Waspadai Harga Energi dan Disrupsi Pasokan, Inflasi Tahunan Tunjukkan Tren Peningkatan

berbagai indikator ekonomi terkini di Sumut terus menunjukkan perbaikan dan mengindikasikan perekonomian yang tetap tumbuh.

Penulis: Angel aginta sembiring | Editor: Eti Wahyuni
Thinkstock
Ilustrasi Inflasi 


TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Tekanan inflasi tahunan di Provinsi Sumut menunjukkan tren peningkatan pada Juli 2022.

Kepala Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Sumatra Utara, Doddy Zulverdi mengatakan, inflasi Sumut per Juli turun menjadi 0,31 persen. Angka tersebut lebih rendah dibanding inflasi nasional sebesar 0,64 persen.

Namun begitu, ia menyampaikan hal ini tetap harus diwaspadai, karena masih tingginya harga energi seiring masih adanya disrupsi pasokan terkait konflik geopolitik, termasuk penurunan harga pangan global didorong potensi resesi seiring membaiknya pasokan.

"Untuk itu semua pihak wajib mewaspadai agar tidak naik lagi. Inflasi Sumatra pada Juli 2022 sebesar 6,43 persen (yoy) dan inflasi Sumut sebesar 5,62 persen (yoy) sehingga harus diwaspadai karena telah melampaui sasaran inflasi nasional 3 persen±1 persen,” ujar Doddy dalam rapat pengendalian inflasi berkelanjutan di Aula Tengku Rizal Nurdin rumah dinas Gubernur, Kamis (25/8/2022).

Lanjutnya, ada pun penyebab utama peningkatan tekanan inflasi Sumut tersebut yakni kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta transportasi.

Baca juga: GUBERNUR Edy Rahmayadi Beber Dua Hal yang Akan Dilakukan Pemprov Atasi Inflasi di Sumut

Dikatakannya, berbagai indikator ekonomi terkini di Sumut terus menunjukkan perbaikan dan mengindikasikan perekonomian yang tetap tumbuh.

Pulihnya ekonomi di Sumatra Utara tercermin pada meningkatnya mobilitas masyarakat yang dapat mendorong peningkatan konsumsi. Selain itu, peningkatan konsumsi masyarakat juga terkonfirmasi melalui peningkatan keyakinan konsumen dan indeks penjualan riil.

BI juga mengkonfirmasi adanya potensi peningkatan permintaan domestik dan ekspor di tengah kenaikan biaya bahan baku serta energi sebagai dampak krisis global yang terus berlanjut.

Ia menuturkan, perekonomian Sumut tahun 2022 diprakirakan tumbuh lebih tinggi dari tahun 2021 dengan rentang proyeksi 4,1 persen - 4,9 persen (yoy).

Kian pulihnya mobilitas dan membaiknya daya beli akan mendorong konsumsi masyarakat. Tetap tingginya harga komoditas utama serta berlanjutnya program PEN juga diprakirakan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Sumut tahun 2022 lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun demikian, berlanjutnya konflik geopolitik yang berisiko melanjutkan gangguan rantai pasok global serta perkembangan ekonomi global yang diwarnai peningkatan inflasi menjadi hal yang perlu diwaspadai. Oleh karena itu, diperlukan penguatan sinergi dan koordinasi dalam program pengendalian inflasi.

Disebutnya juga perihal cabai merah di Sumut yang hasilnya surplus, tetapi begitu panen dan langsung dikirim keluar sehingga harga cabai merah di Sumut mahal.

“Inilah ke depan yang perlu kita antisipasi, dan pengawasan dari Bupati/Wali kota se-Sumut sangat dibutuhkan," pungkasnya.

 

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved