Breaking News:

News Video

Umar Patek Bebas dari Penjara, Narapidana Kasus Bom Bali 1 yang Dapat Program Pembebasan Bersyarat

Koordinator Humas dan Protokol Ditjenpas Kementerian Hukum dan HAM, Rika Aprianti menjelaskan maksud program Pembebasan Bersyarat.

Editor: Bobby Silalahi

TRIBUN-MEDAN.COM - Narapidana kasus Bom Bali 1 Hisyam bin Alizein alias Umar Patek bebas dari penjara, Rabu (7/12/2022).

Ia menghirup udara bebas setelah mendapat program Pembebasan Bersyarat (PB) dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

Meski dinyatakan bebas, Umar Patek harus mengikuti program bimbingan hingga 2030.

Koordinator Humas dan Protokol Ditjenpas Kementerian Hukum dan HAM, Rika Aprianti menjelaskan maksud program Pembebasan Bersyarat.

Menurut Rika, program tersebut berhak diberikan kepada seluruh narapidana yang telah memenuhi syarat administratif dan substansif.

Di antaranya sudah menjalankan dua pertiga masa pidana, berkelakuan baik, dan telah mengikuti program pembinaan.

Terkait bebasnya Umar Patek, Rika mengatakan bahwa narapidana tersebut telah memenuhi persyaratan khusus.

Peryaratan yang dimaksud yakni telah mengikuti program pembinaan deradikalisasi dan telah berikrar setia kepada NKRI.

Namun, Umar Patek masih wajib mengikuti program bimbingan hingga 29 April 2030.

"Dan mulai hari ini sudah beralih status dari narapidana menjadi Klien Pemasyarakatan Bapas Surabaya dan wajib mengikuti program pembimbingan sampai dengan 29 April 2030," kata Rika.

Jika terjadi pelanggaran sebelum waktu tersebut, maka hak bersyarat Umar Patek akan dicabut.

Dikutip dari TribunJatim.com, Umar Patek merupakan terpidana kasus Bom Bali 1 tahun 2002.

Ia adalah anggota Jemaah Islamiyah yang kala itu juga diburu sejumlah negara karena terlibat aksi teror.

Di antaranya Filipina, Australia, hingga Amerika Serikat (AS).

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved