Breaking News:

Sosok

Sosok Akbar Buchari, Anak Medan yang Sukses Sebagai Pengusaha dan Politisi, Pemilik Bus Kurnia

Pada tahun 2008, Akbar mulai mengembangkan bisnisnya ke bidang perkebunan kelapa sawit yang terletak di Blang Seunong, Aceh Timur seluas 6. 000 hektar

Penulis: istiqomah kaloko | Editor: Royandi Hutasoit
Facebook/Akbar Himawan
Akbar Himawan Buckhori saat duduk bersama Mantan Wali Kota Medan Dzulmi Eldin 

TRIBUN-MEDAN.COM - Akbar Himawan Buchari merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatra Utara dari Fraksi Golkar periode 2019-2024.

Akbar Himawan Buchari lahir di Medan, 25 November 1988. Di usianya yang masih terbilang muda, Akbar Buchari sukses menjadi seorang pengusaha yang mengelola bisnis di berbagai bidang, salah satunya perusahaan otobus (PO) Kurnia dengan armada sekitar 250 unit bus.

Kurnia merupakan perusahaan otobus (PO) yang melayani rute Sumatera Utara sampai ke Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Meski perusaan itu diwarisi dari sang ayah, namun Akbar Buchari melalui banyak ujian dan rintangan dalam membangun bisnis ini hingga sukses seperti sekarang.

Ayahnya, Buchari Usman merupakan salah satu korban kecelakaan pesawat Garuda Indonesia, GA-152 di Desa Buah Nabar, Kab. Deli Serdang yang terjadi pada 1997 silam.

Sejak kematian ayahnya, Akbar Buchari dipaksa keadaan untuk meneruskan posisi ayahnya sebagai pebisnis.

Di usianya yang saat itu masih 10 tahun, ia terpaksa berpikir keras dan harus belajar bisnis. Namun, saat itu bisnis tersebut tak langsung dipegang olehnya lantaran usianya masih belum cukup saat itu.

Bisnis yang ditinggalkan ayahnya itu dikendalikan oleh sang paman, sementara Akbar Buchari setiap pulang sekolah selalu membantu para mekanik di pangkalan bus sebab ayahnya pernah berpesan bahwa seorang pengusaha bus harus mahir dan mengerti mesin.

Saat duduk di bangku SMA, ia perlahan turun mengurus bisnis tersebut. Tentu saja, menjalankan bisnis tidak selalu mulus.

Konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI menghadirkan banyak hambatan dan ujian bagi Akbar untuk menjalankan bisnisnya, termasuk kondisi keamanan Aceh saat itu.

Tak hanya itu, Tsunami 2004 juga sempat melanda bisnis Akbar dimana ada sekitar 50 bus di pool Banda Aceh terkena dampaknya.

Meskipun begitu, ia tak pernah menyerah untuk mengembangkan bisnisnya tersebut. Pasca kejadian Tsunami itu, bisnis bus yang dijalaninya perlahan membaik sebab banyak warga Sumut yang berpergian ke Banda Aceh.

Pada tahun 2008, Akbar mulai mengembangkan bisnisnya ke bidang perkebunan kelapa sawit yang terletak di Blang Seunong, Aceh Timur. Luas lahan yang dimiliki pun tidak sedikit, hampir 6. 000 hektar.

Selain itu, Akbar juga memulai bisnis baru yaitu membuka sebuah hotel bintang tiga di Medan yang diberi nama Hotel Saka yang berlokasi di Jalan Gagak Hitam Medan. Dan Hotel berbintang empat yaitu Swiss bel-Inn Hotel di Jl.Gajah Mada Medan.

Tak cukup sampai disitu, saat ini Akbar bersama rekan bisnisnya tengah mengembangkan bisnis properti.

(cr31/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved