Breaking News:

News Video

Kuasa Hukum Tersangka BEM Beberkan Aneka Kejanggalan dalam Kasus Cabul Anak Dibawah Umur di Toba

Kuasa Hukum tersangka BEM, Paul JJ Tambunan menjelaskan sejumlah kejanggalan yang menimpa kliennya pada kasus tindak pidana pencabulan anak di Toba.

Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Fariz

TRIBUN-MEDAN.com, TOBA - Kuasa Hukum tersangka BEM, Paul JJ Tambunan menjelaskan sejumlah kejanggalan yang menimpa kliennya pada kasus tindak pidana pencabulan anak di Toba.

Sebelumnya, pihak Polres Toba telah menahan tersangka BEM di ruang tahanan Mapolres Toba setelah ditetapkan tersangka tanggal 10 September 2022 yang lalu.

Ia menyampaikan, pihaknya masih menunggu rekonstruksi kasus tersebut agar penyidikan jelas dan transparan.

"Kejanggalan kami rasa saat kami mempertanyakan penyidik soal hasil visum, tidak mau memperlihatkan hasilnya. Penyidik bilang itu rahasia, iya kami terima," ujar Paul JJ Tambunan, Rabu (28/9/2022).

"Penyidik hanya bilang ada luka gesek. Ada postingan yang kita lihat korban kesulitan buang air. Maka, kita berpikir kok luka gesek bisa sampai susah buang air, itu kejanggalan yang kita rasa," ujarnya.

Ia juga mendapatkan informasi bahwa rekonstruksi tidak dilakukan karena fakta-fakta dalam kasus tersebut sudah cukup.

"Yang kedua, kita juga sudah menyurati sampai pengawasan penyidikan dan infonya, ini sudah digelar di Polda Sumut. Dan, kami juga meminta rekonstruksi yang diagendakan pada Rabu (28/9/2022), namun kami tadi dapat informasi dari penyidik, pihak Kejari Toba Samosir sebut tak lakukan rekonstruksi karena fakta-fakta sudah terungkap," terangnya.

"Ya, kami rasa banyak kejanggalanlah dalam perkara ini. Sebenarnya, kalau dilakukan rekonstruksi, ini akan membuat penyidikan akan semakin sempurna," terangnya.

Ia juga menyinggung soal tanggapan Kejari Toba Samosir soal rencana rekonstruksi pada kasus tersebut.

"Kita berharap pihak Kejari Toba Samosir maulah untuk gelar rekonstruksi agar perkara ini terbuka dan transparan. Kita akan surati Kepala Kejatisu dan Kejari Toba Samosir untuk gelar rekonstruksi ini," sambungnya.

Selanjutnya, ia menjelaskan kronologi kejadian hingga penangkapan tersangka BEM.

"Kejadian pada tanggal 18 Juli 2022. Hingga tanggal 22 Juli 2022, diduga tersangka ini kembali ke Purwakarta, tempat tinggalnya karena ia cuman antarkan anaknya ke Uluan ini," sambungnya.

"Dari pengakuan tersangka kepada kami, ia tidak melakukan hal itu (pencabulan). Ia hanya membantu korban yang hampir tenggelam di sungai. Dan tersangka sempat mengantarkan korban ke darat, sumur tempat masyarakat mandi dan cuci piring," ungkapnya.

"Sejak saat itu hingga ia pulang ke Purwakarta, tidak ada masalah dan isu-isu yang terdengar di kampung itu bahkan hingga tanggal 2 September 2022. Lalu ia dapat surat dimulainya penyidikan. Dan atas itikad baik, ia akhirnya diciduk pada tanggal 9 September setelah tiba pada tanggal 8 September 2022," ungkapnya.

Ia berharap pihak Pokda Sumut beri perhatian serius terhadap kasus yang menimpa kliennya tersebut.

"Ada enam orang polisi yang menangkap dia, membawa dia ke Mapolres Toba dan keesokan harinya langsung ditetapkan sebagai tersangka," terangnya.

"Kita berharap pihak Polda Sumut memberi perhatian terhadap kasus ini," pungkasnya.

(cr3/www.tribun-medan.com).

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved