Ngeri Ngeri Sedap Go Internasional, Wakili Indonesia di Ajang Piala Oscar 2023

Tak hanya itu, film Ngeri Ngeri Sedap juga berhasil mendapat lima nominasi dalam ajang perfilman Bandung yakni Festival Film Bandung 2022.

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
HO
Film Ngeri Ngeri Sedap garapan sutradara Bene Dion Rajagukguk mengangkat latar belakang kehidupan sehari-hari masyarakat suku Batak di Samosir. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Launching pada 2 Juni 2022, film bertema keluarga ini berhasil menarik jutaan penonton dari berbagai daerah. Tayang selama 64 hari film yang disutradarai Bene Dion Rajagukguk ini berhasil meraih 2.886.121 juta penonton tanah air.

Ngeri-Ngeri Sedap merupakan film berlatar belakang kehidupan keluarga suku Batak yang mengalami disrupsi dalam kehidupan modern.

Film yang mengangkat kisah tradisi masyarakat etnis Batak ini turut dibintangi oleh para aktor dan aktris berdarah Batak mau pun asal Sumut, seperti Lolox, Tika Panggabean, Boris Bokir, Arswendi Nasution, Gita Bebhita, mau pun Indra Jegel.

Tak hanya itu, film Ngeri Ngeri Sedap juga berhasil mendapat lima nominasi dalam ajang perfilman Bandung yakni Festival Film Bandung 2022.

"Lima nominasi, terimakasih @festivalfilmbandung dan @forumfilmbdg," sebut Bene dalam postingannya di akun Instagram miliknya.

Baca juga: Trailer Jagat Arwah Sukses Pikat Penikmat Film Horor Indonesia, Siap Gentayangi Bioskop Tanah Air

Belum cukup mengejutkan di lima nominasi tersebut, film yang menampilkan keindahan Danau Toba ini berhasil menjadi perwakilan Indonesia dalam ajang bergengsi Internasional yakni Piala Oscar tahun 2023.

"Ngga nyangka dan senang. Semoga Pak Domu sekeluarga juga berkesan bagi Oscar. Semoga Adat Batak makin dikenal dunia," ujar Bene kepada Tribun Medan saat dihubungi, Selasa (13/9/2022).

Ditanya mengenai akankah ada kelanjutan cerita dari keluarga Domu, Bene sebut belum ada. "Belum ada haha," jawabnya.

Film Ngeri Ngeri Sedap menceritakan tentang anak yang pergi ke tanah perantauan yang jauh dan ini tentu tak mudah bagi orangtua. Mungkin mereka akan pergi dan jarang pulang. Ada rindu yang harus dikorbankan dari padatnya kesibukan, minimnya waktu, serta biaya transport yang tak sedikit.

Seperti tiga putra Batak yang merantau di Tanah Jawa untuk menjemput kesuksesan. Domu si anak sulung, berhasil jadi pegawai BUMN di Bandung. Gabe anak ketiga, sukses di panggung komedi ibu kota. Sahat sang bungsu, memilih berwirausaha dalam bidang pertanian desa di Yogyakarta.

Bertahun-tahun tenggelam dalam kesibukan, tak menghiraukan dering telepon dari Mamak mereka di Medan. Tak ada hasrat untuk pulang sejenak, rela memendam rindu sebab tak mau bertemu Bapak. Tak ada kedekatan antar pria. Sang Bapak dinilai keras, merasa benar sendiri, dan mengutamakan adat serta pandangan orang lain terhadap keluarganya.

Mamak Domu bertahun-tahun mendampingi Pak Domu. Ia selalu menuruti kata sang suami untuk setiap keputusan keluarga. Keduanya selalu dibuat bahagia oleh Sarma, anak nomor dua dan satu-satunya perempuan. Ia berhasil jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Medan, selalu memasakkan masakan terbaik untuk keluarga.

Puncak konflik terasa saat seluruh anggota keluarga Pak Domu mengeluarkan emosinya. Penonton dibuat menangis tersedu-sedu dengan tangisan dan emosi Sarma yang selalu jadi anak berbakti. Kepura-puraan Mak Domu berujung jadi sungguhan.

 

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved