Orangtua Penyandang CP Saling Menguatkan Lewat Komunitas

Kegiatan rutin dilakukan dalam bentuk pertemuan yang diisi dengan program terapi gratis dan juga saling sharing berbagi informasi

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/HO
Komunitas Peduli Cerebral Palsy Medan memberi ruang diskusi bagi para ibu penyandang disabilitas. Komunitas Peduli Cerebral Palsy adalah wadah yang dibentuk guna menyatukan para orangtua penyandang disabilitas. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Komunitas Peduli Cerebral Palsy adalah wadah yang dibentuk guna menyatukan para orangtua penyandang disabilitas.

Cerebral Palsy (CP) adalah gangguan tumbuh kembang yang paling umum pada masa kanak-kanak. Kondisi yang mempengaruhi otot dan saraf ini ditandai dengan kesulitan dalam menggerakan tubuhnya.

Kemudian tubuh orang yang terkena pun menjadi terganggu saat menggerakan otot-otot di tubuhnya. Penyebab utamanya yaitu kerusakan otak, kecacatan motorik dan gerakan.

Ratna selaku Ketua Komunitas Peduli CP mengatakan bahwa para orangtua penyandang CP juga ada baiknya saling menguatkan melalui wadah ini.

Baca juga: YSKI Bersama GEMA INTI Sumut Gelar Baksos Pengobatan Gigi dan Mulut untuk Penyandang Disabilitas

"Komunitas ini dibentuk sebagai wadah bertemu keluarga penyandang CP agar kita para orangtua saling menguatkan. Sebab 24 jam mengurus anak berkebutuhan khusus itu tidaklah mudah. Para orangtua butuh kesabaran, cerdas dan ikhlas dalam mendampingi anak. Terkadang muncul rasa jenuh pasti, namun dari sini kami dapat saling menguatkan satu sama lain," ujar Ratna kepada Tribun, Jumat (16/9/2022).

Kegiatan rutin dilakukan dalam bentuk pertemuan yang diisi dengan program terapi gratis dan juga saling sharing berbagi informasi dan pengalaman dalam merawat anak istimewa.

Ratna menyebutkan, para anggota berasal dari para ibu CP di Kota Medan. Walau pun baru berdiri di tahun 2021 ketua komunitas tersebut berharap Peduli CP akan segera memiliki rumah singgah.

"Kami sudah resmi berbadan hukum di tahun ini, harapannya segera punya rumah singgah agar para ibu dapat berbagi disini. Selain sharing pengalaman kita juga berusaha sharing ekonomi, kita paham betul betapa sulitnya mencukupi kebutuhan anak kami yang sangat istimewa ini," tuturnya.

Dalam hal ini Ratna juga bercerita bagaimana proses iya menjalani harinya merawat Khadijah anaknya.

"Saya mulai mendeteksi kelainan ini saat Khadijah berusia satu minggu, awalnya kami kira ini anak kedinginan, namun ternyata itu adalah kejang. Sampai di usia tiga minggu intensitas yang seperti itu semakin tinggi, baru tau kalau itu ternyata kejang. Awalnya kita tidak tau bagaimana menanganinya, beberapa tahun merawat Khadijah baru paham bagaimana proses merawatnya," jelasnya.

Dari pengalamannya tersebut Ratna yakin banyak ibu yang perlu edukasi juga dalam menangani anak CP.

"Banyak orang tidak paham bagaimana mendeteksi sejak dini mengenai CP ini, berharapnya dari komunitas ini kita juga bisa edukasi banyak orang, sehingga tidak ada lagi yang terlambat penanganan untuk hal tersebut," tambahnya.

Besar harapan para anggota juga, agar bisa bertemu dengan relawan lainnya yang dapat mengisi pertemuan rutin yakni fisioterapi gratis.

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved