Piala Dunia di Kedai Tok Awang
Kenangan Ali Daei, Duel-duel Politik Sepak Bola
Terlepas dari hitung-hitungan poin, Iran versus Amerika Serikat mencuatkan kisah lain. Kisah yang berkaitan dengan politik.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Hasil undian Grup B mengharuskan Iran bertemu dengan Amerika Serikat. Momentumnya krusial pula. Iran sementara berada di peringkat dua grup dengan torehan poin 3, disusul Amerika Serikat dengan 2 poin.
Amerika harus menang sedangkan Iran cukup mengemas satu poin untuk mengamankan tempat di babak 16 besar.
Terlepas dari hitung-hitungan poin, Iran versus Amerika Serikat mencuatkan kisah lain. Kisah lapangan hijau yang diiringi oleh beragam kisah yang tidak berkaitpaut dengan sepak bola.
Politik, tentu saja. Sejak pecah Revolusi Islam di Iran tahun 1979, Washington dan Teheran saling memutuskan hubungan diplomatik dan terus bersitegang sampai sekarang. Bukan hanya dalam ruang lingkup militer, tetapi juga sosial dan ekonomi. Terutama pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump.
Teranyar, publik Iran dibikin marah lantaran akun resmi Tim Nasional Amerika Serikat di media sosial, baik Twitter, Facebook, maupun Instagram, mengunggah bendera yang salah. Bendera yang diunggah adalah bendera berwarna hijau, putih, dan merah, tanpa simbol Republik Islam Iran di bagian tengahnya.
Di lain sisi, di kubu Iran sendiri terpantik friksi. Para pemain ikut menunjukkan kemarahan atas sikap pemerintah Iran yang dinilai kelewat keras kepada rakyatnya sendiri. Puncaknya adalah kematian Mahsa Amini, perempuan yang ditangkap dan –kemudian diduga– mendapat siksaan berat dari polisi moral Iran lantaran busananya. Jilbab yang dikenakan Amini dianggap “tidak sesuai standar”.
Kematian Amini memunculkan gelombang protes besar-besaran di Teheran dan kota-kota lain di Iran. Beberapa di antaranya berujung pada kerusuhan. Pemain Tim Nasional Iran sendiri mewujudkan protes dengan menolak menyanyikan lagu kebangsaan mereka di laga perdana melawan Inggris.
“Mungkin karena itu jugak, lah, Iran kenak bante Inggris 6-2, ya” ucap Tok Awang sembari merajang cabai dan bawang. Sejumlah remaja siswa SMA masuk kedai dan memesan mi instan kuah. “Nyanyi lagu kebangsaan itu sakral. Kalok lagu kebangsaan sendiri pun sudah diboikot, macam mana pulak lagi ceritanya mau semangat main.”
Pendapat Tok Awang langsung disambar Leman Dogol. “Iya, pas lawan Wales udah nyanyi orang tu, Tok, dan menang. Cantik kali pulak mainnya,” katanya sembari menggeser poin. Pergeseran sederhana ini membuka jalan bagi gajah untuk mengancam raja pada papan yang dimainkan Jek Buntal. “Skak!”
Mak Idam yang menonton pertandingan catur ini bersama Jontra Polta turut menimpali.
“Iran ini elite di Asia tapi kalok untuk urusan piala dunia sebenarnya kacang-kacang saja. Lima kali ikut piala dunia sebelumnya, gak sekali pun bisa lolos dari grup. Kebanyakan jadi juru kunci pulak. Begitu pun, Iran pernah mengejutkan. Tahun 1998 digulung orang tu Amerika yang lebih diunggulkan.”
Iran pertama kali lolos ke putaran final Piala Dunia pada 1978. Satu grup dengan Peru, Belanda, dan Skotlandia, Iran menelan dua kekalahan (masing-masing 1-4 atas Peru dan 0-3 dari Belanda) dan hanya mampu satu kali bermain imbang.
Setelah itu, mereka berhasil lolos empat kali lagi, dan penampilan paling lumayan adalah pada Piala Dunia 1998 di Perancis dan di Rusia 20 tahun berselang. Di kedua piala dunia ini Iran terhenti di posisi tiga.
Namun di Perancis, lah, mereka mencatat sejarah. Iran untuk kali pertama mencatat kemenangan, dan kemenangan ini diraih dari Amerika Serikat, negara yang selama bertahun-tahun menjadi “musuh”. Berlaga di Stade de Gerland, Lyon, 22 Juni, di hadapan hampir 40 ribu penonton yang sebagian besar merupakan suporter Amerika Serikat, Iran menang 2-1.
“Satu nama yang paling aku ingat dari Iran, dari dulu sampai sekarang, adalah Ali Daei. Ada Mehdi Mahdavikia, ada juga Karim Bagheri dan Khodadad Azizi, tapi Ali Daei yang paling melekat di hati,” ucap Mak Idam lagi, lalu terkekeh.
“Apalagi waktu dia kemudian pindah ke Bayern Munchen, ya,” sambung Jek Buntal. “Ada rasa-rasa bangga gitu. Biar pun bukan dari Indonesia, ya, paling enggak ada orang Asia yang main di Munchen.”
Ali Daei tidak melesakkan gol di pertandingan itu. Gol-gol Iran dicetak Hamid Reza Estili dan Mehdi Mahdavikia. Namun performa yang ditunjukkan Daei sepanjang laga terbilang istimewa. Dia terus berlari dan menebar ancaman ke jantung pertahanan Amerika Serikat.
“Pas lawan Wales kemarin, nengok Iran main cantik kayak gitu, aku jadi teringat Iran di eranya Ali Daei. Main rapi dan tajam. Iran mestinya menang tiga kosong kalok enggak gara-gara VAR,” kata Mak Idam.
“Jadi menurut Mamak cemana? Bisa Iran menang lagi sama Amerika?” tanya Jontra Polta. “Kalok di catatanku, agak tinggi jugak yang pegang Amerika ini.”
Mak Idam, juga Jek Buntal dan Tok Awang yang ikut terkenang-kenang pada Ali Daei dan pasukan Iran 1998, menempatkan Iran sebagai unggulan. Pun Zainuddin yang belum lama tiba dan langsung nimbrung obrolan.
“Secara teknis, Iran sekarang cukup bagus,” ucapnya. Hal lain, bilang Zainuddin, ada faktor politik yang mengiringi. “Selalu ada motivasi tersendiri bagi Iran, atau negara-negara lain yang bermasalah secara politik dengan Amerika Serikat, ketika mereka saling berhadapan di arena olahraga.”
Alasan serupa dikedepankan Zainuddin kala ia lebih menjagokan Wales ketimbang Inggris. Menurut Zainuddin, meski peluang Wales untuk lolos ke 16 besar tinggal setipis kulit bawang, tidak akan membuat semangat pemain luntur. Justru sebaliknya, akan makin menggebu.
“Peluang Wales belum tertutup rapat. Setidaknya kalau mereka menang tiga gol, mereka bisa lolos sebagai runner up grup,” ujarnya.
Jek Buntal tertawa. “Walah, Pak Guru yakin kali. Inggris, lho, itu, bukan kaleng-kaleng. Sejelek-jeleknya Inggris, kurasa berat mereka kalah tiga dari Wales.”
“Iya, Pak Guru,” sambung Mak Idam. “Kan, bukan cumak Wales yang merasa pertandingan ini jadi marwah. Inggris jugak kayak gitu.”
Ocik Nensi yang baru mengantar pesanan mi instan kuah, sembari menekan-nekan tombol remote control televisi, melontar kalimat.
“Eh, teringatku, Perdana Menteri Inggris itu baru, ya. Kutengok pas ketemu Pak Jokowi di KTT G-20 kemarin. Agak tampan kutengok.”
“Iya, Cik, ada keturunan India dia,” jawab Jontra Polta.
“Wah, pantes! Apa masih ada hubungan saudara sama Shah Rukh Khan?” (t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/iran5.jpg)