Berita Medan

Terbukti Lakukan Pengeroyokan Cuma Persoalan Parkir, Terdakwa Ali Botak Divonis 2,5 Tahun Bui

Terbukti bersalah melakukan pengeroyokan, Muhammad Ali Effendi alias Botak warga Jalan Pasar VII Tembung divonis 2,5 tahun penjara

TRIBUN MEDAN / GITA
Terbukti bersalah melakukan pengeroyokan, Muhammad Ali Effendi alias Botak warga Jalan Pasar VII Tembung divonis 2,5 tahun penjara di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (11/7/2022). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Terbukti bersalah melakukan pengeroyokan, Muhammad Ali Effendi alias Botak warga Jalan Pasar VII Tembung divonis 2,5 tahun penjara di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (11/7/2022).

Majelis Hakim yang diketuai Oloan Sialalahi menilai pria 39 tahun itu terbukti bersalah melakukan tindak pidana bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa tersebut, oleh karena itu dengan pidana penjara selama dua tahun dan enam bulan. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani oleh terdakwa, dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan," kata hakim.

Majelis Hakim menilai, bahwa terdakwa telah memenuhi unsur bersalah sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 170 ayat (1) KUHPidana.

"Menetapkan terdakwa tetap dalam tahanan," ujar hakim.

Diketahui, vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sri Yanti Lestari yang sebelumnya menuntut terdakwa, dengan pidana penjara selama 3 tahun.

Sementara itu, JPU dalam dakwaannya menuturkan bahwa perkara ini bermula pada Senin 07 Juni 2021 lalu, sekira pukul 03.00 WIB, saat saksi korban Josua Tobing sedang mengutip uang parkir.

"Saat itu, Josua melihat saksi korban Thomson Samosir sedang dipukuli oleh Umar dengan menggunakan balok bersama dengan kawan-kawannya di sebuah warung kopi," ujar JPU.

Setelah memukul Thomson tiba-tiba Pantos mendatangi Josua dan langsung memukulnya dengan gancu dan mengenai telinga kiri Josua.

Kemudian, Fidelis Lase alias Fide datang membawa kayu memukul saksi Josua di bagian badan, kemudian terdakwa Muhammad Ali Effendi alias Botak dan saksi Muhammad Fahrul Rozi Sitepu alias Sitepu memukul Josua menggunakan sekop semen dan mengenai rusuk kiri Josua.

"Setelah itu datang juga tiga orang yang Josua tidak kenal yang ikut memukulinya menggunakan parang dan kayu hingga Josua terjatuh di aspal," ucap JPU.

Setelah Josua terjatuh, kemudian Muhammad Fahrul Rozi Sitepu bersama teman-teman terdakwa meninggalkan tergeletak di aspal, selanjutnya saksi Josua pun lari ke gedung nasional dan bertemu dengan Ageng dan Marudut yang kemudian membawanya ke RS Pirngadi

Sebelumnya, pada Senin 07 Juni 2021 sekitar pukul 03.00 WIB di Jalan Martimus Lubis, Kelurahan Medan Perjuangan Kota Medan saksi korban Thomson Samosir duduk di warung kopi.

Kemudian datang saksi Fidelis Lase dan meminta anggotanya keluar dari lokasi tersebut. Namun Thomson Samosir tidak menggubris.

Tiba-tiba terdakwa teriak menunjuk Thomson Samosir sambil mengatakan 'Habisin'.

Kemudian datang Umar memukul saksi korban Thomson Samosir dengan menggunakan balok, yang kemudian menyusul teman-teman terdakwa yang lain ikut memukuli dengan menggunakan alat, hingga Thomson terjatuh.

"Kemudian, Thomson pun mencoba berdiri sambil berteriak minta tolong, kemudian Thomson pergi ke simpang kantor PM untuk menyelamatkan diri. Selanjutnya Thomson menelepon Doni Nainggolan yang kemudian menjemput dan membawanya ke RS Umum Pringadi," pungkas JPU.

(cr21/tribun-medan.com)

 

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved