Breaking News:

Saham

10 Rekomendasi Trading Saham Selama Sepekan Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan terakhir melanjutkan pelemahan sebesar -0,6 persen dengan pelemahan terdalam

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
ilustrasi 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Tertopang sentimen domestik dan eksternal. Equity Analyst Indo Premier Sekuritas Mino merekomendasikan buy untuk trading selama sepekan mendatang hingga Jumat (20/1/2023) pada saham-saham berikut, antara lain 

TLKM (Support: 3,670, Resistance: 3,880),  SMGR (Support: 6,950, Resistance: 7,450), INTP (Support: 10,000, Resistance: 10,525), JSMR (Support: 3,050, Resistance: 3,290), SCMA (Support: 200, Resistance: 230), MAPI (Support: 1,250, Resistance: 1,370).

ANTM (Support: 2,000, Resistance: 2,300), MDKA (Support: 4,290, Resistance: 4,660), ICBP (Support: 10,150, Resistance: 10,800) dan CPIN (Support: 6,000, Resistance: 6,425).

Dikatakannya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan terakhir melanjutkan pelemahan sebesar -0,6 persen dengan pelemahan terdalam di sektor konsumer non-primer.

Adapun sektor penopang market terkuat pekan lalu yakni sektor teknologi sebesar 3.0 persen.

"Di minggu lalu market masih cukup tertekan, tidak lepas dari berlanjutnya aksi jual investor asing, terutama di sektor perbankan yang menjadi salah satu sektor yang masih tertekan," ujarnya, Senin (16/1/2023). 

Selain itu, imbuhnya, harga batubara mulai bergerak turun. Ini cukup menjadi sentimen negatif. Selama sepekan batu bara mengalami penurunan hingga -8 persen seiring adanya kekhawatiran terhadap prospek naiknya pasokan. 

Baca juga: 6 Rekomendasi Saham Pekan Ini, IHSG Melemah Justru Potensi Cuan

"China sebagai negara konsumen terbesar batu bara telah mengizinkan tiga pemerintah daerah yang menjadi pusat produksi logam untuk kembali mengimpor batu bara asal Australia setelah pada akhir tahun 2020 secara tidak resmi melarang impor dari negara tersebut," terangnya.

Sementara itu untuk pergerakan saham pada pekan ini cenderung positif, lanjutnya, dengan sentimen pergerakannya berasal dari faktor domestik dan eksternal.

Dari sisi domestik ada sentimen neraca perdagangan, suku bunga acuan dan pertumbuhan kredit perbankan, sementara itu sisi eksternal ada sentimen penjualan ritel, data perumahan, klaim pengangguran mingguan dan dimulainya musim laporan keuangan.

"Pada Desember neraca perdagangan diprediksi akan kembali mencatatkan surplus sebesar US$4.01 miliar. Jika sesuai dengan ekspektasi maka di sepanjang tahun lalu neraca perdagangan tercatat surplus US$55 miliar atau tumbuh 54 persen yoy," tandas Mino. 

Terkait suku bunga acuan, menurut konsensus Bank Indonesia pada pertemuan 19 Januari 2023 akan kembali menaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5.75 persen.

Terkait pertumbuhan kredit perbankan, aktivitas ekonomi yang terus bergeliat diprediksi akan menjadi katalis utama bagi penyaluran kredit perbankan.

Baca juga: Bank Sumut IPO, Prospek Kinerja Saham Diperkirakan Bagus

Apalagi, Bank Indonesia sendiri pada tahun ini memprediksi akan tumbuh di kisaran 10-12 persen.

Sementara itu dari faktor eksternal yang menjadi sentimen utamanya fokus ke laporan keuangan dan klaim pengangguran mingguan.

Beberapa emiten besar akan merilis laporan keuangannya mulai dari Morgan Stanley, Goldman Sach Group Inc, Procter and Gamble Co hingga Netflix. Ini akan menjadi salah satu penentu pergerakan market pekan ini.

"Dalam tiga minggu terakhir klaim pengangguran mingguan terpantau mengalami penurunan sehingga menghilangkan kekhwatiran investor terhadap peluang terjadinya hard landing ekonomi Amerika," pungkasnya.

(cr9/Tribun-Medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved