Liputan Khusus

Marak Alamat Siluman di PPDB Zonasi Sumut Tahun 2022

Pada jajaran 10 besar calon siswa diterima di SMA ini, rata-rata memiliki jarak domisili di angka 100 sampai 200 meter dari sekolah.

Penulis: agung | Editor: Royandi Hutasoit
Tribunnews.com
Ilustrasi PPDB Sumut 2022 

TRIBUN-MEDAN.COM - Penerimaan Peserta Didik baru (PPDB) Jalur Zonasi masih terus menjadi kontroversi. Tak terkecuali tahun ini.  Polemik yang mencolok adalah adanya dugaan rekayasa alamat rumah atau domisili calon siswa agar koordinatnya berada pada jarak yang paling dekat dengan alamat sekolah tujuan.

Modusnya beragam. Mulai dari membuat Kartu Keluarga (KK) baru sampai “menumpangkan” nama anak di KK kerabat yang memang berdomisili di dekat sekolah. Ada pula yang memakai semacam surat keterangan pindah.

Dari sisi regulasi, ini sah-sah saja, sesuai amanat Permendikbud yang menyebut syarat untuk PPDB jalur zonasi adalah KK yang didaftarkan memiliki usia pengurusan minimal satu tahun sebelum pendaftaran PPDB dibuka.

Namun kecenderungan ini tak ayal sangat merugikan bagi para calon siswa yang benar-benar berdomisili di wilayah zonasi itu.

Tribun merunut perbandingan penerimaan siswa baru lewat jalur zonasi di SMA Negeri 15 Medan Sunggal dalam beberapa tahun terakhir.

Pada tahun pertama regulasi diberlakukan, calon siswa yang berjarak domisili 3 kilometer dari sekolah yang terletak di kawasan Jalan Pembangunan ini masih dapat lolos.

Namun makin ke sini, jarak domisili yang lolos untuk diterima semakin pendek. Teranyar, pada tahun angkatan 2022, jarak paling jauh dari sekolah adalah 1,2 kilometer, atau “terpangkas” lebih dari separuhnya.

Data diperoleh Tribun, pada jajaran 10 besar calon siswa diterima di SMA ini, rata-rata memiliki jarak domisili di angka 100 sampai 200 meter dari sekolah.

Muncul pertanyaan, apakah dalam kurun waktu –katakanlah– tiga tahun, jumlah warga di seputaran wilayah zonasi SMA Negeri 15 memang bertambah sedemikian pesat?

Kepling Lingkungan (Kepling) IX Kelurahan Sunggal, Jhon Freddy Purba, saat disambangi Tribun sempat menyergitkan kening saat membaca nama-nama yang calon siswa lulus yang tertera pada portal PPDB jalur zonasi untuk SMA Negeri 15. Purba mengaku tidak mengenal satu pun nama di jajaran sepuluh besar itu.

“Jadi kalau untuk radius 100 sampai 200 meter jelas masih dalam lingkungan saya. Bahkan sampai kurang 800 meter pun masih lingkungan saya. Nah, ini ditulis 100 sampai 200 meter. Artinya, kan, rumah mereka dekat sekali dari sekolah. Bisa di depan, samping kiri dan kanan, atau di belakang sekolah. Namun, kok, saya enggak pernah tahu, ya, nama-nama ini,” ucapnya.

Namun begitu, Purba tidak mau menyebut bahwa nama-nama ini bukan anak atau keluarga dari warganya. Kepada Tribun ia menyebut akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

“Pastinya dari nomor satu sampai sepuluh, sejauh saya menjadi kepling di sini, saya belum pernah tahu nama-namanya. Logikanya, kalau masih radius seratusan meter mudah-mudahan saya masih kenal, lah, warga saya. Mungkin saya akan memeriksanya lagi. Mungkin saja saya enggak kenal mereka tapi kenal orang tuanya atau kerabatnya. Nanti saya cek lagi siapa tahu memang ada kekeliruan,” ujarnya.

Tribun mencoba menelusuri alamat-alamat pada calon siswa berdasarkan posisi calon sisiwa diterima pada portal PPDB jalur zonasi. Seorang calon siswa berinisial MIDS beralamat domisili “sepelemparan batu” dari kompleks SMA Negeri 15. Rumahnya, yang terletak di satu komplek perumahan, siang itu kelihatan sepi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved