Breaking News:

Berita Persidangan

NEKAT Mencuri SHM dan Gadai Rp 60 Juta, Korban Merugi Rp 1,5 Miliar, Begini Kronologi Kejadiannya

Rudi Chandra Alias Aheng, warga Tanjung Rejo Medan Sunggal berakhir di penjara usai nekat mencuri Sertifikat Hak Milik (SHM) milik orang lain.

TRIBUN MEDAN/GITA
NEKAT Mencuri SHM - Saksi notaris saat memberikan keterangan di Pengadilan Negeri Medan terkait kasus pencurian dan penggadaian SHM, Selasa (2/8/2022). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Rudi Chandra Alias Aheng, warga Tanjung Rejo Medan Sunggal berakhir di penjara usai nekat mencuri Sertifikat Hak Milik (SHM) milik orang lain.

Tidak hanya itu, lelaki 46 tahun itu juga didakwa nekat menjual atau menggadai sertifikat tersebut hingga mengakibatkan saksi korban Amoi merugi Rp 1,5 miliar.

Baca juga: BAKU Hantam setelah Tabrakan di Jalan Binjai, Seorang Pengendara Meninggal Dunia

Hal tersebut terungkap dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Randi Tambunan, dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (2/8/2022).

Ia menuturkan bahwa perkara ini berawal pada tahun 2006 lalu, saat saksi korban Amoi melakukan perikatan jual beli dengan saksi Irmaida/Nurliyan Nomor 01 tanggal 12 Oktober 2006 di hadapan Notaris Reni Nurul Aini Manurung, dengan harga tanah Rp 400 juta.

Baca juga: KABAR DUKA Pantur Silaban Fisikawan Sekaligus Guru Besar ITB Meninggal Dunia

"Selanjutnya, saksi Irmaida menyerahkan Sertifikat Hak Milik Nomor 3092 An. Nurliyah dan Irmaida kepada saksi korban Amoi. Kemudian Amoi menyimpan Setifikat Hak Milik (SHM) tersebut di dalam kamar tidurnya," kata jaksa.

Lalu, pada bulan April 2012 terdakwa Rudi Chandra Allias Aheng masuk ke dalam rumah saksi korban Amoi yang terletak di Jalan Mega Kecamatan Medan Sunggal.

"Lalu, terdakwa menyuruh saksi Aini untuk keluar, dan pada saat itu terdakwa langsung masuk ke dalam kamar saksi korban Amoi dan langsung mengambil Surat Sertifikat Hak Milik Nomor 3092 An. Nurliah dan Irmaida tertanggal 09 Februari 2007 di bawah kasur kamar tidur Amoi tanpa izin dari pemiliknya yang sah," ujar jaksa.

Baca juga: DUA Maling Nekat Beraksi di Kompleks TNI AU, Dibekuk Tentara Bersama Barbut dan Diserahkan ke Polisi

Setelah terdakwa mengambil SHM tersebut, lalu ia menghubungi Budi alias Apek (Daftar Pencarian Orang) untuk menggadaikan SHM tersebut.

Lalu, terdakwa sepakat bertemu dengan Budi di SPBU Gatot Subroto Sei Sikambing B, dan saat itu terdakwa bertemu dengan Budi dan saksi Nurliana, lalu terdakwa menggadaikan tersebut sebesar Rp 60 juta kepada saksi Nurliana.

Lalu, sehari kemudian terdakwa disuruh Budi datang ke Kantor Notaris Nuriljani Iljas dan membawa sertifikat tersebut, dan setelah terdakwa bertemu dengan Budi, lalu terdakwa menyerahkan SHM tersebur kepada Budi, sementara saksi Nurliana dan terdakwa menunggu di ruang tamu kantor Notaris.

"Sekira dua jam, Budi dan Nurliana keluar dari ruangan Notaris, lalu saksi Nurliana memberikan uang sebesar Rp 60 juta kepada terdakwa," beber jaksa.

Pada bulan April 2012 saksi korban Amoi mau menjual SHM tersebut, namun ia sadar SHM tersebut tidak ada.

Lalu, saksi Aini menceritakan kepada saksi korban Amoi bahwa tersebut telah diambil oleh terdakwa.

Lalu saksi korban Amoi menanyakan kepada terdakwa, dan terdakwa mengatakan bahwa Sertifikat tersebut telah digadaikan atau dijual kepada saksi Nurliana.

Kemudian, saksi korban Amoi menyuruh terdakwa untuk mengembalikan SHM yang digadaikan atau dijual terdakwa tanpa izin saksi korban Amoi.

Akibat perbuatan terdakwa yang telah saksi korban Amoi merasa keberatan dan mengalami kerugian sebesar Rp 1.5 miliar, sehingga Amoi melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.

"Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 362 KUHP," pungkas jaksa


(cr21/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved