara dengan pelaku EAP, yang mana EAP dikenal sering mengantar-pergi Ibunda korban sehari-hari atau dalam beberapa kesempatan.

Dari kondisi tersebut, pelaku memanfaatkan celah saat ibunda SRUS mulai sakit-sakitan dengan mencabuli putrinya di kediaman mereka di Kecamatan Tebingtinggi Kota, Kota Tebingtinggi.

"Pencabulan ini dilakukan sejak korban berumur 14 tahun. Nah, memang sungguh amat berat mendampingi kasus ini. Misalkan ini perkaranya tidak duduk, kenapa kasus yang begini berat 'perbudakan seks' ini polisi slow respons?," kata Eva.

Apalagi sejak Januari 2022 sampai dengan Maret 2022, penyidik Polres Tebingtinggi telah memanggil asisten rumah tangga, kakak ipar korban, dan abang kandung korban untuk memberikan keterangan terkait apa yang dialami korban.

Bahkan, LPSK sudah menaruh perhatian serius dengan turun langsung ke Tebingtinggi untuk menjamin restitusi korban.

"Pada akhir maret dikatakan belum cukup bukti untuk dijadikan tersangka. Apa yang kurang? Kami kembali menanyakan ke penyidik. Lalu di April pelaku baru dijadikan tersangka. Tapi Sampai sekarang belum ditangkap juga," kata Eva seraya mengingatkan SPKap sudah dua kali diterbitkan.

Eva berharap atensi Kapolda Sumatera Utara mengingat kondisi psikis si anak (korban) yang saat ini sudah terluka. Korban masih dihantui kegelisahan sampai tak berani beraktivitas keluar rumah.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved