Wisata Sumut

Kerja Rani GBKP, Bawa Hasil Panen Terbaik untuk Ucapan Syukur, Wisata Sumut Bidang Budaya

Dalam bahasa Indonesia Kerja Rani atau dipisah menjadi dua suku kata, yakni Kerja yang artinya Pesta dan Rani yang memiliki makna Panen.

Angel Aginta/Tribun-Medan
Pelaksanaan Kerja Rani di GBKP Runggun Sikeben-Martelu, Kacamatan Sibolangit, pada Minggu (7/8/2022)./ Angel Aginta/Tribun-Medan 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kerja Rani adalah salah satu kegiatan yang bisa menjadi andalan dalam Wisata Sumut terutama dalam bidang budaya dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Kekayaan budaya (Kerja Rani) ini tentunya jika dikembangkan bisa menjadi kekuatan Wisata Sumut dalam wisata budaya.

Dalam bahasa Indonesia Kerja Rani atau dipisah menjadi dua suku kata, yakni Kerja yang artinya Pesta dan Rani yang memiliki makna Panen.

Maka dapat dimaknakan Kerja Rani merupakan sebuah perayaan yang dilaksanakan dengan mengumpulkan hasil panen terbaik oleh masing-masing jemaat (profesi petani-peternak) sebagai persembahan kepada Allah. 

Perayaan Kerja Rani dilaksanakan setiap pertengahan tahun dan bertepatan dengan waktu panen pada umumnya. 

Dimana para jemaat akan membawa persembahan terbaiknya dari hasil panen seperti sayur-sayuran, buah-buahan, hewan ternak atau pada umumnya yaitu ayam kampung, dan hasil dari ternak yakni telur-telurnya serta beras dan lainnya. 

Maka dalam hal ini, dapat disimpulkan dimana ketika kita memberikan persembahan berarti kita telah memuliakan Tuhan dari hasil panen yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita. 

Serta pekerjaan atau profesi saat ini adalah sebagai sumber utama yang telah diberikan Tuhan kepada kita dan keluarga. 

Nah, Kali ini Tribun Medan merangkum pelaksanaan Kerja Rani di GBKP Runggun Sikeben-Martelu, Kacamatan Sibolangit, pada Minggu (7/8/2022). 

Diawali dengan Pendeta Novika Pinem dan Pendeta SR Barus memimpin rombongan majelis gereja GBKP Runggun Sikeben-Martelu memasuki ruangan pelaksanaan kerja rani. 

Dan dilanjutkan dengan kebaktian, selepas dari itu acara Kerja Rani dimulai dengan rombongan prosesi jemaat disambut dengan tarian Karo oleh anak permata (remaja gereja) yang berpakaian kebaya dan tudung khas tradisional Suku Karo. 

Gerakan tarian Karo yang gemulai ini diiringi lagu Karo Mejuah-juah dan Mbuah Page dan para jemaat pun bernyanyi dan menari dengan penuh semangat dan sukacita. 

Dalam prosesi ini ikut serta Pertua dan Diaken serta jemaat yang membawa "luah" atau hasil panennya untuk disambut oleh kedua pendeta. 

Sementara persembahan “luah” hasil panen yang dibawa para jemaat kali ini juga berbeda-beda jenisnya. Selain hasil panen, berbagai jenis masakan khas Karo juga banyak disajikan.

Pada akhir Pesta Kerja Rani, hasil panen yang diberikan ini nantinya akan dilelang dan dibeli oleh jemaat dan jemaat akan berlomba-lomba dengan sukacita untuk menawarkan harga tertinggi untuk mendapatkan hasil panen tersebut. 

Dalam Kerja Rani ini, jemaat bersukacita dalam merayakan Kerja Rani, karena perayaan ini adalah ungkapan syukur atas berkat Allah atas kelangsungan hidup dan juga berkat Allah atas kelangsungan hidup GBKP, sehingga janganlah dilakukan dengan perasaan terbeban dan terpaksa. 

Biarlah wujud sukacita yang akhirnya berwujud uang dari hasil lelang dan janji iman atas hasil panen pertanian-peternakan, ataupun dalam bentuk puji-pujian kepada Tuhan, bisa digunakan untuk perjalanan pelayanan gereja GBKP.

(cr9/Tribun-Medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved