Breaking News:

Musim Hujan Berkah bagi Petani Kopi di Karo

Sebelum memasuki musim hujan, para petani sangat merasakan kesulitan dalam memproduksi kopi berkualitas.

Penulis: Angel aginta sembiring | Editor: Eti Wahyuni
HO
Petani kopi saat membersihkan lahan di kebun kopi miliknya di daerah Gundaling, Kecamatan Brastagi, Karo beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Musim hujan merupakan musim yang paling dinantikan oleh para petani. Karena pada musim tersebut dapat memberi harapan akan panen yang melimpah.

Musim hujan juga menjadi musim yang paling tepat untuk memanen dan mulai menanam tanaman baru seperti yang dilakukan oleh petani kopi di Kabupaten Karo, Sumatra Utara. Sebab, musim hujan adalah musim yang dapat mempercepat proses masaknya buah kopi.

Dikatakan petani kopi asal Karo, Ariani Br Sinulingga, petani kopi asal Karo dan sekitarnya saat ini sudah memasuki musim panen kopi dan merasakan berkah hujan di bulan Agustus. Di mana selama beberapa hari ini ia mampu meraih hasil panen kopi sebanyak tiga sampai lima karung dengan masing-masing karungnya berisi 50 kilogram.

Ia mengatakan, sebelum memasuki musim hujan, para petani sangat merasakan kesulitan dalam memproduksi kopi berkualitas. Bahkan di sebagian daerah 65 persen biji kopi busuk di dalam.

"Memang cuaca ini sangat berpengaruh sekali bagi kami para petani kopi, karena apabila intensitas hujannya sedang dan stabil itu hasil yang banyak bagi komoditas kopi namun dengan intensitas hujan yang besar itulah yang menyebabkan gagal panen nantinya," ujarnya, Selasa (23/8/2022).

Ia menjelaskan, masa tanam kopi mulai dari proses keluarnya bunga hingga pemetikan membutuhkan waktu antara 9 sampai 10 bulan.

Baca juga: Kopi Arabika Sipirok Masuk Kategori Kopi Terbaik Se Nusantara, Akan Ikut Lelang di Jogya

Jika selama masa tersebut cuaca tidak mendukung maka produksi akan merosot. Ia berharap, intensitas hujan tetap dalam kondisi sedang, sehingga selama masa tanam hingga panen mendatang kualitas kopi bisa terjaga.

Seperti diberitakan sebelumnya, akibat cuaca yang tidak stabil beberapa waktu lalu sempat membuat dampak besar bagi penurunan stok dan produksi kopi di Sumut secara signifikan.

Ketua Dewan Kopi Indonesia Perwakilan Sumut, Ujiana Sianturi menyampaikan, pihaknya mendapatkan berbagai keluhan dan masalah dari beberapa daerah di Sumut seperti Samosir, Dairi, dan Pakpak Bharat.

Berbagai masalah lainnya juga datang dari petani kopi asal Dairi. Beberapa waktu lalu para petani Dairi sangat butuh treatment pohon kopinya untuk mengatasi jamur. Hal itu agar kopi tersebut bisa berbunga dan otomatis akan menghasilkan buah yang berkualitas.

"Lalu ada keluhan dari Pakpak Bharat, petaninya mengeluhkan daun kopinya menguning , dan masih banyak keluhan dari daerah penghasil kopi lainnya," ujarnya.

Namun dengan curah hujan yang baik, ia optimistis para petani kopi di Sumut akan menghasilkan komoditas kopi yang meningkat terlebih memasuki bulan September nantinya.

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved