Harga Sawit

Harga Sawit Terus Anjlok, Petani Sawit di Langkat Ngaku Kesusahan Beli Pupuk dan Biaya Anak Sekolah

Harga sawit terus anjlok. Kini terpantau harga sawit berada di sekitar Rp 900 per kilogram. 

TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Pekerja menyusun kelapa sawit hasil panen di perkebunan kelapa sawit di Namorambe, Deliserdang, Kamis (12/5/2022). Petani sawit di Langkat merasa rugi dengan harga Rp 900 per kilogram. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Harga sawit terus anjlok. Kini terpantau harga sawit berada di sekitar Rp 900 per kilogram

Anjloknya harga sawit membuat petani kelapa sawit menjadi susah. Sumut sebagai penghasil buah sawit terbesar di Indonesia cukup merasakan dampak ini. 

Petani sawit asal Langkat, Rita, mengungkapkan harga sawit anjlok tidak dapat menutup harga pupuk yang kian mahal. 

Ia merasa harga sawit Rp 900 per kilogram sangat rendah. Sehingga, menjadi dampak buruk bagi keuangan para petani sawit.  

"Turun kali harganya, sudah Rp 900 per kg," Ujar Rita petani sawit asal Langkat.

Bahkan, kata Rita, ia tidak lagi memupuk pohon sawitnya untuk perawatan. Meski sudah masuk jadwal pupuk, Rita membiarkan kelapa sawitnya begitu saja. 

Rita yang memiliki lahan sawit seluas 2 hektare ini mengaku tak dapat memenuhi biaya perawatan.   

"Harusnya sudah masuk jadwal pupuk, tapi harga pupuk saja mahal, harga sawitnya turun, jadi nggak bisa beli pupuk," ujar Rita.

Disamping perawatan yang tidak bisa dilakukan, Rita yang merupakan ibu tunggal mulai bingung mencari biaya sekolah untuk anaknya.

"Penghasilan saya hanya dari sawit, ini sudah masuk naik-naikan kelas. Biaya kebutuhan sekolah pun harus dipenuhi, terpaksa menambah utang ke agen sawit lah," jelas Rita.

Rita berharap, pemerintah segera mengatasi permasalahan yang terjadi.

"Saya masyarakat kecil tidak tau apa-apa soal kebijakan. Penghasilan saya hanya sawit, pak Jokowi tolong segera atasi masalahnya apa, biar kami bisa panen lagi seperti biasa," ujar ibu tunggal itu.

Di tempat yang sama, Edi yang merupakan agen kelapa sawit di Langkat mengatakan, walau saat ini masa panen meningkat, tapi harganya tidak sesuai.

Jadi petani pun tidak mendapatkan apa-apa.

"Petani tak dapat manfaat kalau panen lagi banyak, namun harga turun," katanya.

(cr26/tribun-medan.com)

 

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved