G30S PKI

Temui Soeharto pada 30 September 1965, Cerita tentang Letkol Untung Sebelum Penculikan Jenderal

Cakrabirawa satuan yang dibentuk khusus untuk melindungi atau mengamankan Presiden RI, saat itu Soekarno dan keluarganya.

Editor: Salomo Tarigan
DOK PEMERINTAH RI/YOUTUBE/KOLASE TRIBUNWOW.COM
Letkol Untung dan Mayjen Soeharto 

Soeharto saat itu sedang menunggui Tommy Soeharto yang dirawat karena tersiram air panas.

Pada 1 Oktober 1965 dini hari, pasukan disebar untuk menjemput para jenderal.

Satu rombongan penjemput jenderal berisi sekitar 35 prajurit, termasuk di dalamnya anggota Cakrabirawa.

Sulemi termasuk dalam rombongan pasukan yang bertugas menjemput Jenderal AH Nasution.

Pemahaman Sulemi, rombongan pasukannya diperintah untuk menjemput AH Nasution agar menghadap Presiden Soekarno.

Namun, Nasution berhasil lolos keluar dengan melompat pagar.

Cerita Ishak Bahar

Terpisah, Ishak Bahar (87), mantan Komandan Regu Pengawal Istana Batalion Cakrabirawa, menyampaikan keterangan tak jauh berbeda.

Ia merupakan pasukan Cakrabirawa yang mengawal Letkol Untung dan Kolonel Abdul Latief (Komandan Garnisun Kodam Jaya), ke Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Cerita Kesaksian Ishak Bahar, Eks Cakrabirawa saat G30S. Letkol Untung dan Latief Lapor ke Soeharto sebelum Bantai 6 Jenderal
Cerita Kesaksian Ishak Bahar, Eks Cakrabirawa saat G30S. Letkol Untung dan Latief Lapor ke Soeharto sebelum Bantai 6 Jenderal (Kolase Foto Kompas.com-M Iqbal Fahmi/Dok.Istimewa)

Di sana, Ishak diperintahkan untuk bersiaga di sebuah rumah pondok.

Menjelang tengah malam, pasukan Batalyon Cakrabirawa yang lain datang berduyun-duyun.

“Saya kaget malah, pasukan-pasukan datang, ya anggota Cakrabirawa, teman-teman saya. Tahu-tahu dibagi regu untuk menculik jenderal. Saya tidak (menculik), saya ngawal Untung di Lubang Buaya,” ujar Ishak.

Masuk 1 Oktober pukul 01.00 WIB, satu per satu regu bergerak untuk menculik Dewan Jenderal.

Pukul 03.00 WIB, para jenderal datang silih berganti. Ishak menuturkan, tidak semua jenderal yang dibawa oleh prajurit Cakrabirawa dalam keadaan hidup.

“Jenderal Yani (Letjen Ahmad Yani), Panjaitan (Brigjen DI Panjaitan), Haryono (Mayjen Harjono) mati, dan Toyo (Brigjen Sutoyo) sudah meninggal. Yang hidup hanya tiga, Jenderal Prapto (Mayjen R Soeprapto), Jenderal Parman (Mayjen S Parman) dan Tendean (Lettu Pirre Tandean). Jenderal Nasution enggak ada,” kata Ishak.

“Saya kaget, saya panik malah, kok ada begini, ada apa,” sambungnya.

Baca juga: Terungkap Kenapa Soeharto Bisa Lolos dari Maut dalam Peristiwa G30S PKI, Sosok Ini Beber Alasannya

Karena kepanikan itu, para jenderal yang diculik, baik masih hidup atau sudah meninggal dijebloskan ke dalam sebuah sumur tua.

Tubuh mereka dilempar lalu ditembak dari atas secara membabi-buta.

Baca juga: KISAH PILU Pierre Tendean Batal Nikah di Medan, Ngaku Jenderal Nasution yang Dicari Cakrabirawa

(*)

Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul Kesaksian Eks Cakrabirawa Penjemput AH Nasution, Bantah Tuduhan Komunis, Rela Disiksa di Penjara

Cerita tentang Letkol Untung Sebelum Penculikan Jenderal

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved