Pemkab Langkat

Pimpin Apel Antisipasi Karhutla di Langkat, Kapolres AKBP Danu Pamungkas Sampaikan Tiga Poin Penting

Danu juga menjelaskan, berdasarkan data Bank Dunia, kerugian Indonesia akibat kebakaran hutan dan lahan sepanjang tahun 2019 mencapai miliaran rupiah

Editor: Satia
Dok. Pemkab Langkat
Polres Langkat menggelar apel kesiapan penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), di Lapangan Jananuraga Mapolres, Stabat, Jalan Proklamasi, Jumat (12/8/2022). 

TRIBUN-MEDAN.COM, STABAT - Polres Langkat menggelar apel kesiapan penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), di Lapangan Jananuraga Mapolres, Stabat, Jalan Proklamasi, Jumat (12/8/2022).

Apel dipimpin Kapolres Langkat AKBP Danu Pamungkas Totok SH SIK.

Turut hadir Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Langkat H Syah Afandin SH melalui Staf Ahli Bidang SDM, Sosial dan Masyarakat, H Sujarno. 

Usai apel, Sujarno menegaskan Pemkab Langkat siap bersinergi dengan TNI Polri serta pihak terkait untuk menjaga, mencegah dan menangani Karhutla di wilayah Langkat. 

Sebelumnya, Amanat Kapolres Langkat  bahwa apel diselenggarakan secara serentak di seluruh Kabupaten/Kota se Provinsi Sumatera Utara.

Melalui kegiatan ini diharapkan menjadi suatu trigger untuk memastikan kesiapsiagaan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari Pemerintah Daerah, TNI-POLRI dan seluruh Instansi terkait lainnya serta organisasi pecinta lingkungan. 

Baik pada aspek personel maupun sarana prasarana, dalam rangka mencegah dan menanggulangi bencana kebakaran Hutan dan Lahan yang terjadi di wilayah Provinsi Sumatera Utara.

AKBP Danu juga menjelaskan dari sisi ekonomi, berdasarkan data Bank Dunia, kerugian Indonesia akibat kebakaran hutan dan lahan sepanjang tahun 2019 mencapai Rp72,95 triliun.

Ini akibat terjadinya kebakaran hutan dan lahan pada delapan provinsi di Indonesia. 

Dampak ekonomi lainnya yaitu terjadinya penghentian Operasional Bandar Udara sehingga memutus akses mobilitas masyarakat. 

Selain berdampak terhadap Perekonomian, Kebakaran hutan dan lahan juga berpengaruh terhadap kondisi kesehatan masyarakat.

Tercatat pada bulan September tahun 2019, lebih dari 900.000 orang mengalami gangguan pernafasan sebagai dampak jebakaran dan kabut asap.

Kebakaran hutan juga menyebabkan terganggunya ekosistem dan kerusakan lingkungan.

Selanjutnya AKBP Danu menjelaskan, dalam mengatasi bencana kebakaran hutan dan lahan, terdapat tiga langkah penanggulangan yang dapat dilaksanakan.

Pertama, pencegahan dengan memberikan sosialisasi yang berisi himbauan kepada masyarakat dalam membangun kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan.

"Kedua, kecepatan penanganan pada saat terjadinya kebakaran hutan dan lahan, pada saat penanganan Karhutla, para pimpinan wilayah agar melakukan penanggulangan secara cepat serta melaporkan kepada pimpinan tingkat provinsi, sehingga dapat memberikan dukungan personel maupun sarana prasarana pendukung," kata dia.

Terakhir, melakukan penegakan hukum serta mengungkap fakta terjadinya kebakaran hutan dan lahan tersebut.

 

*

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved