Gerakan 30 September PKI

MENGENANG 10 Pahlawan Revolusi hingga Potret Monumen Pancasila Sakti

Ada 9 Perwira TNI AD dan seorang Polisi yang menjadi korban peristiwa Gerakan 30 September (G30S) PKI (Partai Komunis Indonesia).

Editor: Abdi Tumanggor
ist
Soeharto saat pecahnya G30S PKI 

Lahir: 21 Februari 1939

Pangkat: Kapten Anumerta TNI

Jabatan: Ajudan Menteri Pertahanan dan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal TNI Abdul Harris Nasution

Meninggal: Lubang Buaya, Jakarta Timur, 1 Oktober 1965

8. Karel Satsuit Tubun (Karel Satsuit Tubun)

Lahir: 14 Oktober 1928

Pangkat: Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda) Anumerta Polri

Jabatan: Pengawal Kediaman Resmi Wakil Perdana Menteri III Dr. Johannes Leimena.

Dr. Johannes Leimena adalah seorang dokter, politisi, dan Pahlawan Nasional Indonesia. Ia tercatat sebagai menteri yang menjabat paling lama selama pemerintahan presiden Soekarno, dengan total masa jabatan hampir 20 tahun. Leimena duduk dalam 18 kabinet yang berbeda, dimulai dari Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora III (1966), baik sebagai Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri, Menko Distribusi, Wakil Menteri Pertama maupun Menteri Sosial. Di luar itu, ia juga menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante, dan mengetuai Partai Kristen Indonesia (Parkindo) antara 1950 hingga 1961.

Meninggal: Rumah Dr. Johannes Lemeina, Jakarta, 1 Oktober 1965

9. Katamso Darmokusumo

Lahir: 5 Februari 1923

Pangkat: Brigadir Jenderal (Brigjen) Anumerta TNI

Jabatan: Komandan Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta

Meninggal: Kentungan, Yogyakarta, 1 Oktober 1965

10. Sugiyono Mangunwiyoto

Lahir: 12 Agustus 1926

Pangkat: Kolonel Anumerta TNI

Jabatan: Kepala Staf Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta.

Meninggal: Kentungan, Yogyakarta, 1 Oktober 1965

11. Ade Irma Suryani Nasution

Lahir: 19 Februari 1960

Status: Anak Jenderal Besar Dr. Abdul Haris Nasution. Ade Irma Suryani tewas di rumah sakit beberapa hari kemudian. Ia meninggal akibat luka tembak dalam upaya penculikan Jenderal Nasution.

Meninggal: 6 Oktober 1965

Mereka ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi dan dinaikkan pangkat satu tingkat lebih tinggi secara anumerta.

Hal itu berdasarkan Keputusan Presiden No 111/KOTI/1965 tanggal 5 Oktober 1965 (untuk 1-7), No 114/KOTI/1965 tanggal 5 Oktober 1965 (untuk 8), dan No. 118/KOTI/1965 tanggal 19 Oktober 1965 (untuk 9-10).

Gelar Pahlawan Revolusi juga diakui sebagai gelar Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan UU 20/2009 tantang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

Tonton Film Penumpasan G30SPKI:

Monumen Pancasila Sakti dan Mengenang Pahlawan Revolusi

Monumen Pancasila Sakti yang berlokasi di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, menyimpan banyak cerita.

Monumen Pancasila Sakti dibangun untuk mengenang 7 Pahlawan Revolusi yang menjadi korban dalam peristiwa Gerakan 30 September atau dikenal dengan G30S/PKI. 

Pada 1 Oktober 1965 dini hari, terjadi penculikan sejumlah petinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).

Penculikan tersebut terjadi lantaran mereka dicurigai oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai bagian dari Dewan Jenderal yang akan meruntuhkan kekuasaan Presiden Soekarno kala itu.

Hingga akhirnya menjadi sebuah tragedi berdarah. Dari 7 orang yang ditargetkan, pasukan yang dipimpin oleh Letkol Untung menangkap 6 orang.

Mereka adalah Jenderal Ahmad Yani, Jenderal S. Parman, Jenderal Suprapto, Jenderal Sutoyo, Jenderal MT Haryono, dan Jenderal Panjaitan.

Satu target, yakni Jenderal A.H. Nasution yang saat itu menjabat sebagai Menko Hankam/Kasab TNI AD bisa meloloskan diri.

Ajudan AH Nasution, Lettu Pierre Tendean ditangkap dan menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

Para jenderal ini kemudian dibawa menuju Lubang Buaya yang dijadikan markas komando Gerakan 30 September 1965.

Enam jenazah perwira tinggi TNI AD dan jenazah Lettu Piere Tendean kemudian dimasukkan ke dalam sumur tua untuk menghilangkan jejak.

Monumen Pancasila Sakti

Dihimpun dari laman Pusat Sejarah TNI dan Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk mengenang tujuh tokoh yang telah gugur, pemerintah memberi gelar Pahlawan Revolusi.

Untuk mengenang, menghormati, dan menghargai jasa-jasa para Pahlawan Revolusi, dibangunlah Monumen Pancasila Sakti.

Monumen Pancasila Sakti dibangun di atas areal tanah seluas 14,6 hektar pada pertengahan Agustus 1967, dan diresmikan pada 1 Oktober 1973 oleh Presiden Soeharto bertepatan dengan peringatan Kesaktian Pancasila.

Bersamaan dengan pembangunan monumen tersebut, dibangun pula cungkup sumur yang digunakan untuk mengubur jenazah tujuh Pahlawan Revolusi.

Monumen Pancasila Sakti atau yang dikenal dengan Lubang Buaya terdiri dari dua area, yaitu area outdoor dan indoor.

Area outdoor terdiri dari pameran taman dan sumur tua bekas pembuangan jasad para jenderal, sedangkan indoor berupa museum dan paseban.

Sebelum menjadi sebuah museum sejarah, tempat ini merupakan tanah atau kebun kosong yang dijadikan sebagai tempat pembuangan terakhir para korban G30S/PKI.

Sumur maut

Sumur tua dikenal dengan nama Sumur Maut. Di sumur inilah jenazah para Pahlawan Revolusi dibuang.

Sumur ini memiliki kedalaman mencapai 12 meter dengan diameter sekitar 75 sentimeter (cm).

Di bekas sumur tersebut terdapat sebuah plakat yang bertuliskan "Tjitatjita & perjuangan kami untuk menegakkan kemurnian pantja-sila tidak mungkin dipatahkan hanja dengan mengubur kami dalam sumur ini".

Sumur tersebut ditemukan pada 4 Oktober 1965. Jasad para korban kemudian devakuasi pada 4 Oktober dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Tujuh patung pahlawan revolusi

Tujuh patung pahlawan revolusi terletak 45 meter (melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia) sebelah Utara dari sumur maut.

Patung para Pahlawan Revolusi berdiri dengan latar belakang sebuah dinding setinggi 17 meter (melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia) dengan hiasan patung Garuda Pancasila.

Ketujuh patung Pahlawan Revolusi berdiri berderet dalam setengah lingkaran dari barat ke timur, yaitu Mayjen TNI Anumerta Soetojo Siswomihardjo, Mayjen TNI Anumerta D.I Panjaitan, Letjen TNI Anumerta R. Soeprapto, Jendral TNI Anumerta Ahmad Yani, Letjen TNI Anumerta M.T. Harjono, Letjen TNI Anumerta S. Parman, dan Kapten Czi Anumerta P.A. Tendean.

Di bawah patung tersebut terdapat sebuah relief yang menggambarkan peristiwa, kejadian, dan penumpasan G30S/PKI oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan rakyat.

Di bawah relief juga terdapat tulisan "Waspada Dan Mawas Diri Agar Peristiwa Sematjam Ini Tidak Terulang Lagi".

(*/tribun-medan.com/kompas.com/kompas.tv)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved