Berita Medan

Sidang Lanjutan Kerangkeng Manusia di PN Stabat, Dokter Forensik Jadi Saksi: Ada Bekas Kekerasan

Dalam persidangan kali ini, beragendakan mendengarkan keterangan saksi ahli yakni Dokter Sepsialis Forensik dr Mistar Ritonga.

Tribun Medan/Muhammad Anil Rasyid
Saksi ahli Dokter Spesialis Forensik dr H Mistar Ritonga (baju putih) memberikan kesaksian di sidang kasus kerangkeng manusia milik Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Perangin-Angin di Pengadilan Negeri (PN) Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Rabu (14/9/2022). 

TRIBUN-MEDAN.com, LANGKAT - Sidang lanjutan kasus kerangkeng manusia milik Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Peranginangin kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Rabu (14/9/2022).

Dalam persidangan dengan terdakwa Dewa Perangin-Angin dan Hendra Surbakti, beragendakan mendengarkan keterangan saksi ahli yakni Dokter Sepsialis Forensik dr Mistar Ritonga.

Dihadapan majelis hakim yang dipimpin oleh Halida Rahardhini, dr Mistar Ritonga menjelaskan bahwas saat dilakukan pemeriksaan atau autopsi pada tubuh korban Sarianto, ada ditemukan bekas tindak kekerasan.

Baca juga: SEMBILAN Saksi Tak Hadir, Sidang Kerangkeng Manusia Milik Bupati Langkat Nonaktif Ditunda

Dan hal tersebut terlihat pada bagian tulang kepala, antara lain pada pipi sebelah kiri, lengan dan bagian dada. 

"Tindak kekerasan yang sangat jelas identik terlihat pada bagian tulang kepala," ujar Mistar, Rabu.

Lebih lanjut dijelaskannya, hal tersebut dapat diketahui dari adanya perubahan warna dari tulang, akibat hemoglobin sehingga terjadinya perubahan warna pada tulang menjadi gelap.

Patahan tulang juga terlihat dari tubuh mayat, dan patah tulang dialami sebelum korban meninggal atau mengalami kekerasan fisik ketika masih hidup.

"Bekas kekerasan terlihat dominan pada bagian kepala seperti di tulang alis, pipi, rahang, tulang leher ruas ketujuh, dan juga mengalami patah tulang rusuk bagian kiri serta kanan di tulang belakang juga ada ditemukan bekas penyiksaan," ujar Mistar. 

Lanjut Mistar, pada bagian tulang tengkorak saat dibuka masih ada jaringan otak, walau sudah membubur dan masih bisa diteliti, jika pada bagian kepala tersebut ada resapan darah.

"Adanya pendarahan di bagian kepala bisa diakibatkan pukulan atau benturan, saat korban masih hidup," ujar Mistar. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved