Breaking News:

News Video

Perkara Utang Piutang Tak Kunjung Diselesaikan, Penggugat Sebut : Ada Apa Sebenarnya di PN Medan?

Terkelin Tarigan bersama istrinya Anum Sitepu didampingi kuasa hukumnya Rasken Ginting seruduk Pengadilan Negeri (PN) Medan meminta kejelasaan.

Penulis: Edward Gilbert Munthe | Editor: Fariz
Tribun Medan / Edward
Perkara Utang Piutang Tak Kunjung Diselesaikan 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Terkelin Tarigan bersama istrinya Anum Sitepu didampingi kuasa hukumnya Rasken Ginting seruduk Pengadilan Negeri (PN) Medan meminta kejelasaan.

Terkelin mendatangi PN Medan meminta kejelasan mengenai gugatannya dalam perkara utang piutang sebesar Rp 718.500.000.

Dalam perkara ini, pasangan suami istri yaitu Anthony Sofan dan Nurbetty Lingga sebagai tergugat.

Saat mereka mencoba masuk menjumpai Panitera, Anum Sitepu tampak terlibat argumen dengan salah seorang petugas satuan pengaman (satpam) pengadilan.

"Saya mau ketemu sama Pak Ketua PN Medan atau Panitera Edi Sangapta Sinuhaji. Putusan Mahkamah Agung (MA) RI kok sudah 6 tahun lebih gak ada kepastian?" tegas Anum.

Namun, petugas satpam tidak bersedia mengizinkan keluarga penggugat memasuki ruangan kerja orang pertama di PN Medan Setyanto Hermawan maupun Panitera Edi Sangapta.

Ketika ditanya, diketahui putusan MA RI No. 967 K/PDT/2016 tertanggal 15 Juni 2016 yang berisikan permohonan kasasi Jenda Terkelin dikabulkan sebagian. Menyatakan tergugat I dan II telah ingkar janji karena tidak mengembalikan uang pinjamannya kepada penggugat.

Menyatakan Surat Perjanjian tertanggal 4 Desember 2012 antara tergugat I dan II dengan penggugatemgujat dan sahbl serta harus dihormati.

Menghukum tergugat I dan II secara tanggung menanggung membayar / mengembalikan uang penggugat sebesar Rp718.500.000 dengan tunai seketika.

Menyatakan segala bentuk surat dan perikatan / perjanjian kemudian dibuat kedua tergugat dengan pihak ketiga lainnya setelah rumah dijaminkan atas utang tersebut adalah tidak sah.

Rasken mengatakan, sebelumnya PN Medan sudah pernah melakukan aanmaning (tindakan Ketua Pengadilan yang memutus perkara berupa teguran atau peringatan kepada Tergugat) dan telah dilaksanakan lelang sebanyak 2 kali, namun karena tidak ada peserta lelang maka lelang yang dilaksanakan gagal.

"Diduga pelaksanaan lelang tidak berhasil karena harga rumah yang dilelang terlalu tinggi dan karena situasi covid-19 saat itu," kata Rasken.

Selanjutnya pihak penggugat bermohon untuk diadakan lelang kembali dan pihak PN Medan juga sudah melakukan penilaian aset yang akan dilelang.

Tetapi, akibat adanya permohonan konsinyasi dari pihak tergugat maka PN Medan belum melanjutkan proses pelelangan kembali.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved