Piala Dunia di Kedai Tok Awang
Emak-emak Pemain Maroko, Tangis Ronaldo dan Ejekan Tango
Laju Tim Nasional Maroko belum terhenti. Mereka kini jadi negara Afrika pertama yang masuk semi final piala dunia. Apakah lantaran kekuatan doa ibu?
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Laju Maroko di Piala Dunia 2022 belum terhenti. Setelah melewati Spanyol di fase 16 besar, di babak perempat final mereka menggasak raksasa yang lain, Portugal.
Apakah mengejutkan? Tentu saja apabila tolok ukurnya adalah sekadar nama. Siapalah Maroko dibanding Spanyol dan Portugal, atau Prancis yang akan jadi lawan mereka di semi final. Namun jika parameternya hitung-hitungan teknis, apa yang ditunjukkan Maroko jadi tidak terlalu mengejutkan.
“Sampek di perempat final, Maroko, sama Inggris, sekali pun nggak pernah kalah. Maroko sapu bersih semua pertandingan kualifikasi, cumak satu kali imbang dari delapan laga. Jadi artinya, orang ni sebenarnya enggak ada lemah-lemahnya. Sebaliknya, justru kuat kali. Makanya kalok, lah, betul isu-isu yang beredar, agak konyol kurasa Spanyol lebih milih Maroko daripada main sama Kroasia,” kata Mak Idam yang masih belum bisa meredakan kekesalan dengan kekalahan Spanyol.
Leman Dogol menyambung pendapat Idam. Ia bahkan menyebut, stempel ‘Kuda Hitam’ untuk Maroko sama sekali tidak tepat.
“Kalok , misalnya, Qatar, atau Saudi, atau katakanlah Kanada yang maju ke semi final, itu baru cocok disebut ‘Kuda Hitam’. Baru cocok dibilang kejutan besar. Maroko nggak cocok. Orang tu sebenarnya justru lebih pas masuk di kelompok unggulan, walau pun di pinggir-pinggirnya,” ujarnya.
Sebagian besar isi skuat Maroko merupakan pemain-pemain yang merumput untuk klub di liga-liga top Eropa. Bukan sekadar pemain yang memakai jersey lalu lebih banyak duduk di bangku cadangan, melainkan pemain yang betul-betul punya peran.
Sebutlah nama Achraf Hakimi di Paris Saint Germain, Yassine Bounou di Sevilla, atau Romain Saiss di Bersiktas. Sebelumnya, Saiss, bertualang selama enam musim di Liga Inggris bersama Wolverhampton Wonderers.
Ada juga Hakim Ziyech di Chelsea, Sofiane Boufal di Osasuna, Noussair Mazraoui di Bayern Munchen, Youssef En-Nesyri di Sevilla, dan Sofyan Amrabat di Fiorentina. Ambarat sejauh ini tampil ciamik, dan Fiorentina, yang sepertinya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk meraup untung, segera membanderolnya dengan harga tak kurang dari 30 juta euro.
Dari 26 pemain yang dibawa Walid Regragui ke Qatar, hanya tiga yang bermain di klub liga lokal. Ketiganya berasal dari satu klub, Wydad Athletic Club (AC), klub papan atas Maroko yang berkedudukan di Kota Casablanca. Satu di antara pemain ini, Yahya Attiat-Allah, yang berposisi bek kiri kerap masuk jajaran starting line up.
Dengan kata lain, skuat Maroko bukanlah sebangsa pemain-pemain yang "lugu". Sebaliknya mereka adalah pemain-pemain yang sudah terbiasa merasakan atmosfer pertandingan sepak bola tingkat tinggi.
"Sejak lima tahun belakangan performa Maroko ini termasuk stabil. Di Piala Afrika, lah, contohnya, tiga edisi terakhir selalu lolos penyisihan. Tahun 2021 sampek perempat final, kalah perpanjangan waktu dari Mesir," ucap Jontra Polta.
Sudung, yang entah lantaran angin apa tiba-tiba menantang Tok Awang bermain catur, melempar celetukan, menyinggung perihal video dan foto-foto yang sedang viral.
"Awak gak gampang terharu orangnya, tapi nengok pemain-pemain Maroko sama emak-emak orang tu, sempat menetes jugak air mata awak. Dan gak cumak pemainnya, pelatihnya jugak gitu. Abis pertandingan, lari dia ke tribun penonton, dipeluknya emaknya yang nonton di sana. Kalok menurut Bang Jon ada nggak pengaruhnya ini sama permainan Maroko?”
Apa yang ditunjukkan pemain-pemain Tim Nasional Maroko di Piala Dunia 2022 memang jadi anomali. Biasanya, yang jadi pemandangan umum di tribun-tribun penonton pada tiap penyelenggaraan turnamen besar (entah itu Piala Dunia atau Piala Eropa atau Liga Champions), adalah para WAGS atawa Wife and Girl Friends; istri dan kekasih para pemain. Perempuan-perempuan serba cantik (bahkan untuk ukuran perempuan cantik) berlatar belakang model atau penyanyi atau bintang film, atau barangkali “perempuan biasa” tapi sungguh tiada kalah memukau.
Maroko tidak. Di tribun penonton, yang hadir adalah orang tua mereka. Terutama sekali ibu-ibu mereka. Para ibu ini, yang tidak berpenampilan glamour, yang boleh jadi juga tidak paham-paham betul soal sepak bola, tak peduli siapa yang jadi lawan Sang Singa Atlas –julukan Tim Nasional Maroko. Kanada, Belgia, Kroasia, Spanyol, Portugal, dan nanti Prancis. Mereka tak peduli. Sama sekali tidak. Sepanjang pertandingan, yang mereka lakukan adalah menengadahkan tangan, berdoa, untuk keselamatan anak-anaknya.
"Tidak ada yang lebih mustajab dari doa ibu,” kata Tok Awang sembari menggeser gajah untuk mengancam menteri Sudung. “Sejauh ini, Tuhan mengabulkan doa mereka."
“Tapi, Tok, apa orang tua pemain-pemain Portugal enggak berdoa? Kurasa mamaknya Ronaldo jugak berdoa. Mamaknya Sergio Busquets pun rasa-rasanya gak mungkin gak berdoa, tapi Spanyol kalah jugak,” kata Mak Idam.
Tok Awang tertawa. “Alamak, kok, jadi serius kali kau, Dam. Yang aku bilang, kan, cumak asumsi. Perkara Maroko menang karena doa mamak-mamak pemain dikabulkan atau enggak, itu urusan Tuhan, lah. Poinnya lebih ke soal WAGS versus mamak-mamak ini,” ucapnya.
Pembahasan terkait doa ibu ini mungkin saja potensial memanjang jika saja Lek Tuman, yang baru tiba di kedai bersama Ane Selwa [keduanya langsung duduk di sisi Sudung dan Tok Awang dan memposisikan diri sebagai sekondan], tidak sekonyong-konyong menyinggung perihal sikap Cristiano Ronaldo yang ngeloyor pergi begitu wasit meniup pluit panjang tanda laga kontra Maroko berakhir.
"Sebagai kapten harusnya nggak boleh gitu dia. Kawan-kawannya pada nangis di lapangan dia malah pergi. Malah nangis sendirian di ruang ganti. Kan, lebih seru kalok nangis rame-rame gitu," ujarnya.
Piala Dunia 2022 kemungkinan menjadi piala dunia terakhir bagi Ronaldo. Tatkala Piala Dunia mendatang yang digelar di Jerman, usianya sudah 41. Memang, sejarah mencatat ada setidaknya lima pemain yang masih berlaga di piala dunia pada usia kepala empat.
Pat Jennings, kiper Irlandia Utara, bermain di Piala Dunia Meksiko 1986 saat berusia 41. Kemudian ada Roger Milla dari Kamerun. Milla bermain di Piala Dunia Amerika Serikat 1994 di usia 42 tahun 39 hari. Lalu tercatat Faryd Mondragon dari Kolombia yang berusia 43 tahun 3 hari di Piala Dunia 2014, dan Essam El Hadary, pemain Tim Nasional Mesir. Dia datang ke Rusia pada usia 45 tahun 161 hari.
Dari empat pemain ini, tiga di antaranya berposisi penjaga gawang, dan hanya Jenning pula yang tidak berstatus cadangan. Lima pertandingan Kolombia di Brasil 2014, Mondragon tidak pernah bermain. Gawang Kolombia dikawan David Ospina.
Essam El Hadary sedikit lebih lumayan. Dia tampil di pertandingan ketiga Mesir kontra Arab Saudi yang sudah tidak menentukan lagi. Pun Roger Milla. Ia masuk sebagai pemain pengganti di pertandingan kedua Kamerun kontra Brasil serta laga pamungkas versus Rusia.
Milla melesakkan satu gol ke gawang Rusia, sekaligus mencatatkan namanya di buku rekor sebagai satu di antara pemain tertua yang berhasil membukukan gol di piala dunia.
"Masalahnya, mau nggak Ronaldo di Jerman nanti cumak duduk di bangku cadangan. Kalok pun mau, ada jaminan enggak mukaknya enggak perengat-perengut kayak waktu dicadangkan Santos pas Portugal lawan Swiss dan Maroko kemarin," ujar Leman Dogol.
"Kayaknya Ronaldo udah sadar jugak ini piala dunianya yang terakhir, Mak," sahut Mak Idam. "Kesempatannya yang terakhir untuk angkat tropi piala dunia sudah tertutup. Makanya nangis kayak gitu dia."
"Iya, apalagi Messi masih ada peluang, ya," timpal Sudung pula. "Maksudku gini. Kalok, lah, Argentina bisa juara, makin kentara, lah, kekalahan dia dari Messi. Udah Ballon d’Or kalah, tropi turnamen besar jugak kalah. Bisa luntur gelar GOAT-nya."
Argentina "masih hidup" di Piala Dunia. Di perempat final, mereka menekuk Belanda dalam duel yang panas. Setidaknya ini tergambar dari jumlah kartu yang dikeluarkan wasit: 14 kartu kuning ditambah 1 kartu merah. Argentina diganjar 8 kartu kuning, termasuk untuk Lionel Messi.
Namun kontroversi terbesar terjadi di penghujung laga. Persisnya pascakeberhasilan Lautaro Martinez melesakkan bola dalam eksekusi penalti ke gawang Andries Noppert. Argentina menang 4-3 dan para pemainnya, khususnya yang berada di barisan eksekutor, berlari sembari melempar ejekan kepada pemain-pemain Belanda yang sedang bersedih. Sebelumnya, Messi juga melakukan selebrasi ‘mana suaramu’ di depan bench Belanda.
Gestur-gestur ini dianggap sebagai tindakan tidak sportif. Mestinya, dalam situasi sepanas apapun, respek terhadap lawan tetap harus diapungkan. Apalagi, mencuat pula isu, bahwa Messi meneriakkan kata ‘idiot’ kepada Louis van Gaal.
“Mau betumbuk akhirnya orang tu. Harusnya gak boleh, lah, kayak gitu pulaknya. Van Gaal itu orang tua, kurasa lebih tua pun dari Tok Awang,” ucap Ane Selwa.
Tok Awang, yang baru saja menuntaskan Sudung untuk kali ketiga, tersenyum lebar, lalu bilang, “Sepak bola itu dinamika 45 menit kali dua, selebihnya kita adalah saudara. Tapi rupa-rupanya, makin ke sini, filosofi ini makin ditinggalkan. Nggak tahu kenapa. Atau cobak kau cek dulu, Ne, jangan-jangan, di antara pemain-pemain Argentina yang tanding lawan Belanda semalam, ada yang pernah datang ke Indonesia dan sempat nonton pertandingan tarkam.” (t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/dancingqueen.jpg)