Kerusuhan Kanjuruhan Malang

Tragedi Tewasnya Ratusan Suporter, LBH Medan Nilai Aparat Salah Prosedur dan Dugaan Pelanggaran HAM

LBH Medan menyoroti tragedi tewasnya ratusan suporter, saat laga Arema vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang.

Penulis: Alfiansyah | Editor: Randy P.F Hutagaol
Tribunnews/SURYA/PURWANTO
Suporter Arema FC, Aremania turun ke stadion usai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya dalam lanjutan Liga 1 2022 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022). Aremania meluapkan kekecewaannya dengan turun dan masuk kedalam stadion usai tim kesayangannya kalah melawan Persebaya Surabaya dengan skor 2-3. SURYA/PURWANTO 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan menyoroti tragedi tewasnya ratusan suporter, saat laga Arema vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang.

Wakil Direktur (Wadir) LBH Medan, Irvan Syahputra menyampaikan rasa bela sungkawanya kepada para korban.

Saat ini, data yang diterima oleh LBH Medan, ada sekitar 153 korban jiwa akibat tragedi yang terjadi, pada Sabtu (1/9/2022) malam.

"Sejak awal panitia mengkhawatirkan akan pertandingan ini, dan meminta kepada Liga (LIB) agar pertandingan dapat diselenggarakan sore hari untuk meminimalisir resiko," kata Irvan kepada Tribun-medan, Minggu (2/10/2022).

Baca juga: VIRAL Kembali Curhatan Ayu Dewi pada Nagita Slavina, Suami Disebut-sebut Selingkuh dengan Denise

Ia mengatakan, ketika itu pihak Liga menolak permintaan tersebut dan tetap menyelenggarakan pertandingan pada malam hari.

"Pertandingan berjalan lancar hingga selesai, hingga kemudian kerusuhan terjadi setelah pertandingan dimana terdapat supporter memasuki lapangan," sebutnya.

Dikatakannya, malam itu pihak aparat melakukan penindakan terhadap para penonton yang masuk ke lapangan sepakbola itu.

"Dalam video yang beredar, kami melihat terdapat kekerasan yang dilakukan aparat dengan memukul dan menendang suporter yang ada di lapangan," bebernya.

Baca juga: Jauh-jauh Hari Soimah dan Irfan Hakim Sudah Ingatkan Rizky Billar, Tonton Videonya

Dijelaskan Irvan, sewaktu para penonton semakin banyak turun ke lapangan, aparat melakukan penembakan gas air mata ke tribun yang masih banyak dipenuhi penonton.

Padahal, menembakkan gas air mata di areal stadion dilarang oleh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA).

LBH Medan menduga, penggunaan kekuatan yang berlebihan, melalui penggunaan gas air mata dan pengendalian masa yang tidak sesuai prosedur, menjadi penyebab banyaknya korban jiwa yang berjatuhan.

"Penggunaan gas air mata yang tidak sesuai dengan prosedur pengendalian massa, mengakibatkan suporter di tribun berdesak-desakan mencari pintu keluar, sesak nafas, pingsan dan saling bertabrakan," ujarnya.

"Jelas penggunaan gas Air mata tersebut dilarang oleh FIFA. FIFA dalam Stadium Safety and Security Regulation, pasal 19 menegaskan bahwa penggunaan gas air mata dan senjata api dilarang untuk mengamankan massa dalam stadion," tambahnya.

Pihaknya menilai, tindakan aparat dalam kejadian tersebut bertentangan dengan beberapa peraturan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved