Wakil Ketua Apindosu, Usli Sarsi: Perpanjangan PE 0 Persen Sangat Tepat

Wakil Apindo Sumut bidang Perkebunan dan Pertanian, Usli Sarsi menyambut baik langkah pemerintah perpanjang tarif pungutan ekspor sebesar nol persen.

Editor: Ismail
Istimewa
Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumatera Utara bidang Perkebunan dan Pertanian, Usli Sarsi 

TRIBUN-MEDAN.COM - Langkah pemerintah melalui Komite Pengarah Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) memperpanjangan tarif pungutan ekspor (PE) sebesar nol persen atau nol dolar AS untuk semua produk sawit hingga 31 Oktober 2022 disambut baik Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumatera Utara bidang Perkebunan dan Pertanian, Usli Sarsi.

“Ini langkah yang sangat baik sekali,” katanya melalui telepon saluler.

Dikatakanya pemerintah saat ini sudah membuat kebijakan-kebijakan yang mendukung industri sawit, baik di hulu maupun di hilir.

Dengan adanya perpanjangan tarif PE sebesar nol dolar AS sebutnya dapat menjaga harga crude palm oil (CPO) stabil. Begitu pula dengan harga barang turunan dari CPO seperti minyak goreng lebih stabil sehingga harga tandan buah segar (TBS) dapat memberikan keuntungan kepada Petani.

Penurunan tarif PE sebesar nol dolar AS yang dilakukan pemerintah pada bulan Agustus lalu harga minyak goreng secara perlahan turun dan harga TBS perlahan kembali naik. Pelaku usaha di sektor sawit mulai merasakan manfaatnya.

“Dalam berbagai kesempatan saya mengatakan bahwa industri sawit merupakan kekuatan ekonomi Indonesia yang tidak dimiliki negara lain,” ungkapnya.

Bangsa Indonesia bisa menjadi negara penghasil sumber energi terbarukan terbesar di dunia.

Kalau beberapa puluh tahun lalu, negara yang memiliki banyak sumur minyak bumi menjadi negara kaya karena memiliki sumber energi berlimpah. Karena terus eksplorasi dan diambil terus menerus, akhirnya banyak sumur-sumur minyak bumi yang kering. Sementara minyak bumi yang berasal dari fosil ratusan tahun lalu tidak bisa diperbaharuhi.

Lalu lanjutnya berbagai negara mulai mencari sumber energi terbaharukan dan ramah lingkungan. Salah satu yang sangat memungkinkan untuk menghasilkan sumber energi yang banyak dan ramah lingkungan adalah sawit.

“Kita sangat mendukung penggunaan minyak sawit sebagai biodiesel,” tegasnya.

Saat ini campuran minyak sawit pada solar masih 30 persen atau B30. Ini katanya harus terus ditingkatkan menjadi B40 dan seterusnya hingga B100.

Langkah pemerintah meningkatkan volume campuran produk B30 hingga akhir Desember 2022 yang semula sebesar 10.151.018 kiloliter menjadi 11.025.604 kiloliter sangat tepat untuk memenuhi peningkatakan kebutuhan solar.

“Dengan menjadikan sawit sebagai sumber energi, Indonesia tidak perlu khawatir dengan semakin menipisnya cadangan minyak bumi di dunia,” tegasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved