Penyaluran BLT

Camat di Simalungun Dianggap tak Beres, Masyarakat Penerima BLT Dipaksa Beli Sembako

Warga Kecamatan Gunung Maligas, Kabupaten Simalungun memprotes kebijakan Camat Masarah yang memaksa warga membelanjakan uang BLT

Penulis: Alija Magribi | Editor: Array A Argus
HO
Warga mengantre penyaluran BLT di Desa Karanganyar, Kecamatan Gunung Maligas, Kabupaten Simalungun. Tak sedikit warga kecewa karena uang yang diperoleh langsung dibelanjakan sembako 

TRIBUN-MEDAN.COM,SIANTAR- Sejumlah warga di Kecamatan Gunung Maligas, Kabupaten Simalungun memprotes kebijakan Camat Masarah yang memaksa warga membelanjakan uang Bantuan Langsung Tunai (BLT) di e-warung.

Menurut warga, uang BLT yang diterima itu tidak bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lainnya. 

Seorang warga, Budi, menyampaikan mereka mendapat uang BLT sebesar Rp 200 ribu/bulan, kemudian dirapel selama tiga bulan, sehingga ia mendapat Rp 600 ribu.

Uang itu diserahkan di Kantor Desa Karanganyar Pasar I, Kecamatan Gunung Maligas.

Baca juga: Polsek Porsea Lakukan Pengawasan Penyaluran BLT di Kantor Desa Parparean

“Berita acara penyerahan BLT di Kantor Pos, pak. Cuma pengambilan di kelurahan, tepatnya di Desa Karanganyar Pasar 1, pak. Saya sendiri dikasih surat pada hari Sabtu dan ambil BLT-nya hari Minggu kemarin,” kata Budi saat dikonfirmasi, Rabu (14/9/2022) siang.

Namun demikian, uang yang diterima Budi Rp 600 ribu tersebut langsung diminta panitia untuk dibelanjakan ke e-warung.

Warga dipaksa membelanjakan uang yang diterima tersebut untuk membili kebutuhan pokok/sembako.

“Satu kecamatan itu, warga dikumpulkan di Desa Karanganyar. Kami berdesak-desakan, sampai ada yang beseraan sembakonya karena jatuh dan susah membawanya,” kata Budi.

Baca juga: Cair Bulan Ini, Begini Cara Cek Bansos BLT UMKM Beserta Persyaratannya

“Kami waktu diberi surat dikasih tahu bahwa nanti diberi sembako. Padahal di Kecamatan lain, masyarakat penerima BLT bisa memakai uangnya untuk keperluan pribadi, nggak langsung disuruh beli sembako,” tambahnya.

Senada dengan Budi, masyarakat lainnya juga keberatan dengan perintah Camat untuk langsung membelanjakan uang BLT yang diterima.

Mereka menilai sebaiknya tidak perlu dipaksa.

Karena kebutuhan masyarakat juga banyak selain sembako.

“Kan bisa diberi pilihan, kalau mau tunai ya dikasih tunai. Atau mau langsung beli sembako silakan beli sembako, kalau ini kami dipaksa,” kata warga lainnya. 

Baca juga: Pastikan BLT Tersalurkan, Bhabinkamtibmas Polsek Sipirok Lakukan Monitoring

Berkaitan dengan kebijakan pembelian sembako dari uang BLT tersebut, Camat Gunung Maligas Masrah menyampaikan apa yang dilakukannya sudah berdasarkan ketentuan dari Dirjen Pemberdayaan Sosial - Kementerian Sosial RI No. 120/5/HK.01/82022 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Program Sembako. 

“Iya kalau terkait sembako itu sudah diatur dalam undang undang bahwa harus dibelanjakan di e-warung yang ditunjuk. Bukan dipaksa tapi memang harus dibelanjakan,” kata Masrah yang dihubungi via telepon. 

Camat menyampaikan, sembako yang dibeli sifatnya bukan dipaksa.

Tapi memang harus dibelanjakan untuk kebutuhan pokok seperti beras, gula, jagung dan sebagainya agar memenuhi kebutuhan dapur masing-masing.

“Warga ini harus diarahkan membelanjakan untuk kebutuhan dapur. Karena pengalaman saya yang saya temukan ada warga yang pakai uang untuk keperluan lain seperti rebonding dan sebagainya,” kata Camat seraya meminta masyarakat untuk memahami bahwa apa yang dilakukan pihaknya adalah untuk kebaikan masyarakat sendiri.(Alj/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved