TRIBUNWIKI

Patarias Mulajadi Nabolon, Tradisi Batak Toba di Sihaporas, Dilaksanakan Selama 3 Hari 2 malam

Misalnya, sumber air yang digunakan dalam ritual tersebut adalah mata air yang tak pernah disentuh oleh siapa dan apapun, artinya murni.

Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Ayu Prasandi
HO
Suasana ritual Patarias Debata Mulajadi Nabolon diselenggarakan selama 3 hari dua malam. Ritual yang diselenggarakan selama 4 tahun sekali ini sudah dipersiapkan selama 7 hari dengan tujuan pemurnian para petugas dan kelayakan dalam ritual tersebut. Ritual dimulai dan diakhiri dengan sejumlah kegiatan yang sesuai dengan aturan yang sudah disepakati.  

TRIBUN-MEDAN.com, TOBA – Patarias Debata Mulajadi Nabolon menjadi sebuah ritual tahunan bagi masyarakat yang ada di Desa Sihaporas yang rutin digelar sejak tahun 1800an hingga saat ini. 

Seorang warga Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun Thomson Ambarita (45) menjelaskan, ritual tersebut merupakan ungkapan rasa syukur kepada Debata Mulajadi Nabolon sekaligus permohonan penyertaan dalam perjalanan hidup masyarakat sekitar.

Ritual ini digelar selama tiga hari dua malam dengan persiapan yang matang.

Seluruh peralatan dan bahan yang digunakan dalam ritual tersebut haruslah sakral dan telah diputuskan melalui diskusi para penatua terdahulu yang kemudian diturunkan secara turun-temurun.

Baca juga: Margala, Permainan Tradisional Batak Toba yang Masih Eksis Hingga Kini

Misalnya, sumber air yang digunakan dalam ritual tersebut adalah mata air yang tak pernah disentuh oleh siapa dan apapun, artinya murni sebagai mata air.

“Ada tujuh ritual yang diturunkan Tuan Sihaporas Ompung Mamontang Laut Ambarita kepada kita adalah Patarias Debata Mulajadi Nabolon. Dalam ritual ini, kita memuliakan Debata Mulajadi Nabolon, Ini kita lakukan sekali dalam empat tahun dan itu wajib kita lakukan,” ujat Thomson Ambarita, Kamis (20/10/2022).

“Pelaksanaan ritual tersebut dilihat dalam penanggalan Batak Toba (Parhalaan: kalender Batak Toba)  yang biasanya jatuh pada bulan Oktober pada penanggalan masehi. Harapan kita, apa yang kita lakukan pada empat tahun sebelumnya, kita mengucap syukur atas berkat yang kita terima termasuk kesehatan, kesuburan tanah, hasil pertanian yang melimpah, jauh dari marabahaya. Dan itu kita sudah nikmati faedah dari ritual tersebut,” terangnya.

Ritual yang berumur lebih dari 200 tahun ini lahir dari Ompung Mamontang Laut yang berdomisili di Ambarita Samosir menyusuri kawasan Simalungun, tepatnya di Desa Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun.

“Awalnya, Oppung kita Oppung Mamontang Laut yang dulunya berdomisili di Samosir, di lokasi Ambarita. Dia mendapat bisikan-bisikan dari leluhur dan dibantu oleh Ompu Mulajadi Nabolon melalui Raja Sisingamangaraja dan dibawa bertapa di bukit yang tinggi di Pusuk Buhit.

Dari sana, ia merantau ke seberang Danau Toba di Simalungun yang berada Sihaporas. Selama dalam perjalanan di tengah danau, ia ditopang Namboru Natinjo agar tidak tenggelam atau karam. Setelah di Sihaporas, ia mendapat pesan dari Raja Uti dan juga Sisingamangaraja untuk melakukan tujuh ritual, salah satunya ritual Patarias Debata Mulajadi Nabolon,” terangnya.

“Ritual ini terus digelar hingga ke generasi saya, generasi kesembilan dari Oppung Mamontang Laut. Itu diperkirakan sejak tahun 1800an,” sambugnya.

Baca juga: MITOS Penciptaan dalam Tradisi Batak Toba, Begini Kisahnya

Selanjutnya, ia menjelaskan sejumlah benda sakral yang digunakan dalam ritual yang berdurasi 3 hari dua malam tersebut.

“Jeruk purut sebagai lambang pemurnian atau pembersihan diri dari segala noda. Lalu, sumber mata air yang murni, artinya sumber atau mata air tersebut adalah mata air yang tak pernah disentuh oleh apa dan siapapun. Kita harus mengambil air dari mata air yang sangat jernih. Mata air tersebut tidak pernah dicemari oleh apapun,” ungkapnya.

“Ada juga sirih dan seluruh bumbunya. Kalau untuk buah-buahan, kita menggunakan semangka, beberapa jenis pisang, rudang, dan masih banyak lagi bahan-bahan lain, termasuk kayu yang digunakan untuk kayu bakar. Kayu bakar tersebut diambil dari hutan untuk memasak ramuan yang akan disajikan di atas altar dalam ritual tersebut,” terangnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved