Breaking News:

Berita Sumut

Kenaikan Harga Pupuk, Pakan Ternak Hingga Pertalite Jadi Faktor Pendorong Inflasi Sumut

Inflasi Sumut pada bulan September 2022 diperkirakan lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya.

Tribun Medan/HO
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Doddy Zulverdi saat menyampaikan paparan perkembangan ekonomi di Provinsi Sumut, Sabtu (1/10/2022) . 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Inflasi Sumut pada bulan September 2022 diperkirakan lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya.

Inflasi didorong oleh tingginya curah hujan dan peningkatan sifat hujan yang berpotensi mengganggu produktifitas dan mendorong kenaikan harga komoditas pangan. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Doddy Zulverdi menyampaikan selain itu kenaikan harga pupuk dan pakan ternak, kenaikan harga BBM Pertalite, Solar hingga Pertamax, serta tingginya harga gabah yang dapat mendorong kenaikan harga beras juga diperkirakan menjadi faktor pendorong pembentukan inflasi Sumut periode September 2022.

Baca juga: Kendalikan Inflasi, Pemko Medan Berencana Penuhi Kebutuhan Cabai dari Kabupaten Batubara 

Namun begitu, Bank Indonesia optimis inflasi Sumut di sektor komoditi pangan bisa lebih terkendali.

Hal ini terjadi dikarenakan adanya berbagai inisiatif dari Pemerintah Daerah (Pemda) yang didukung oleh Pemerintah Pusat melalui pemanfaatan dana bagi hasil, biaya tak terduga.

Kemudian juga, ditopang adanya dana desa yang turut diarahkan untuk pengendalian inflasi, khususnya pangan. 

“Hal ini akan terasa dan terlihat, sehingga kami cukup optimis bahwa inflasi pangan bisa lebih terkendali. Meski di sisi lain harga BBM (Bahan Bakar Minyak) memang sudah naik,” katanya dalam paparannya perkembangan ekonomi di Provinsi Sumut, Sabtu (1/10/2022). 

Namun, dikatakan Doddy, BI memperkirakan untuk keseluruhan tahun ini diakui inflasi akan lebih tinggi, terutama karena efek dari kenaikan BBM tersebut. 

Dikatakannya, adanya faktor penahan terutama pada September 2022 ini yang mulai terlihat dan diharapkan akan terus berlanjut sampai pada akhir tahun yakni melalui dukungan berbagai program dalam menjaga produksi pangan.

Seperti misalnya, dengan optimalisasi penggunaan pupuk organik, peningkatan implementasi digital, mendorong produktifitas meningkat melalui dukungan teknologi, perbaikan pola tanam, optimalisasi peran-peran BUMN, BUMD dari sisi distribusi lewat penggunaan dana-dana APBD untuk subsid.

Diikuti adanya pengawasan kelancaran distribusi, hingga pada peran BUMD untuk menjaga penyaluran produk-produk komoditas strategis tadi.

Lebih lanjut, dijelaskannya berdasarkan perkembangan inflasi tahunan, dilihat dari tekanan inflasi Sumatera Utara (Sumut) pada bulan Agustus 2022 dinilai mengalami penurunan.

Diketahui pada Agustus 2022 ternyata tekanan inflasi tahun Sumut sebesar 5,39 persen (yoy) lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencatatkan angka 5,62 persen (yoy) namun masih berada diatas rentang target inflasi nasional 3+_1 persen .

Baca juga: Demi Turunkan Inflasi di Sumut, Gubernur Edy Rahmayadi Sebut Akan Hemat Belanja Anggaran

Sebutnya, komoditas cabai merah dan angkutan udara masih menjadi faktor utama pembentukan inflasi tahunan Sumut pada bulan Agustus 2022. 

Berdasarkan disagregasinya inflasi tahun periode berjalan didorong oleh seluruh komponen inflasi, khususnya pada volatile food yang mencatatkan andil inflasi tertinggi sebesar 2,32 % (yoy). 

Sementara untuk komponen core inflation dan administered prices mencatatkan andil masing-masing sebesar 2,09 % (yoy) dan 1,08 % (yoy).

(cr9/tribun-medan.com) 

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved